MAKALAH
TAFSIR HADIS TARBAWI
Makalah ini
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Tafsir Tarbawi yang diampu oleh Bapak Abdulloh Ma’sum.. S.Pd.I Alh
Tafsir Tarbawi yang diampu oleh Bapak Abdulloh Ma’sum.. S.Pd.I Alh
Disusun Oleh :
Nam
: Aola Azqiya
NIM :
2015010141
Kelas : PAI 4
E
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN (FITK)
UNIVERSITAS SAINS AL-QUR’AN (UNSIQ)
JAWA TENGAH DI WONOSOBO
2017
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kita panjatkan atas kehadirat Allah SWT atas curahan nikmat dan
karunia-Nya yang selalu terlimpah didalam hidup kita. Shalawat serta salam semoga tetap terlimpahkan kepada Rasulullah SAW
yang kita nantikan syafa’at-Nya di akhir nanti. Dan tidak lupa saya ucapkan banyak terimakasih kepada Bapak Abdulloh Ma’sum S.Pd.I Alh.
selaku dosen mata kuliah Tafsif Hadits Tarbawi.
Materi yang akan di bahas dalam makalah
ini adalah tentang. Tarbiyah Materi ini di bahas untuk memberikan
penjelasan secara detail dan juga guna memenuhi tugas mata kuliah Tafsif Hadits Tarbawi, dengan harapan akan mendapat nilai yang
bagus, serta ilmu yang barokah dan manfaat.
Dalam penyusunan Tugas
ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi, baik yang datang dari penulis
maupun dari luar. Penulis berusaha menyajikan hasil tugas ini dengan sebaik mungkin, sehingga
dapat menambah pengetahuan dan bermanfaat bagi pembaca. Penulis sadar bahwa hasil
dari tugas ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para
pembaca agar
lebih baik lagi.
Penulis
Wonosobo, 5 Mei 2017
TARBIYAH
A. Tarbiyah dalam Al-Fatihah Ayat 2
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (2
“Segala puji
bagi Allah, Tuhan semesta alam” (Q.S. Al-Fatihah:2)
Secara umum kata tarbiyat dapat
dikembalikan kepada tiga kata kerja yang berbeda. Pertama, kata raba-yarbu ( ﺭﺑﺎ - ﻳﺮﺑﻮ ) yang berarti
berkembang nama-yanmu ﳕﺎ-ﻳﻨﻤﻮ ). ( Kedua
rabiya-yarba ( ﺭﰊ -ﻳﺮﰊ ) yang bermakna tumbuh. Ketiga, rabba-yarubbu ( ﺭﺏ -ﻳﺮﺏ ) berarti memperbaiki, mengurus, memimpin, menjaga, dan memeliharanya atau mendidik.
Secara etimologis,
kata tarbiyat berasal dari kata ﺭﺑﺎ - ﺭﺑﻮﺍ ﻭ
ﺭﺑﺎﺀ – ﻳﺮﺑﻮ
kemudian lafal ini dirubah ke dalam tsulatsi mazid pola ﻓﻌـﻞ ﻳﻔﻌـﻞ ﺗﻔﻌﻴـﻼ maka kata itu menjadi ﺭﺑﻲ- ﻳﺮﺑﻲ -ﺗﺮﺑﻴـﺔ.
Sedangkan dalam surah Al-Fatihah,رب idzafah kepada ﺍﻟﻌﺎﳌﲔ, ini menunjukkan
bahwa tarbiyat digunakan bagi semua makhluk Allah meliputi manusia, binatang
serta tumbuhan dan lain-lain.
Dari kitab al-Mu’jam al-Mufahras li Alfazh al-Hadits al-Nabawi karya Muhammad Fuad al-Baqi (1992:362-380) terdapat 952 kata ﺭﺏ dalam
al-Quran
B.
Kemiripan Surat Al-Fatihah Ayat 2 dengan ayat-ayat
Al-Qur’an Lainnya.
