Muhamad Mustahdi
(2015010178)
PROGRAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS SAINS AL QUR'AN JAWA TENGAH DI WONOSOBO
AYAT
UTAMA
1. Surat
Al Baqarah ayat 102
فَيَتَعَلَّمُونَ
مِنْهُمَامَايُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِوَزَوْجِهِ وَمَاهُم بِضَآرِّينَ بِهِ
مِنْ أَحَدٍإِلاَّبِإِذْنِ اللّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَايَضُرُّهُمْ وَلاَيَنفَعُهُمْ
Artinya : “Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa
yang dapat menceraikan antara seseorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu
(ahli sihir) tidak member mudharat dengan sihirnya kepada seorang pun kecuali dengan
izin Allah.Dan mereka mempelajari sesuatu yang member mudharat kepadanya dan tidak
member manfaat”.(Q.S. Al Baqarah : 102 )
AYAT YANG BERKAITAN
1. Prinsip belajar QS Al-Anbiya ayat 30-31
أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ
كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا
ۖوَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖأَفَلَا يُؤْمِنُونَ
Artinya
: “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan
bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara
keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah
mereka tiada juga beriman”.
وَجَعَلْنَا فِي
الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِهِمْ وَجَعَلْنَا فِيهَا فِجَاجًا سُبُلًا
لَعَلَّهُمْ يَهْتَدُونَ
Artinya : “Dan telah Kami jadikan
di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama
mereka, dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar
mereka mendapat petunjuk”.
2.
Prinsip belajar QS Ali Imron
ayat 190-191
إِنَّ فِى خَلْقِ
ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ لَءَايَٰتٍۢ
لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ ﴿ە۱۹﴾ ٱلَّذِينَ يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمًۭا
وَقُعُودًۭا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ
وَٱلْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَٰطِلًۭا سُبْحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ
ٱلنَّارِ ﴿۱۹۱﴾
Artinya: “Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi,
dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi
orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri,
duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan
langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan
semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.”
(QS. Ali-‘Imran: 190-191).
3.
Sumber belajar QS Taha ayat 113
وَكَذَلِكَ
أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا وَصَرَّفْنَا فِيهِ مِنَ الْوَعِيدِ
لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ أَوْ يُحْدِثُ لَهُمْ ذِكْرًا
Artinya
: “Dan demikianlah Kami menurunkan
Al-Qur’an dalam bahasa Arab, dan Kami telah menjelaskan berulang-ulang di
dalamnya sebagian dari ancaman, agar mereka bertakwa, atau agar (Al-Qur’an) itu
memberi pengajaran bagi mereka”.
HADIST YANG BERKAITAN DENGAN AYAT
1.
Hadist tentang kewajiban mencari ilmu
رواه إبن عبد البر)) طَلَبُ اْلعِلْمَ فَرِيْضِةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَ
مُسْلِمَةٍ
Artinya :Mencari ilmu itu hukumnya wajib bagi muslimin dan muslimat”(HR.
IbnuAbdil Bari)
2.
Hadist tentang seruan untuk belajar
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّم:كُنْ عَالِمًا اَوْ مُتَعَلِّمًا اَوْ مُسْتَمِعًا اَوْ مُحِبًا
وَلَا تَكُنْ خَامِسًا فَتُهْلِكَ (رَوَاهُ الْبَيْهَقِ )
Telah bersabda RasulullahSAW :”Jadilah engkau orang
yang berilmu (pandai) atau orang yang belajar, atau orang yang mendengarkan ilmu
atau yang mencintaiilmu. Dan janganlah engkau menjadi orang yang kelima maka kamu
akan celaka” (H.R Baehaqi).
3. Hadist tentang
pengamalan ilmu
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَا يَتْبَغِ لِلْجَاهِلِ اَنْ يَسْكُنَ عَلَى جَهْلِهِ
وَلَا لِلْعَالِمِ اَنْ يَسْكُنَ عَلَى عِلْمِهِ (رَوَاُه الطَّبْرَانِىُّ)
Rasulullah SAW bersabda: “Tidak pantas bagi orang
yang bodoh itu mendiamkan kebodohannya dan tidak pantas pula orang yang berilmu
mendiamkan ilmunya” (H.R Ath-Thabrani).
4. Hadist tentang keutamaan
ilmu
(رواه الطبراني) مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِاْلعِلْمِ
وَ مَنْ أَرَادَ ْالآخِرَةِ فَعَلَيْهِ بِاْلعِلْمِ وَ مَنْ أَرَادَ هُمَا فَعَلَيْهِ
بِاْلعِلْ
Artinya: “Barangsiapa yang menginginkan kehidupan dunia, maka ia harus memiliki ilmu, dan barangsiapa
yang menginginkan kehidupan akhirat maka itu pun harus dengan ilmu, dan barang siapa
yang menginginkan keduanya maka itupun harus dengan ilmu” (HR. Thabrani).
5.
Hadist
tentang keutamaan belajar
Dalam
sunan Al-Tirmizi disebutkan sebagai berikut:
....مَنْ سَلَكَ
طَرِيقًا يَبْتَغِي فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضَاءً لِطَالِبِ الْعِلْمِ
وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ
حَتَّى الْحِيتَانُ فِي الْمَاءِ وَفَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ
الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ
إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا إِنَّمَا
وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
Artinya:...'Siapa saja yang menempuh
perjalanan untuk mencari ilmu, maka Allah akan membuka jalan baginya menuju surga.
Sesungguhnya para malaikat akan membentangkan sayapnya karena keridhaan mereka terhadap
orang yang menuntuti lmu. Sesugguhnya
orang yang alim akan dimintakan ampunan baginya oleh makhluk yang ada di langit
dan di bumi, hingga ikan paus yang ada di lautan. Keistimewaan orang yang berilmu atas orang yang ahli ibadah
seperti keistimewaan bulan atas semua bintang. Sesungguhnya ulama itu adalah pewaris
para nabi.Sesungguhnya para nabi tidak pernah mewariskan dinar ataupun dirham,
akan tetapi mereka hanya mewariskan ilmu. Siapasaja yang mengambil ilmu itu,
maka sesungguhnya dia telah mengambil bagian yang banyak .(H.R. tirmizy).
KESIMPULAN
Ada dua istilah yang digunakan dalam Al Qur’an yang
berkonotasi belajar, yaitu ta’allama dandarasa kata ta’alam berasal dari kata a’lima yang telah mendapat tambahan dua huruf
yaitu ta’ dan huruf yang sejenis dengan lam fi’ilnya yang dilambangkan dengan
tasdid sehingga menjadi ta’allama. ‘Alima berarti “mengetahui”. Penambahan
ta’ dan tashdid pada kata ‘alima menjadi ta’allama membuat perubahan
makna, yaitu mutawwa’ah ; yang berarti adanya bekas suatu perbuatan.
Maka kata ta’allama secara harfiah dapat diartikan :menerima ilmu sebagai
akibat dari aktivitas pembelajaran. Sedangkan kata darasa secara harfiah
diartikan dengan “mempelajari”.Maka, belajar dapat didefinisikan suatu kegiatan
pencarian ilmu, dimana hasilnya berbekas dan berpengaruh terhadap orang yang
mencarinya. Artinya, belajar tidak hanyasekedar aktifitas tetaapi ia mesti mendatangkan
pengaruh atau perubahan pada orang yang belajar tersebut.
Ungkapan
Al-Qur’an “wayata’allamuna ma yadlurruhum
wa la yanfa’uhum” menggambarkan bahwa objek yang dipelajari mestilah sesuatu
yang berguna atau bermanfaat bagi kehidupan manusia. Sesuatu yang tidak berguna
bahkan dapat mencederai manusia tidak pantas dipelajari. Oleh karena itu,
Al-Qur’an melarang manusia mempelajari ilmu sihir, karena ilmu ini tidak dapat mendatangkan
manfaat bahkan sebaliknya, ia
dapat memadharatkan manusia. Maka ilmu yang pantas dipelajari adalah ilmu yang
berdampak positif terhadap manusia, bahkan dalam menjalani kehidupan ataupun di
balik kehidupan ini. maka seharusnya kegiatan belajar itu berbekas dalam diri mereka,
dengan mengimani dan mengamalkan pesan-pesan Allah SWT yang termuat dalam Al-Qur’an, serta berpengaruh terhadap mereka
dalam bentuk bertambahnya pengetahuan dan perubahan perilaku. Faktor yang dapat
menghalangi penguasaan tersebut meliputi faktor internal dan factor eksternal. Faktor
internal adalah faktor yang berkaitan dengan hal-hal yang berada dalam diri manusia, seperti motivasi dan minatnya terhadap
mata pelajaran yang dipelajari. Sedangkan factor eksternala dalah faktor yang
berada di luar diri manusia itu
sendiri.
Hal itu meliputi godaan atau rangsangan yang ada di lingkungan sekitar manusia, yaitu teman, masyarakat, media
masa, dan keluarga.
Dalam uraian singkat maka
kegiatan belajar dapat digambarkan sebagai berikut :
Al ta’alum wa al dirosah :
·
Al-qira’ah (membaca)
·
Al-nazar (berfikir)
·
Ra’a(memperhatikan)
·
Al-sam’u(mendengar)
·
Al-dhikr(mengingat)
·
Dll
Maka manusia akan Memperoleh ilmu dan
mengimplemensikanya untuk Tadhakkur (sadar atau menyadari)
Dapat diuraikan juga bahwa segala
aktivitas belajarini dapat menghasilkan penguasaan terhadap pelajaran tersebut,
baik penguasaan pengetahuan mau
punsikap manusia.
Dalam istilah al-Qur’an disebut dengan tadhakkur yang
berarti menjadi ingat atau menguasa imateri ajar atau sadar sebagai makhluk Tuhan
sebagai efek dari membaca, memperhatikan, menalar, mendengarkan, dan meghafal. Jadi,
belajar mestinya mendatangkan efek kepada manusia dalam bentuk kesadaran diri sebagai
hamba Allah dan menyadari bahwa segala yang ada ini mempunyai penuh ketergantungan
kepada Allah.
Belajar sebagai suatu aktivitas dalam mencari ilmu mesti di dasarkan pada
prinsip-prinsip tertentu, yang meliputi ketauhidan, keikhlasan, kebenaran, dan
tujuan belajar yang saling berkaitan satu sama lain. Ketauhidan yang dijadikan
prinsip utama dalam belajar lebih jauh menggambarkan keikhlasan dan tujuan
pencarian ilmu. Ikhlas dalam belajar berarti bersih dari tujuan dan kepentingan
duniawi, belajar diniatkan untuk mencari ridha Allah dan menghidupkan agama
islam. Sebab agama tidak akan hidup tanpa ilmu, agar menghasilkan sosok
intelektual yang berfikir sehingga manusia menyadari dirinya dan alam
lingkunganya sebagai sistem yang menggambarkan fenomena kebesaran sang pencipta
alam. Ilmu
dan teknologi member banyak manfaat dan menawarkan kenyamanan hidup, sedangkan iman
memberikan arah dan makna hidup. Perapaduan keduanya akan mengantar manusia menempati
predikat unggul, sebab hidupnya mendapat ridla Allah dan senantiasa member manfaat
pada orang lain.
Terdapat banyak media sebagai sumber untuk belajar yang pertama adalah
Al-Quran. Dengan mempelajari Al-Quran manusia di harapkan dapat menangkap
pesan-pesan Allah SWT, sehingga membuat manusia itu menjadi insan yang bertaqwa
dengan menjaga diri dari berbuat salah dan selalu berbuat kebaikan. Mempelajari
Al-Qur’an dengan membaca dan memahami serta mengamalkan isi kandungannya, bisa
membuat pembacanya mendapat hidayah serta menjadikannya pribadi yang baik.
Sumber yang kedua adalah alam semesta, manusia dituntut agar melihat,
mengkaji dan melakukan penalaran terhadap fenomena alam, hal itu meliputi bumi
dan segala isinya, seperti ilmu geografi dan ilmu tentang tanah. bahkan manusia
itu sendiri sebagai objek kajiannya,seperti ilmu kesehatan dan psikologi.
Manusia sebagai makhluk pencari ilmu semestinya menjadikan hal-hal tersebut
sebagai sumber belajar agar manusia dapat mengerti akan kekuasaan Allah dan
ilmu-ilmu Allah.
Pandai bukanlah priorotas dalam belajar, karena yang di wajibkan adalah
menuntut ilmu, untuk menjadikan pandai atau tidaknya manusia hanyalah kehendak
Allah semata. Manusia hanya bisa berusaha. Maka dari itu proses belajar harus
dilakukan secara terus-menerus dan berulang-ulang agar apa yang tuju akan
tercapai. Karena semua yang ada itu dapat diperoleh dengan ilmu baik itu urusan
dunia ataupun urusan akhirat kelak sedang ilmu didapat dari proses belajar.
Oleh karena itu menurut
al-Qur’an, semboyan ilmu hanya untuk ilmu, atau belajar hanya untuk pengembangan
ilmu, tidak dikenal sama sekali. Belajar dalam perspektif al-quran tidak bebas nilai,
tetapi harus memiliki nilai ilahiyah dikembangkan sebagai bagian dari ibadah kepada
Allah dan diorientasikan untuk kemaslahatan
dan kemanfaatan bagi kemanusiaan. Itulah sebabnya kaum muslimin dilarang oleh Rasulullah
saw untuk berfikir dan berbuat hal-hal yang tidak berguna, dan sebaliknya didorong
untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar