Rabu, 24 Mei 2017

Belajar dalam perspektif Al Qur'an dan Hadist


Belajar dalam Perspektif Al Qur’an dan Hadist




 



Muhamad Mustahdi
 (2015010178)



PROGRAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS SAINS AL QUR'AN JAWA TENGAH DI WONOSOBO





AYAT UTAMA

1.      Surat Al Baqarah ayat 102

فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَامَايُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِوَزَوْجِهِ وَمَاهُم بِضَآرِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍإِلاَّبِإِذْنِ اللّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَايَضُرُّهُمْ وَلاَيَنفَعُهُمْ
Artinya : “Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dapat menceraikan antara seseorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak member mudharat dengan sihirnya kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah.Dan mereka mempelajari sesuatu yang member mudharat kepadanya dan tidak member manfaat”.(Q.S. Al Baqarah : 102 )

AYAT YANG BERKAITAN

1.      Prinsip belajar  QS Al-Anbiya ayat 30-31

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا ۖوَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖأَفَلَا يُؤْمِنُونَ
Artinya : “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman”.
وَجَعَلْنَا فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِهِمْ وَجَعَلْنَا فِيهَا فِجَاجًا سُبُلًا لَعَلَّهُمْ يَهْتَدُونَ
Artinya : “Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka, dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk”.

2.      Prinsip belajar QS  Ali Imron ayat 190-191

إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ لَءَايَٰتٍۢ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ ﴿ە۱۹﴾ ٱلَّذِينَ يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمًۭا وَقُعُودًۭا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَٰطِلًۭا سُبْحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ ﴿۱۹۱﴾

Artinya: “Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Ali-‘Imran: 190-191).

3.      Sumber belajar QS Taha ayat 113

وَكَذَلِكَ أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا وَصَرَّفْنَا فِيهِ مِنَ الْوَعِيدِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ أَوْ يُحْدِثُ لَهُمْ ذِكْرًا
Artinya  : “Dan demikianlah Kami menurunkan Al-Qur’an dalam bahasa Arab, dan Kami telah menjelaskan berulang-ulang di dalamnya sebagian dari ancaman, agar mereka bertakwa, atau agar (Al-Qur’an) itu memberi pengajaran bagi mereka”.


HADIST YANG BERKAITAN DENGAN AYAT

1.      Hadist tentang kewajiban mencari ilmu
رواه إبن عبد البر)) طَلَبُ اْلعِلْمَ فَرِيْضِةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَ مُسْلِمَةٍ
Artinya :Mencari ilmu itu hukumnya wajib bagi muslimin dan muslimat”(HR. IbnuAbdil Bari)
2.      Hadist tentang seruan untuk belajar

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم:كُنْ عَالِمًا اَوْ مُتَعَلِّمًا اَوْ مُسْتَمِعًا اَوْ مُحِبًا وَلَا تَكُنْ خَامِسًا فَتُهْلِكَ (رَوَاهُ الْبَيْهَقِ )
Telah bersabda RasulullahSAW :”Jadilah engkau orang yang berilmu (pandai) atau orang yang belajar, atau orang yang mendengarkan ilmu atau yang mencintaiilmu. Dan janganlah engkau menjadi orang yang kelima maka kamu akan celaka” (H.R Baehaqi).

3.      Hadist tentang pengamalan ilmu

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَا يَتْبَغِ لِلْجَاهِلِ اَنْ يَسْكُنَ عَلَى جَهْلِهِ وَلَا لِلْعَالِمِ اَنْ يَسْكُنَ عَلَى عِلْمِهِ (رَوَاُه الطَّبْرَانِىُّ)
Rasulullah SAW bersabda: “Tidak pantas bagi orang yang bodoh itu mendiamkan kebodohannya dan tidak pantas pula orang yang berilmu mendiamkan ilmunya” (H.R Ath-Thabrani).

