Kamis, 11 Mei 2017

Tarbiyah

MAKALAH
TAFSIR HADIS TARBAWI
Makalah ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Tafsir Tarbawi  yang diampu oleh Bapak Abdulloh Ma’sum.. S.Pd.I Alh

                        




  

Disusun Oleh :
Nam    :  Aola Azqiya
NIM    : 2015010141
Kelas   : PAI 4 E

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN (FITK)
UNIVERSITAS SAINS AL-QUR’AN (UNSIQ)
JAWA TENGAH DI WONOSOBO
2017



KATA PENGANTAR
            Puji syukur kita panjatkan atas kehadirat Allah SWT atas curahan nikmat dan karunia-Nya yang selalu terlimpah didalam hidup kita. Shalawat serta salam semoga tetap terlimpahkan kepada Rasulullah SAW yang kita nantikan syafaat-Nya di akhir nanti. Dan tidak lupa saya ucapkan banyak terimakasih kepada Bapak Abdulloh Ma’sum S.Pd.I Alh. selaku dosen mata kuliah Tafsif Hadits Tarbawi.
Materi yang akan di bahas dalam makalah ini adalah tentang. Tarbiyah Materi ini di bahas untuk memberikan penjelasan secara detail dan juga guna memenuhi tugas mata kuliah Tafsif Hadits Tarbawi, dengan harapan akan mendapat nilai yang bagus, serta ilmu yang barokah dan manfaat.
Dalam penyusunan Tugas ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi, baik yang datang dari penulis maupun dari luar. Penulis berusaha menyajikan hasil tugas ini dengan sebaik mungkin, sehingga dapat menambah pengetahuan dan bermanfaat bagi pembaca. Penulis sadar bahwa hasil dari tugas ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca agar lebih baik lagi.

      Penulis


Wonosobo, 5 Mei 2017




TARBIYAH
A.    Tarbiyah dalam Al-Fatihah Ayat 2

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (2
“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam” (Q.S. Al-Fatihah:2)
Secara umum kata tarbiyat dapat dikembalikan kepada tiga kata kerja yang berbeda. Pertama, kata raba-yarbu ( ﺭﺑﺎ - ﻳﺮﺑﻮ ) yang berarti berkembang nama-yanmu ﺎ-ﻳﻨﻤﻮ ). (  Kedua rabiya-yarba ( -ﻳﺮ ) yang bermakna tumbuh. Ketiga, rabba-yarubbu ( ﺭﺏ -ﻳﺮﺏ ) berarti memperbaiki, mengurus, memimpin,  menjaga, dan memeliharanya atau mendidik.
Secara etimologis, kata tarbiyat berasal dari kata    ﺭﺑﺎ - ﺭﺑﻮﺍ ﻭ ﺭﺑﺎﺀ  – ﻳﺮﺑﻮ kemudian lafal ini dirubah ke dalam tsulatsi mazid pola     ﻓﻌـﻞ ﻳﻔﻌـﻞ ﺗﻔﻌﻴـﻼ maka kata itu menjadi ﺭﺑﻲ- ﻳﺮﺑﻲ -ﺗﺮﺑﻴـﺔ.
Sedangkan dalam surah Al-Fatihah,رب  idzafah kepada ﺍﻟﻌﺎ, ini menunjukkan bahwa tarbiyat digunakan bagi semua makhluk Allah meliputi manusia, binatang serta tumbuhan dan lain-lain.
Dari kitab al-Mu’jam al-Mufahras li Alfazh al-Hadits al-Nabawi  karya Muhammad Fuad al-Baqi (1992:362-380)  terdapat 952 kata ﺭﺏ  dalam al-Quran
B.    Kemiripan Surat Al-Fatihah Ayat 2 dengan ayat-ayat Al-Qur’an Lainnya.
-        Al-Isra’ ayat 24
واخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا(24)
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “wahai Tuhanku kasihilah mereka keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”
Ahli tafsir lain, al-Maraghi menjelaskan bahwa  ﺭﺑﻴـﺎ   berarti,  orang tua itu senantiasa dalam mendidik anaknya  penuh kasih sayang yang sempurna, telaten dan bertanggungjawab. Selanjutnya al-Maraghi (1988, I: 30) menjelaskan bahwa ﺗﻨﻤﻴـﺔ  / ﺗﺮﺑﻴـــﺔ  itu ada 3 (tiga) macam, pertama ﺗﺮﺑﻴـــﺔ ﺍﻷﺟﺴـــﺎﻡ  (pendidikan fisik/jasmani), kedua ﺗﺮﺑﻴـﺔ ﺍﻟﻌﻘﻞ  (pendidikan akal/mental), dan ketiga  ﺗﺮﺑﻴـﺔ ﻗﻮﻯ ﺍﻟﻨﻔـﺲ  (pendidikan ruh/kejiwaan). Hal ini diperkuat oleh ahli tafsir lain, al-Wadhih bahwa kedua orang tua itu telah mendidik anak di waktu kecil.  Dilihat dari konteksnya, lafal ﺭﺑﻴــﺎ dihubungkan  dengan ﺻــﻐ , ini menunjukkan bahwa tarbiyat di sini digunakan bagi anak kecil. 
Secara struktur (morfologi dan sintaksis), mashdar dari ﺭﺑﻲ  adalah  , ﺗﺮﺑﻴـﺔ begitu juga mashdar   adalah ﺗﻨﻤﻴـﺔ   keduanya mengikuti pola ﺗﻔﻌﻴﻞ.  Lafal di atas menunjukkan satu objek, yaitu ‘aku’. Ini menunjukkan bahwa tarbiyat penekannnya pada pengembangan individu dan yang dikembangkan bersifat kompleks.
-        Al-An’am Ayat 83
وَتِلْكَ حُجَّتُنَا آتَيْنَاهَا إِبْرَاهِيمَ عَلَى قَوْمِهِ نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَنْ نَشَاءُ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ (83)
    “dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Dan Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksan lagi Maha Mengetahui”
            Al-Maraghi menerangkan ungkapan ‘rab’ di sini memberi isyarat bahwa hal tersebut bersumber dari yang Maha Pengatur / pendidik yang mengembangkan  fisik dan mental. Dan al-Maraghi menjelaskan bahwa tarbiyat itu berarti mendidik, mengajar, dan menunjukkan/membimbing atau memberi petunjuk,
-        Al-An’am Ayat 104
قَدْ جَاءَكُمْ بَصَائِرُ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ أَبْصَرَ فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ عَمِيَ فَعَلَيْهَا وَمَا أَنَا عَلَيْكُمْ بِحَفِيظٍ (104
sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu Bukti-bukti yang terang, maka barang siapa telah melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri, dan barang siapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudhorotannya kembali kepadanya. Dan aku (Muhammad)sekali-kali bukanlah pemelihara(mu)”
Al-Maraghi menjelaskan bahwa cakupan pendidikan itu meliputi, fisik, perasaan, akal/intelektual, dan  bakat/potensi, jiwa, sehingga mencapai kesempurnaan kemanusiaannya menurut pandangan Allah swt. Kemudian dia menjelaskan bahwa tujuan pendidikan itu untuk memberi kesenangan dan kemuliaan antara guru-murid tanpa ada batas.
C. Hadits Penguat
1.     حدثنا وكيع عن حماد عن ثابت عن أبي رافع عن أبي هريرةعن النبي صلى الله عليه وسلم قال خرج رجل من قريته يزور أخا له في قرية أخرى فأرصد الله له ملكا فجلس على طريقه فقال له أين تريد قال أريد أخا لي أزوره في الله في هذه القرية قال له هل له عليك من نعمة تربها قال لا ولكني أحببته في الله عز وجل قال فإني رسول ربك إليك أنه قد أحبك بما أحببته فيه
“Telah menceritakan kepada kami [Waki'] dari [Hammad] dari [Tsabit] dari [abu Rafi'] dari [Abu Hurairah] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Seorang lelaki keluar dari kampungnya menziarahi saudaranya yang berada ada di kampung lain, lalu Allah mengamatinya dengan mengutus seorang malaikat, malaikat tersebut kemudian duduk di jalan yang ia lewati seraya bertanya kepadanya; 'Mau kemanakah engkau? ' maka ia menjawab; 'Aku ingin pergi menziarahi saudaraku di kampung ini karena Allah, ' malaikat berkata kepadanya; 'Apakah karena ia mempunyai nikmat (harta) yang ada bersamamu dan sedang engkau pelihara? ' ia menjawab; 'Tidak, akan tetapi aku mencintainya karena Allah 'azza wajalla, ' maka malaikat berkata; 'Sesungguhnya aku adalah utusan Rabbmu yang diutus kepadamu mengabarkan bahwa Ia mencintaimu karena engkau mencitai saudaramu karena Allah.” (H.R. ABUHURAIRAH: 9858)
Pada kata yang cetak tebal تربها dalam hadis ini mempunyai arti pelihara
2.     أَخْبَرَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ أَنْبَأَنَا جَرِيرٌ عَنْ ابْنِ شُبْرُمَةَ قَالَقَالَ طَلْحَةُ لِأَهْلِ الْكُوفَةِ فِي النَّبِيذِ فِتْنَةٌ يَرْبُو فِيهَا الصَّغِيرُ وَيَهْرَمُ فِيهَا الْكَبِيرُ قَالَ وَكَانَ إِذَا كَانَ فِيهِمْ عُرْسٌ كَانَ طَلْحَةُ وَزُبَيْدٌ يَسْقِيَانِ اللَّبَنَ وَالْعَسَلَ فَقِيلَ لِطَلْحَةَ أَلَا تَسْقِيهِمُ النَّبِيذَ قَالَ إِنِّي أَكْرَهُ أَنْ يَسْكَرَ مُسْلِمٍ فِي سَبَبِي
“Telah mengabarkan kepada kami [Ishaq bin Ibrahim] ia berkata; telah memberitakan kepada kami [Jarir] dari [Ibnu Syubrumah] ia berkata, " [Thalhah] berkata kepada penduduk Kufah, "Pada perasan nabidz terdapat fitnah; ia akan membuat orang yang muda tampak tua, dan membuat orang yang tua tampah renta." Ibnu Syubrumah berkata, "Jika di antara mereka mengadakan pesta pernikahan, maka Thalhah dan Zubaid hanya menuang susu dan madu. Lalu dikatakan kepada Thalhah, "Kenapa engkau tidak menuang perasan nabidz untuk mereka?" ia menjawab, "Aku tidak ingin seorang muslim mabuk karena aku."
Pada hadits di atas kata يَرْبُو diartikan sebgai membuat.
3.     حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي زِيَادٍ الْقَطَوَانِيُّ الْكُوفِيُّ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا غَالِبٌ أَبُو بِشْرٍ عَنْ أَيُّوبَ بْنِ عَائِذٍ الطَّائِيِّ عَنْ قَيْسِ بْنِ مُسْلِمٍ عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ عَنْ كَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ قَالَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُعِيذُكَ بِاللَّهِ يَا كَعْبَ بْنَ عُجْرَةَ مِنْ أُمَرَاءَ يَكُونُونَ مِنْ بَعْدِي فَمَنْ غَشِيَ أَبْوَابَهُمْ فَصَدَّقَهُمْ فِي كَذِبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ وَلَا يَرِدُ عَلَيَّ الْحَوْضَ وَمَنْ غَشِيَ أَبْوَابَهُمْ أَوْ لَمْ يَغْشَ فَلَمْ يُصَدِّقْهُمْ فِي كَذِبِهِمْ وَلَمْ يُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَهُوَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ وَسَيَرِدُ عَلَيَّ الْحَوْضَ يَا كَعْبَ بْنَ عُجْرَةَ الصَّلَاةُ بُرْهَانٌ وَالصَّوْمُ جُنَّةٌ حَصِينَةٌ وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ يَا كَعْبَ بْنَ عُجْرَةَ إِنَّهُ لَا يَرْبُو لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ إِلَّا كَانَتْ النَّارُ أَوْلَى بِهِقَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ مُوسَى وَأَيُّوبُ بْنُ عَائِذٍ الطَّائِيُّ يُضَعَّفُ وَيُقَالُ كَانَ يَرَى رَأْيَ الْإِرْجَاءِ وَسَأَلْتُ مُحَمَّدًا عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ فَلَمْ يَعْرِفْهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ مُوسَى وَاسْتَغْرَبَهُ جِدًّا و قَالَ مُحَمَّدٌ حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ مُوسَى عَنْ غَالِبٍ بِهَذَا
Telah menceritakan kepada kami [Abdullah bin Abu Ziyad Al Qathawani Al Kufi] telah menceritakan kepada kami ['Ubaidullah bin Musa] telah menceritakan kepada kami [Ghalib Abu Bisyr] dari [Ayyub bin 'A`idz Ath Tha'i] dari [Qais bin Muslim] dari [Thariq bin Syihab] dari [Ka'ab bin 'Ujrah] dia berkata, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda kepadaku: "Wahai Ka'ab, saya memohon perlindungan kepada Allah untukmu dari perbuatan para penguasa setelahku. Barang siapa yang mendatangi mereka lalu mempercayai kedustaan mereka serta membantu mereka dalam berbuat dlalim, maka dia bukan dari golonganku juga tidak dapat melewati Haudlku (telaga) kelak. Dan barang siapa yang mendatangi mereka atau tidak mendatangi mereka dan tidak membenarkan kedustaan mereka juga tidak membantu mereka dalam berbuat dlalim, maka dia termasuk dari golonganku dan saya termasuk dari golongannya serta dapat mendatangi Haudku (telaga) kelak. Wahai Ka'ab bin 'Ujrah, shalat merupakan tanda keimanan, puasa ialah tameng yang kokoh, serta sedekah dapat menghapuskan dosa sebagaimana air memadamkan api. Wahai Ka'ab bin 'Ujrah, tidaklah daging manusia tumbuh dari barang yang haram kecuali Neraka lebih berhak atasnya." Abu 'Isa berkata, hadits ini gharib melalui sanad ini dan tidak kami ketahui kecuali dari haditsnya Ubaidullah bin Musa dan Ayyub bin 'A`idz Ath Thai' dilemahkan bahkan dikabarkan dia menganut paham Murji`ah. Saya bertanya kepada Muhammad, akan tetapi dia tidak mengetahuinya kecuali dari hadits Ubaidullah bin Musa, bahkan hadits ini terasa asing baginya. (HR.TIMIDZI)

4.     أَخْبَرَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ أَنْبَأَنَا جَرِيرٌ عَنْ ابْنِ شُبْرُمَةَ قَالَقَالَ طَلْحَةُ لِأَهْلِ الْكُوفَةِ فِي النَّبِيذِ فِتْنَةٌ يَرْبُو فِيهَا الصَّغِيرُ وَيَهْرَمُ فِيهَا الْكَبِيرُ قَالَ وَكَانَ إِذَا كَانَ فِيهِمْ عُرْسٌ كَانَ طَلْحَةُ وَزُبَيْدٌ يَسْقِيَانِ اللَّبَنَ وَالْعَسَلَ فَقِيلَ لِطَلْحَةَ أَلَا تَسْقِيهِمُ النَّبِيذَ قَالَ إِنِّي أَكْرَهُ أَنْ يَسْكَرَ مُسْلِمٍ فِي سَبَبِي
Telah mengabarkan kepada kami [Ishaq bin Ibrahim] ia berkata; telah memberitakan kepada kami [Jarir] dari [Ibnu Syubrumah] ia berkata, " [Thalhah] berkata kepada penduduk Kufah, "Pada perasan nabidz terdapat fitnah; ia akan membuat orang yang muda tampak tua, dan membuat orang yang tua tampah renta." Ibnu Syubrumah berkata, "Jika di antara mereka mengadakan pesta pernikahan, maka Thalhah dan Zubaid hanya menuang susu dan madu. Lalu dikatakan kepada Thalhah, "Kenapa engkau tidak menuang perasan nabidz untuk mereka?" ia menjawab, "Aku tidak ingin seorang muslim mabuk karena aku."
5.     حدثنا موسى بن إسمعيل حدثنا حماد أخبرنا محمد بن عمرو عن أبي سلمة عن أبي هريرةأن عمرو بن أقيش كان له ربا في الجاهلية فكره أن يسلم حتى يأخذه فجاء يوم أحد فقال أين بنو عمي قالوا بأحد قال أين فلان قالوا بأحد قال فأين فلان قالوا بأحد فلبس لأمته وركب فرسه ثم توجه قبلهم فلما رآه المسلمون قالوا إليك عنا يا عمرو قال إني قد آمنت فقاتل حتى جرح فحمل إلى أهله جريحا فجاءه سعد بن معاذ فقال لأخته سليه حمية لقومك أو غضبا لهم أم غضبا لله فقال بل غضبا لله ولرسوله فمات فدخل الجنة وما صلى لله صلاة
Telah menceritakan kepada kami [Musa bin Isma'il], telah menceritakan kepada kami [Hammad], telah mengabarkan kepada kami [Muhammad bin 'Amr], dari [Abu Salamah], dari [Abu Hurairah], bahwa 'Amr bin Uqaisy dahulu memiliki harta riba pada masa jahiliyah dan ia tidak ingin masuk Islam hingga ia mengambil harta tersebut. Kemudian datang waktu perang Uhud, kemudian ia berkata; dimanakah anak-anak pamanku? Mereka berkata; di Uhud. Ia berkata; dimanakah Fulan? Mereka berkata; di Uhud. Ia berkata; dimanakah Fulan? Mereka berkata; di Uhud. Kemudian ia memakai baju zirahnya dan menaiki kudanya kemudian ia menuju ke arah mereka. Kemudian tatkala orang-orang muslim melihatnya mereka berkata; menjauhlah engkau dari kami wahai 'Amr! Ia berkata; aku telah beriman. Kemudian ia bertempur hingga terluka, kemudian ia dibawa kepada keluarganya dalam keadaan terluka. Lalu Sa'd bin Mu'adz datang kepadanya dan berkata kepada saudarinya; tanyakan kepadanya, apakah karena kesombongan untuk kaumnya atau karena kemarahan untuk karena mereka atau karena kemarahan karena Allah? Ia berkata; bahkan karena kemarahan karena Allah dan rasulNya. Kemudian ia meninggal dan masuk Surga sementera ia belum pernah melakukan satu shalatpun untuk Allah. (HR. Abu Dawud: 2177)
      Hadits di atas pada kata ربا diartikan sebagai riba sedangkan riba secara bahasa mempunyai makna tambahan secara mutlaq dan dalam pengertian lain secara linguistic riba juga berarti tumbuh dan membesar














KESIMPULAN
            Dilihat dari pembahasan di atas, kita bisa menyimpulkan bahwasanya:
Ø  Menurut penafsiran surah Al-Fatihah ayat 2 yaitu Allah itu Pendidik semesta alam tak ada suatu juga dari makhluk Allah itu terjauh dari didikan-Nya. Allah mendidik makhluk-Nya dengan seluas arti kata itu. Sebagai pendidik, Dia menumbuhkan, menjaga, memberikan daya (tenaga) dan senjata kepada makhluk itu guna kesempurnaan hidupnya masing-masing.
Ø  Murabbi yang hakiki yang mengembangkan jasad, akal, dan jiwa adalah Allah swt.
Ø  Tarbiyah bertujuan untuk menyempurnakan fitrah kemanusiaan. Memberi kesenangan  dan  kemuliaan,  tanpa batas sesuai syari'at Allah swt.
Ø  Tarbiah adalah proses yang dilakukan dengan pengaturan yang bijak dan dilaksanakan   secara  bertahap  dari  yang mudah kepada yang sulit.
Ø  Murabbi senantiasa harus mampu dan berusaha sekuat tenaga untuk menjaga kemurnian syari'at Allah dan melaksanakan amar ma'ruf dan nahyi munkar.
Ø  Murabbi senantiasa harus berpegang teguh kepada agama. selalu taat kepada Allah swt., mengajarkan ilmu dan belajar.
Ø  Tingkatan murabbi lebih tinggi dibandingkan dengan tingkatan mua'lim dan mudaris.
Ø  Tarbiah adalah mendidik anak dengan melalui penyampaian ilmu, menggunakan metode yang mudah diterima sehingga ia dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Ø  Tarbiyah dilakukan dengan niat taat, beribadah kepada Allah swt. dan untuk mencapai ridha-Nya.
Ø  Tarbiyah terjadi pada diri manusia dalam artian yang umum bagi berbagai tingkat usia; baik usia anak kecil, atau usia selanjutnya.untuk kesempurnaan akal dan kesucian jiwa. Kata ’alamina, yang dimaksud adalah semua apa yang ada. Biasanya lafal ‘alim tidak umum dijamakan,’alim itu sendiri mencakup: alam manusia, alam binatang, alam tumbuhan, dan tidak biasa dikatakan alam batu, alam tanah. Alam-alam di sini yang mengandung makna tarbiyat (pengembangan) yang didisyaratkan oleh lafad rabbi. Jadi, yang ada/tampak padanya, kehidupan, makan, dan berkembang biak.
Ø  Dari data Q.S.Al-Isra: 24 dapat difahami  bahwa tarbiyat berarti menumbuhkembangkan fisik, mental, dan akal anak yang  memerlukan proses dengan disertai  kasih sayang yang penuh serta kelembutan hati sampai anak itu bisa mandiri dan bisa mempertahankan diri / hidupnya di tengah masyarakat yang heterogen. Hal ini didukung oleh al-Kasysyaf, yang menyatakan bahwa anak harus mengasihani kedua orang tuanya dan berdo’a agar Allah memberikan rahmat yang kekal karena mereka telah mendidiknya sejak kecil tanpa batas
Ø  Rabba, yarbu, tarbiyah : yang memiliki makna ‘tambah’ (Zad) dan ‘berkembang’ (nama). Pengertian ini juga didasarkan hadis yang ada di atas. “…'Amr bin Uqaisy dahulu memiliki harta riba pada masa jahiliyah dan ia tidak ingin masuk Islam hingga ia mengambil harta tersebut…..”  riba juga secara linguistic memiliki arti tumbuh dan membesar sehingga dalam hal ini, artinya pendidikan (tarbiyah) merupakan proses menumbuhkan dan membesarkan apa yang ada pada diri peserta didik, baik secara fisik, psikis, sosial, maupun spiritual.
Ø  Rabba, yarubbu, tarbiyah : yang memiliki makna memilihara seperti (H.R. ABUHURAIRAH: 9858). Memlihara berarti memperbaiki, menguasai urusan, dan merawat, memperindah, meberi makan, mengasuh, tuan, memiliki, mengatur, dan menjaga kelestarian maupun eksistensinya. Artinya pendidikan (tarbiyah) merupakan usaha untuk mengasuh, merawat, memperbaiki dan mengatur (memelihara) kehidupan peserta didik, agar ia dapat survive lebih baik dalam kehidupannya. Dalam hadis memang tidak ditemukan secara khusus tentang tarbiyah. Namun demikian, dalam hadis dijumpai istilah-istilah yang senada dengan istilah tersebut seperti hadis-hadis yang ada di atas.
Ø  Rabba, yurbi, tarbiyah : yang memiliki makna memebuat dalam artian, membuat menjadi besar atau dewasa dan sesuai dengan apa yang diharapkan baik itu secara fisik, Psikis, sosial ataupun spiritual

Sehingga, dalam artian luas Al-Tarbiyah adalah proses pengembangan, pemeliharaan, penjagaan, pengurusan, penyampaian ilmu, pemberian petunjuk, bimbingan, penyempurnaan, dan perasaan memiliki bagi anak didik baik jasad, akal, jiwa, bakat, potensi, perasaan, secara berkelanjutan, bertahap, penuh kasih sayang, penuh perhatian, kelembutan hati, menyenangkan, bijak, mudah diterima, sehingga membentuk kesempurnaan fitrah manusia, kesenangan, kemuliaan, hidup mandiri, untuk mencapai ridha Allah swt

Tidak ada komentar:

Posting Komentar