-
Al-Isra’ ayat 24
واخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ
رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا(24)
“Dan rendahkanlah
dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “wahai
Tuhanku kasihilah mereka keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku
waktu kecil”
Ahli tafsir lain, al-Maraghi menjelaskan
bahwa ﺭﺑﻴـﺎ ﱐ berarti,
orang tua itu senantiasa dalam mendidik anaknya penuh kasih sayang yang sempurna, telaten dan
bertanggungjawab. Selanjutnya al-Maraghi (1988, I: 30) menjelaskan bahwa ﺗﻨﻤﻴـﺔ
/ ﺗﺮﺑﻴـــﺔ
itu ada 3 (tiga) macam, pertama ﺗﺮﺑﻴـــﺔ ﺍﻷﺟﺴـــﺎﻡ (pendidikan fisik/jasmani), kedua ﺗﺮﺑﻴـﺔ ﺍﻟﻌﻘﻞ (pendidikan akal/mental), dan ketiga ﺗﺮﺑﻴـﺔ ﻗﻮﻯ ﺍﻟﻨﻔـﺲ (pendidikan ruh/kejiwaan). Hal ini diperkuat
oleh ahli tafsir lain, al-Wadhih bahwa kedua orang tua itu telah mendidik anak
di waktu kecil. Dilihat dari konteksnya,
lafal ﺭﺑﻴــﺎﱐ dihubungkan dengan ﺻــﻐﲑﺍ , ini menunjukkan bahwa tarbiyat
di sini digunakan bagi anak kecil.
Secara struktur (morfologi dan sintaksis),
mashdar dari ﺭﺑﻲ adalah
, ﺗﺮﺑﻴـﺔ begitu juga mashdar ﹼﳕﻲ
adalah ﺗﻨﻤﻴـﺔ keduanya mengikuti pola ﺗﻔﻌﻴﻞ. Lafal di atas menunjukkan satu objek, yaitu
‘aku’. Ini menunjukkan bahwa tarbiyat penekannnya pada pengembangan individu
dan yang dikembangkan bersifat kompleks.
-
Al-An’am Ayat 83
وَتِلْكَ حُجَّتُنَا آتَيْنَاهَا إِبْرَاهِيمَ عَلَى
قَوْمِهِ نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَنْ نَشَاءُ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ (83)
“dan itulah
hujjah Kami yang Kami berikan kepada ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Dan Kami
tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha
Bijaksan lagi Maha Mengetahui”
Al-Maraghi menerangkan ungkapan ‘rab’ di sini memberi isyarat
bahwa hal tersebut bersumber dari yang Maha Pengatur / pendidik yang mengembangkan
fisik dan mental. Dan al-Maraghi
menjelaskan bahwa tarbiyat itu berarti mendidik, mengajar, dan menunjukkan/membimbing
atau memberi petunjuk,
-
Al-An’am Ayat 104
قَدْ جَاءَكُمْ بَصَائِرُ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ أَبْصَرَ فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ
عَمِيَ فَعَلَيْهَا وَمَا أَنَا عَلَيْكُمْ بِحَفِيظٍ (104
“sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu Bukti-bukti yang
terang, maka barang siapa telah melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi
dirinya sendiri, dan barang siapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka
kemudhorotannya kembali kepadanya. Dan aku (Muhammad)sekali-kali bukanlah
pemelihara(mu)”
Al-Maraghi
menjelaskan bahwa cakupan pendidikan itu meliputi, fisik, perasaan, akal/intelektual,
dan bakat/potensi, jiwa, sehingga mencapai kesempurnaan
kemanusiaannya menurut pandangan Allah swt. Kemudian dia menjelaskan bahwa tujuan pendidikan itu
untuk memberi kesenangan dan kemuliaan antara guru-murid tanpa ada batas.
C. Hadits Penguat
1.
حدثنا وكيع عن حماد عن ثابت عن أبي رافع عن أبي هريرةعن النبي
صلى الله عليه وسلم قال خرج رجل من قريته يزور أخا له في قرية أخرى فأرصد الله له ملكا
فجلس على طريقه فقال له أين تريد قال أريد أخا لي أزوره في الله في هذه القرية قال
له هل له عليك من نعمة تربها قال لا ولكني أحببته في الله عز وجل قال فإني رسول
ربك إليك أنه قد أحبك بما أحببته فيه
“Telah menceritakan kepada kami
[Waki'] dari [Hammad] dari [Tsabit] dari [abu Rafi'] dari [Abu Hurairah] dari
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Seorang lelaki keluar
dari kampungnya menziarahi saudaranya yang berada ada di kampung lain, lalu
Allah mengamatinya dengan mengutus seorang malaikat, malaikat tersebut kemudian
duduk di jalan yang ia lewati seraya bertanya kepadanya; 'Mau kemanakah engkau?
' maka ia menjawab; 'Aku ingin pergi menziarahi saudaraku di kampung ini karena
Allah, ' malaikat berkata kepadanya; 'Apakah karena ia mempunyai nikmat (harta)
yang ada bersamamu dan sedang engkau pelihara? ' ia menjawab; 'Tidak,
akan tetapi aku mencintainya karena Allah 'azza wajalla, ' maka malaikat
berkata; 'Sesungguhnya aku adalah utusan Rabbmu yang diutus kepadamu
mengabarkan bahwa Ia mencintaimu karena engkau mencitai saudaramu karena
Allah.” (H.R. ABUHURAIRAH: 9858)
Pada kata yang cetak tebal تربها dalam hadis ini mempunyai arti pelihara
2.
أَخْبَرَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ أَنْبَأَنَا
جَرِيرٌ عَنْ ابْنِ شُبْرُمَةَ قَالَقَالَ طَلْحَةُ لِأَهْلِ الْكُوفَةِ فِي النَّبِيذِ
فِتْنَةٌ يَرْبُو فِيهَا الصَّغِيرُ وَيَهْرَمُ فِيهَا الْكَبِيرُ قَالَ وَكَانَ
إِذَا كَانَ فِيهِمْ عُرْسٌ كَانَ طَلْحَةُ وَزُبَيْدٌ يَسْقِيَانِ اللَّبَنَ وَالْعَسَلَ
فَقِيلَ لِطَلْحَةَ أَلَا تَسْقِيهِمُ النَّبِيذَ قَالَ إِنِّي أَكْرَهُ أَنْ يَسْكَرَ
مُسْلِمٍ فِي سَبَبِي
“Telah mengabarkan kepada kami
[Ishaq bin Ibrahim] ia berkata; telah memberitakan kepada kami [Jarir] dari
[Ibnu Syubrumah] ia berkata, " [Thalhah] berkata kepada penduduk Kufah,
"Pada perasan nabidz terdapat fitnah; ia akan membuat orang yang
muda tampak tua, dan membuat orang yang tua tampah renta." Ibnu Syubrumah
berkata, "Jika di antara mereka mengadakan pesta pernikahan, maka Thalhah
dan Zubaid hanya menuang susu dan madu. Lalu dikatakan kepada Thalhah,
"Kenapa engkau tidak menuang perasan nabidz untuk mereka?" ia
menjawab, "Aku tidak ingin seorang muslim mabuk karena aku."
Pada hadits di atas kata يَرْبُو diartikan sebgai membuat.
3.
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي زِيَادٍ
الْقَطَوَانِيُّ الْكُوفِيُّ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا
غَالِبٌ أَبُو بِشْرٍ عَنْ أَيُّوبَ بْنِ عَائِذٍ الطَّائِيِّ عَنْ قَيْسِ بْنِ
مُسْلِمٍ عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ عَنْ كَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ قَالَقَالَ لِي
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُعِيذُكَ بِاللَّهِ يَا
كَعْبَ بْنَ عُجْرَةَ مِنْ أُمَرَاءَ يَكُونُونَ مِنْ بَعْدِي فَمَنْ غَشِيَ
أَبْوَابَهُمْ فَصَدَّقَهُمْ فِي كَذِبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ
فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ وَلَا يَرِدُ عَلَيَّ الْحَوْضَ وَمَنْ غَشِيَ
أَبْوَابَهُمْ أَوْ لَمْ يَغْشَ فَلَمْ يُصَدِّقْهُمْ فِي كَذِبِهِمْ وَلَمْ
يُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَهُوَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ وَسَيَرِدُ عَلَيَّ
الْحَوْضَ يَا كَعْبَ بْنَ عُجْرَةَ الصَّلَاةُ بُرْهَانٌ وَالصَّوْمُ جُنَّةٌ
حَصِينَةٌ وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ
يَا كَعْبَ بْنَ عُجْرَةَ إِنَّهُ لَا يَرْبُو لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ
سُحْتٍ إِلَّا كَانَتْ النَّارُ أَوْلَى بِهِقَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ
حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ عُبَيْدِ
اللَّهِ بْنِ مُوسَى وَأَيُّوبُ بْنُ عَائِذٍ الطَّائِيُّ يُضَعَّفُ وَيُقَالُ كَانَ
يَرَى رَأْيَ الْإِرْجَاءِ وَسَأَلْتُ مُحَمَّدًا عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ فَلَمْ
يَعْرِفْهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ مُوسَى وَاسْتَغْرَبَهُ
جِدًّا و قَالَ مُحَمَّدٌ حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ
مُوسَى عَنْ غَالِبٍ بِهَذَا
Telah menceritakan kepada kami [Abdullah bin Abu Ziyad Al Qathawani Al
Kufi] telah menceritakan kepada kami ['Ubaidullah bin Musa] telah menceritakan
kepada kami [Ghalib Abu Bisyr] dari [Ayyub bin 'A`idz Ath Tha'i] dari [Qais bin
Muslim] dari [Thariq bin Syihab] dari [Ka'ab bin 'Ujrah] dia berkata,
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda kepadaku: "Wahai Ka'ab,
saya memohon perlindungan kepada Allah untukmu dari perbuatan para penguasa
setelahku. Barang siapa yang mendatangi mereka lalu mempercayai kedustaan
mereka serta membantu mereka dalam berbuat dlalim, maka dia bukan dari
golonganku juga tidak dapat melewati Haudlku (telaga) kelak. Dan barang siapa
yang mendatangi mereka atau tidak mendatangi mereka dan tidak membenarkan
kedustaan mereka juga tidak membantu mereka dalam berbuat dlalim, maka dia
termasuk dari golonganku dan saya termasuk dari golongannya serta dapat
mendatangi Haudku (telaga) kelak. Wahai Ka'ab bin 'Ujrah, shalat merupakan
tanda keimanan, puasa ialah tameng yang kokoh, serta sedekah dapat menghapuskan
dosa sebagaimana air memadamkan api. Wahai Ka'ab bin 'Ujrah, tidaklah daging
manusia tumbuh dari barang yang haram kecuali Neraka lebih berhak
atasnya." Abu 'Isa berkata, hadits ini gharib melalui sanad ini dan tidak
kami ketahui kecuali dari haditsnya Ubaidullah bin Musa dan Ayyub bin 'A`idz
Ath Thai' dilemahkan bahkan dikabarkan dia menganut paham Murji`ah. Saya
bertanya kepada Muhammad, akan tetapi dia tidak mengetahuinya kecuali dari
hadits Ubaidullah bin Musa, bahkan hadits ini terasa asing baginya.
(HR.TIMIDZI)
4.
أَخْبَرَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ أَنْبَأَنَا
جَرِيرٌ عَنْ ابْنِ شُبْرُمَةَ قَالَقَالَ طَلْحَةُ لِأَهْلِ الْكُوفَةِ فِي النَّبِيذِ
فِتْنَةٌ يَرْبُو فِيهَا الصَّغِيرُ وَيَهْرَمُ فِيهَا الْكَبِيرُ قَالَ
وَكَانَ إِذَا كَانَ فِيهِمْ عُرْسٌ كَانَ طَلْحَةُ وَزُبَيْدٌ يَسْقِيَانِ اللَّبَنَ
وَالْعَسَلَ فَقِيلَ لِطَلْحَةَ أَلَا تَسْقِيهِمُ النَّبِيذَ قَالَ إِنِّي أَكْرَهُ
أَنْ يَسْكَرَ مُسْلِمٍ فِي سَبَبِي
Telah mengabarkan kepada kami [Ishaq bin Ibrahim] ia
berkata; telah memberitakan kepada kami [Jarir] dari [Ibnu Syubrumah] ia
berkata, " [Thalhah] berkata kepada penduduk Kufah, "Pada perasan
nabidz terdapat fitnah; ia akan membuat orang yang muda tampak tua,
dan membuat orang yang tua tampah renta." Ibnu Syubrumah berkata,
"Jika di antara mereka mengadakan pesta pernikahan, maka Thalhah dan
Zubaid hanya menuang susu dan madu. Lalu dikatakan kepada Thalhah, "Kenapa
engkau tidak menuang perasan nabidz untuk mereka?" ia menjawab, "Aku
tidak ingin seorang muslim mabuk karena aku."
5.
حدثنا موسى بن إسمعيل حدثنا حماد أخبرنا محمد بن عمرو عن
أبي سلمة عن أبي هريرةأن عمرو بن أقيش كان له ربا في الجاهلية فكره أن
يسلم حتى يأخذه فجاء يوم أحد فقال أين بنو عمي قالوا بأحد قال أين فلان قالوا بأحد
قال فأين فلان قالوا بأحد فلبس لأمته وركب فرسه ثم توجه قبلهم فلما رآه المسلمون قالوا
إليك عنا يا عمرو قال إني قد آمنت فقاتل حتى جرح فحمل إلى أهله جريحا فجاءه سعد بن
معاذ فقال لأخته سليه حمية لقومك أو غضبا لهم أم غضبا لله فقال بل غضبا لله ولرسوله
فمات فدخل الجنة وما صلى لله صلاة
Telah menceritakan kepada kami [Musa bin Isma'il], telah menceritakan
kepada kami [Hammad], telah mengabarkan kepada kami [Muhammad bin 'Amr], dari
[Abu Salamah], dari [Abu Hurairah], bahwa 'Amr bin Uqaisy dahulu memiliki harta
riba pada masa jahiliyah dan ia tidak ingin masuk Islam hingga ia
mengambil harta tersebut. Kemudian datang waktu perang Uhud, kemudian ia
berkata; dimanakah anak-anak pamanku? Mereka berkata; di Uhud. Ia berkata;
dimanakah Fulan? Mereka berkata; di Uhud. Ia berkata; dimanakah Fulan? Mereka
berkata; di Uhud. Kemudian ia memakai baju zirahnya dan menaiki kudanya
kemudian ia menuju ke arah mereka. Kemudian tatkala orang-orang muslim melihatnya
mereka berkata; menjauhlah engkau dari kami wahai 'Amr! Ia berkata; aku telah
beriman. Kemudian ia bertempur hingga terluka, kemudian ia dibawa kepada
keluarganya dalam keadaan terluka. Lalu Sa'd bin Mu'adz datang kepadanya dan
berkata kepada saudarinya; tanyakan kepadanya, apakah karena kesombongan untuk
kaumnya atau karena kemarahan untuk karena mereka atau karena kemarahan karena
Allah? Ia berkata; bahkan karena kemarahan karena Allah dan rasulNya. Kemudian
ia meninggal dan masuk Surga sementera ia belum pernah melakukan satu shalatpun
untuk Allah. (HR. Abu Dawud: 2177)
Hadits di atas pada kata ربا diartikan sebagai riba sedangkan riba secara bahasa
mempunyai makna tambahan secara mutlaq dan dalam pengertian lain secara
linguistic riba juga berarti tumbuh dan membesar
KESIMPULAN
Dilihat dari pembahasan di atas, kita bisa
menyimpulkan bahwasanya:
Ø
Menurut penafsiran surah Al-Fatihah ayat 2
yaitu Allah itu Pendidik semesta alam tak ada suatu juga dari makhluk Allah itu
terjauh dari didikan-Nya. Allah mendidik makhluk-Nya dengan seluas arti kata
itu. Sebagai pendidik, Dia menumbuhkan, menjaga, memberikan daya (tenaga) dan
senjata kepada makhluk itu guna kesempurnaan hidupnya masing-masing.
Ø
Murabbi yang hakiki yang mengembangkan jasad,
akal, dan jiwa adalah Allah swt.
Ø
Tarbiyah bertujuan untuk menyempurnakan
fitrah kemanusiaan. Memberi kesenangan
dan kemuliaan, tanpa batas sesuai syari'at Allah swt.
Ø
Tarbiah adalah proses yang dilakukan dengan
pengaturan yang bijak dan dilaksanakan
secara bertahap dari
yang mudah kepada yang sulit.
Ø
Murabbi senantiasa harus mampu dan berusaha
sekuat tenaga untuk menjaga kemurnian syari'at Allah dan melaksanakan amar
ma'ruf dan nahyi munkar.
Ø
Murabbi senantiasa harus berpegang teguh
kepada agama. selalu taat kepada Allah swt., mengajarkan ilmu dan belajar.
Ø
Tingkatan murabbi lebih tinggi dibandingkan
dengan tingkatan mua'lim dan mudaris.
Ø
Tarbiah adalah mendidik anak dengan melalui
penyampaian ilmu, menggunakan metode yang mudah diterima sehingga ia dapat
mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Ø
Tarbiyah dilakukan dengan niat taat,
beribadah kepada Allah swt. dan untuk mencapai ridha-Nya.
Ø
Tarbiyah terjadi pada diri manusia dalam
artian yang umum bagi berbagai tingkat usia; baik usia anak kecil, atau usia
selanjutnya.untuk kesempurnaan akal dan kesucian jiwa. Kata ’alamina, yang
dimaksud adalah semua apa yang ada. Biasanya lafal ‘alim tidak umum
dijamakan,’alim itu sendiri mencakup: alam manusia, alam binatang, alam
tumbuhan, dan tidak biasa dikatakan alam batu, alam tanah. Alam-alam di sini
yang mengandung makna tarbiyat (pengembangan) yang didisyaratkan oleh lafad
rabbi. Jadi, yang ada/tampak padanya, kehidupan, makan, dan berkembang biak.
Ø
Dari data Q.S.Al-Isra: 24 dapat
difahami bahwa tarbiyat berarti
menumbuhkembangkan fisik, mental, dan akal anak yang memerlukan proses dengan disertai kasih sayang yang penuh serta kelembutan hati
sampai anak itu bisa mandiri dan bisa mempertahankan diri / hidupnya di tengah
masyarakat yang heterogen. Hal ini didukung oleh al-Kasysyaf, yang menyatakan
bahwa anak harus mengasihani kedua orang tuanya dan berdo’a agar Allah
memberikan rahmat yang kekal karena mereka telah mendidiknya sejak kecil tanpa
batas
Ø
Rabba, yarbu, tarbiyah : yang memiliki
makna ‘tambah’ (Zad) dan ‘berkembang’ (nama). Pengertian ini juga didasarkan
hadis yang ada di atas. “…'Amr bin Uqaisy dahulu memiliki harta riba
pada masa jahiliyah dan ia tidak ingin masuk Islam hingga ia mengambil harta
tersebut…..” riba juga secara linguistic
memiliki arti tumbuh dan membesar sehingga dalam hal ini, artinya pendidikan
(tarbiyah) merupakan proses menumbuhkan dan membesarkan apa yang ada pada diri
peserta didik, baik secara fisik, psikis, sosial, maupun spiritual.
Ø
Rabba, yarubbu, tarbiyah : yang memiliki
makna memilihara seperti (H.R. ABUHURAIRAH: 9858). Memlihara berarti memperbaiki,
menguasai urusan, dan merawat, memperindah, meberi makan, mengasuh, tuan,
memiliki, mengatur, dan menjaga kelestarian maupun eksistensinya. Artinya
pendidikan (tarbiyah) merupakan usaha untuk mengasuh, merawat, memperbaiki dan
mengatur (memelihara) kehidupan peserta didik, agar ia dapat survive lebih baik
dalam kehidupannya. Dalam hadis memang tidak ditemukan secara khusus tentang
tarbiyah. Namun demikian, dalam hadis dijumpai istilah-istilah yang senada
dengan istilah tersebut seperti hadis-hadis yang ada di atas.
Ø
Rabba, yurbi, tarbiyah : yang memiliki
makna memebuat dalam artian, membuat menjadi besar atau dewasa dan sesuai
dengan apa yang diharapkan baik itu secara fisik, Psikis, sosial ataupun
spiritual
Sehingga, dalam artian luas Al-Tarbiyah adalah proses pengembangan,
pemeliharaan, penjagaan, pengurusan, penyampaian ilmu, pemberian petunjuk,
bimbingan, penyempurnaan, dan perasaan memiliki bagi anak didik baik jasad,
akal, jiwa, bakat, potensi, perasaan, secara berkelanjutan, bertahap, penuh
kasih sayang, penuh perhatian, kelembutan hati, menyenangkan, bijak, mudah
diterima, sehingga membentuk kesempurnaan fitrah manusia, kesenangan,
kemuliaan, hidup mandiri, untuk mencapai ridha Allah swt

Tidak ada komentar:
Posting Komentar