4.      Hadist tentang keutamaan ilmu

(رواه الطبراني)  مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِاْلعِلْمِ وَ مَنْ أَرَادَ ْالآخِرَةِ فَعَلَيْهِ بِاْلعِلْمِ وَ مَنْ أَرَادَ هُمَا فَعَلَيْهِ بِاْلعِلْ
Artinya: “Barangsiapa yang menginginkan kehidupan dunia, maka ia harus memiliki ilmu, dan barangsiapa yang menginginkan kehidupan akhirat maka itu pun harus dengan ilmu, dan barang siapa yang menginginkan keduanya maka itupun harus dengan ilmu” (HR. Thabrani).
5.      Hadist tentang keutamaan belajar

Dalam sunan Al-Tirmizi disebutkan sebagai berikut:
....مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَبْتَغِي فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضَاءً لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ حَتَّى الْحِيتَانُ فِي الْمَاءِ وَفَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
Artinya:...'Siapa saja yang menempuh perjalanan untuk mencari ilmu, maka Allah akan membuka jalan baginya menuju surga. Sesungguhnya para malaikat akan membentangkan sayapnya karena keridhaan mereka terhadap orang yang menuntuti lmu.  Sesugguhnya orang yang alim akan dimintakan ampunan baginya oleh makhluk yang ada di langit dan di bumi, hingga ikan paus yang ada di lautan. Keistimewaan  orang yang berilmu atas orang yang ahli ibadah seperti keistimewaan bulan atas semua bintang. Sesungguhnya ulama itu adalah pewaris para nabi.Sesungguhnya para nabi tidak pernah mewariskan dinar ataupun dirham, akan tetapi mereka hanya mewariskan ilmu. Siapasaja yang mengambil ilmu itu, maka sesungguhnya dia telah mengambil bagian yang banyak .(H.R. tirmizy).

KESIMPULAN

Ada dua istilah yang digunakan dalam Al Qur’an yang berkonotasi belajar, yaitu ta’allama dandarasa kata ta’alam berasal dari kata a’lima yang telah mendapat tambahan dua huruf yaitu ta’ dan huruf yang sejenis dengan lam fi’ilnya yang dilambangkan dengan tasdid sehingga menjadi ta’allama. ‘Alima berarti “mengetahui”. Penambahan ta’ dan tashdid pada kata ‘alima menjadi ta’allama membuat perubahan makna, yaitu mutawwa’ah ; yang berarti adanya bekas suatu perbuatan. Maka kata ta’allama secara harfiah dapat diartikan :menerima ilmu sebagai akibat dari aktivitas pembelajaran. Sedangkan kata darasa secara harfiah diartikan dengan “mempelajari”.Maka, belajar dapat didefinisikan suatu kegiatan pencarian ilmu, dimana hasilnya berbekas dan berpengaruh terhadap orang yang mencarinya. Artinya, belajar tidak hanyasekedar aktifitas tetaapi ia mesti mendatangkan pengaruh atau perubahan pada orang yang belajar tersebut.

Ungkapan Al-Qur’an “wayata’allamuna ma yadlurruhum wa la yanfa’uhum” menggambarkan bahwa objek yang dipelajari mestilah sesuatu yang berguna atau bermanfaat bagi kehidupan manusia. Sesuatu yang tidak berguna bahkan dapat mencederai manusia tidak pantas dipelajari. Oleh karena itu, Al-Qur’an melarang manusia mempelajari ilmu sihir, karena ilmu ini tidak dapat mendatangkan manfaat bahkan sebaliknya, ia dapat memadharatkan manusia. Maka ilmu yang pantas dipelajari adalah ilmu yang berdampak positif terhadap manusia, bahkan dalam menjalani kehidupan ataupun di balik kehidupan ini. maka seharusnya kegiatan belajar itu berbekas dalam diri mereka, dengan mengimani dan mengamalkan pesan-pesan Allah SWT yang termuat dalam Al-Qur’an, serta berpengaruh terhadap mereka dalam bentuk bertambahnya pengetahuan dan perubahan perilaku. Faktor yang dapat menghalangi penguasaan tersebut meliputi faktor internal dan factor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang berkaitan dengan hal-hal yang berada dalam diri manusia, seperti motivasi dan minatnya terhadap mata pelajaran yang dipelajari. Sedangkan factor eksternala dalah faktor yang berada di luar diri manusia itu sendiri. Hal itu meliputi godaan atau rangsangan yang ada di lingkungan sekitar manusia, yaitu teman, masyarakat, media masa, dan keluarga.

Dalam uraian singkat maka kegiatan belajar dapat digambarkan sebagai berikut :

Al ta’alum wa al dirosah :
·         Al-qira’ah (membaca)
·         Al-nazar (berfikir)
·         Ra’a(memperhatikan)
·         Al-sam’u(mendengar)
·         Al-dhikr(mengingat)
·         Dll
 Maka manusia akan Memperoleh ilmu dan mengimplemensikanya untuk  Tadhakkur (sadar atau menyadari)
Dapat diuraikan juga bahwa segala aktivitas belajarini dapat menghasilkan penguasaan terhadap pelajaran tersebut, baik penguasaan pengetahuan mau punsikap manusia. Dalam istilah al-Qur’an disebut dengan tadhakkur yang berarti menjadi ingat atau menguasa imateri ajar atau sadar sebagai makhluk Tuhan sebagai efek dari membaca, memperhatikan, menalar, mendengarkan, dan meghafal. Jadi, belajar mestinya mendatangkan efek kepada manusia dalam bentuk kesadaran diri sebagai hamba Allah dan menyadari bahwa segala yang ada ini mempunyai penuh ketergantungan kepada Allah.
Belajar sebagai suatu aktivitas dalam mencari ilmu mesti di dasarkan pada prinsip-prinsip tertentu, yang meliputi ketauhidan, keikhlasan, kebenaran, dan tujuan belajar yang saling berkaitan satu sama lain. Ketauhidan yang dijadikan prinsip utama dalam belajar lebih jauh menggambarkan keikhlasan dan tujuan pencarian ilmu. Ikhlas dalam belajar berarti bersih dari tujuan dan kepentingan duniawi, belajar diniatkan untuk mencari ridha Allah dan menghidupkan agama islam. Sebab agama tidak akan hidup tanpa ilmu, agar menghasilkan sosok intelektual yang berfikir sehingga manusia menyadari dirinya dan alam lingkunganya sebagai sistem yang menggambarkan fenomena kebesaran sang pencipta alam. Ilmu dan teknologi member banyak manfaat dan menawarkan kenyamanan hidup, sedangkan iman memberikan arah dan makna hidup. Perapaduan keduanya akan mengantar manusia menempati predikat unggul, sebab hidupnya mendapat ridla Allah dan senantiasa member manfaat pada orang lain.
Terdapat banyak media sebagai sumber untuk belajar yang pertama adalah Al-Quran. Dengan mempelajari Al-Quran manusia di harapkan dapat menangkap pesan-pesan Allah SWT, sehingga membuat manusia itu menjadi insan yang bertaqwa dengan menjaga diri dari berbuat salah dan selalu berbuat kebaikan. Mempelajari Al-Qur’an dengan membaca dan memahami serta mengamalkan isi kandungannya, bisa membuat pembacanya mendapat hidayah serta menjadikannya pribadi yang baik.
Sumber yang kedua adalah alam semesta, manusia dituntut agar melihat, mengkaji dan melakukan penalaran terhadap fenomena alam, hal itu meliputi bumi dan segala isinya, seperti ilmu geografi dan ilmu tentang tanah. bahkan manusia itu sendiri sebagai objek kajiannya,seperti ilmu kesehatan dan psikologi. Manusia sebagai makhluk pencari ilmu semestinya menjadikan hal-hal tersebut sebagai sumber belajar agar manusia dapat mengerti akan kekuasaan Allah dan ilmu-ilmu Allah.
Pandai bukanlah priorotas dalam belajar, karena yang di wajibkan adalah menuntut ilmu, untuk menjadikan pandai atau tidaknya manusia hanyalah kehendak Allah semata. Manusia hanya bisa berusaha. Maka dari itu proses belajar harus dilakukan secara terus-menerus dan berulang-ulang agar apa yang tuju akan tercapai. Karena semua yang ada itu dapat diperoleh dengan ilmu baik itu urusan dunia ataupun urusan akhirat kelak sedang ilmu didapat dari proses belajar.
Oleh karena itu menurut al-Qur’an, semboyan ilmu hanya untuk ilmu, atau belajar hanya untuk pengembangan ilmu, tidak dikenal sama sekali. Belajar dalam perspektif al-quran tidak bebas nilai, tetapi harus memiliki nilai ilahiyah dikembangkan sebagai bagian dari ibadah kepada  Allah dan diorientasikan untuk kemaslahatan dan kemanfaatan bagi kemanusiaan. Itulah sebabnya kaum muslimin dilarang oleh Rasulullah saw untuk berfikir dan berbuat hal-hal yang tidak berguna, dan sebaliknya didorong untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar