MAKALAH
KEBAGUSAN AKHLAK
Makalah ini di susun guna memenuhi tugas mata kuliah Studi Tafsir
Tarbawi yang diampu oleh Bapak Abdullah Ma’sum, Alh, S.Pd.I
Disusun
oleh :
Nur Lailatul Fadhilah (2015010233)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN (FITK)
UNIVERSITAS SAINS AL-QURAN (UNSIQ)
JAWA TENGAH DI WONOSOBO
2017
BAB I
PENDAHULUAN
Latar
Belakang
Manusia tidak bisa hidup sendiri. Karena itu Islam mengakui bahwa
manusia sebagai makhluk sosial. Syariah mengatur hubungan antara manusia dengan
sesamanya dalam bentuk muamalah, sehingga terbentuk kesalehan sosial. Kesalehan
sosial merupakan bentuk hubungan individu yang harmonis antara individu dengan
lingkungan sosialnya sehingga dapat dilahirkan bentuk masyarakat yang marhamah
atau masyarakat yang saling memberikan perhatian dan kepedulian antara anggota
masyarakat dengan anggota masyarakat lainnya yang dilandasi oleh kasih sayang.
Untuk itu, manusia perlu mengerti bagaimana seharusnya mereka bertingkah laku
yang benar.
Diantara misi diutusnya para Nabi dan Rasul adalah untuk mengajarkan
urusan akhlak kepada umat manusia dan
menyempurnakan budi pekerti mereka. Hal itu bukan berarti bahwa suatu umat sama
sekali tidak mengenal akhlak sebelum diutusnya Nabi kepada mereka. Pada
dasarnya setiap umat telah memiliki sebuah sistem moral yang mengikat dan
berlaku di kalangan mereka. Hanya saja seringkali sistem moral yang mereka anut
berangkat dari persepsi yang tidak benar. Disamping itu, tidak jarang terjadi
perbedaan standar moral antara satu daerah dengan daerah lainnya.
Tidak sedikit manusia yang ingin lepas dari ikatan moral bahkan
ingin menjadi “manusia bebas nilai” sehingga bisa leluasa melakukan apapun
sesuka hatinya. Akibatnya, yang kuat berlaku sewenang-wenang terhadap yang
lemah dan yang lemah merasa frustasi lalu bertindak melanggar hukum, yang
pintar membodohi yang bodoh dan yang bodoh bertindak semakin bodoh, yang dewasa
berperilaku kekanak-kanakan dan yang anak-anak meniru gaya orang dewasa,
sehingga terjadilah dekadensi akhlak dan krisis moral dimana-mana.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
AKHLAK
TERPUJI
Akhlak adalah aturan
syara’ yang menyangkut perilaku manusia yang menjadi hiasan budi yang luhur.
Akhlak merupakan komponen dasar Islam yang berisi tentang ajaran tata perilaku
atau sopan santun. Akhlak pada hakikatnya adalah situasi dan kondisi yang
tertanam dalam jiwa yang kemudian muncul darinya ucapan, perbuatan, atau sikap
yang dinilai baik atau buruk, bagus atau jelek, dan pantas atau tabu. Kualitas
akhlak seseorang banyak dipengaruhi oleh proses pendidikan yang dialaminya,
lingkungan pergaulan yang melingkupi, dan pengalaman hidup. Jika ia terdidik,
terlatih, dan terbiasakan dengan prinsip-prinsip kebenaran, nilai-nilai
keutamaan, dan norma-norma kebajikan, lalu semua itu terkarakterisasi menjadi
kepribadiannya yang kemudian melahirkan aktivitas-aktivitas baik dan terpuji,
maka disebut orang yang berakhlak terpuji. Sebaliknya jika ia terdidik,
terlatih, dan terbiasakan dengan hal-hal yang batil dan buruk, lalu
terkarakterisasi menjadi kepribadiannya yang kemudian melahirkan
aktivitas-aktivitas buruk dan tercela, maka ia disebut orang yang berakhlak
tercela.
Akhlak merupakan bagian
yang sangat penting dalan Ajaran Islam, karena perilaku manusia merupakan objek
utama ajaran Islam. Bahkan maksud diturunkannya agama adalah untuk membimbing
sikap dan perilaku manusia agar sesuai dengan fitrahnya. Agama menyuruh manusia
agar meninggalkan kebiasaan buruk dan menggantikannya dengan kebiasaan yang
baik. Agama menuntun manusia agar memelihara dan mengembangkan kecenderungan
mental yang bersih dan jiwa yang suci. Setiap orang beriman diperintahkan untuk
berhias diri dengan akhlak yang baik dan dilarang dari berlumur diri dengan
akhlak yang buruk.
اِنَّ اللهَ يَأمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَاِيْتَائ ذِى الْقُرْبى
وَيَنْهى عَنِ الْفَحْشاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْىِج يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil
dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari
perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu
agar kamu dapat mengambil pelajaran”. (QS. An Nahl (16): 90)
Ayat
tersebut menuntut adanya usaha yang sungguh-sungguh dari tiap mukmin untuk
melaksanakan akhlak terpuji dan menjauhi akhlak tercela. Namun sisi kelemahan
dan kelalaian manusia tidak jarang membuatnya merasa kesulitan untuk memenuhi
standar moral yang semestinya, bahkan ada yang terjebak dalam trial and
error secara berulang-ulang. Oleh karena itu, usaha tersebut sangat perlu
dibarengi dengan doa sebagai laku spiritual guna memperlancar tercapainya
pribadi yang berakhlak mulia.
Jadi
akhlak itu merupakan sistem etika Islam. Sebagai sistem, akhlak memiliki
spektrum yang luas, mulai sikap terhadap dirinya, orang lain, dan makhluk
lainnya, serta terhadap Tuhannya.
B. AYAT YANG BERHUBUNGAN DENGAN QS AN NAHL
AYAT 90
Pada
dasarnya, jika seseorang diperlakukan dengan satu keburukan oleh orang lain,
maka ia diperbolehkan membalasnya dengan satu keburukan yang sepadan. Akan
tetapi, jika ia mampu bersabar dengan tidak membalas keburukan itu dan mau
memaafkannya serta membalasnya dengan kebaikan, maka ia akan memperoleh derajat
kemuliaan dan pahala disisi Allah SWT. Itulah makna firmanNya:
وَجَزَاؤُا سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأصْلَحَ
فَأجْرُهُ عَلى اللهِج إنَّه لاَ يُحِبُّ الظَّا لِمِيْنَ
“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang
serupa. Akan tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya
atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang
zalim.” QS. Asy-Syura (42) : 40.
Dalam
berinteraksi sosial, manusia tidaklah selalu benar. Manusia juga pasti
mengalami lupa ataupun kesalahan, karena itu sudah menjadi sifat manusia. Hal
ini tidak dapat dipungkiri, karena kata manusia sendiri berasal dari Bahasa
Arab insan yang berasal dari madhi nasaa yang berarti lupa. Memberi maaf
kepada orang yang telah berbuat salah kepada kita merupakan salah satu contoh
perbuatan akhlaqul karimah. Mengajak untuk berbuat baik sangat dianjurkan dalam
Al-Qur’an.
Kebajikan
yakni beriman kepada Allah, malaikat, kitab, nabi, hari kemudian, dan
memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak yatim, orang miskin,
musafir, dan orang yan meminta, memerdekakan hamba sahaya, mendirikan sholat,
menunaikan zakat, menepati janji, dan sabar dalam kesempitan. Seperti
firmanNya:
لَيْسَ الْبِرَّ اَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ
وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ امَنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْاخِرِ
وَالْمَلائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّنَ وَءَاتَى الْمَالَ عَلى حُبِّه ذَوِى
الْقُرْبى وَالْيَتمى وَالْمَسكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِ وَالسّائِلِيْنَ وَفِى
الرِّقَابِ وَاَقَامَ الصَّلوة وَءاتَى الزَّكوة وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إذَا
عهَدُوصلى وَالصّبِرِيْنَ فِى الْبَأساءِ وَالضَّرّاء وَحِيْنَ الْبأس قلى
أولئكَ الّذِيْنَ صَدَقُوا صلى وألئكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ
”Bukanlah
menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi
sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian,
malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang
dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir
(yang memerlukan pertolongan), dan orang-orang
yang meminta-minta, dan (memerdekakan)hamba sahaya, mendirikan sholat,
dan menunaikan zakat, dan orang-orang yang menepati janji apabila ia berjanji,
dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan.
Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya) dan mereka itulah orang-orang
yang bertakwa.” QS. Al-Baqarah (2): 177
Nikmat
yang kami terima itu adalah pemberian dari Allah. Maka dari, itu ketika kita
mendapat suatu kenikmatan, wajib bagi kita utuk membaca hamdalah atau
mengucapkan syukur kepada Allah, seperti dalam firmanNya:
قَلِ الْحَمْدُ لِلهِ وَسَلمٌ عَلى عَبَادِهِ الَّذِيْنَ اصْطَفى قلى
“Katakanlah: Segala puji bagi Allah dan
kesejahteraan atas hamba-hambaNya yang dipilihNya.” QS. An Naml: 59
C. HADITS YANG BERHUBUNGAN DENGAN QS. AN NAHL:
90
Orang
yang berakhlak baik dan beramal baik, akan mendapat derajat yang baik pula
diakhiratnya. Berakhlak baik dan beramal baik meliputi terhadap dirinya
sendiri, sesama manusia, makhluk lain, lingkungan alam seikitar, dan yang
paling pokok yakni kepada Allah SWT. Nabi SAW bersabda:
اَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ اِيْمَانَا اَحْسَنُهُمْ خُلُقًا
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya
adalah yang terbagus akhlaknya.” HR. Abu Dawud
Akhlak
mulia termasuk perkara yang memakmurkan rumah dan menambah keberkahan usia. Karena
orang yang berakhlak baik tentu memiliki sifat sabar, penyayang, dan pemaaf.
Sehingga ketika ada seorang tetangga yang menggores hatinya, ia selalu bisa
bersabar. Maka, dalam hal bertetangga menjadi rukun dan bahagia. Selain itu,
dengan selalu bertingkah yang bahagia, rukun, Allah akan memberi umur yang
berkah, yang selalu digunakan untuk berdzikir kepada Allah. Nabi SAW bersabda:
وَصِلَةُ الرَّحِمِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ وَحُسْنُ الْجِوَارِ يُعَمِّرَانِ
الدِّيَارَ وَيَزِيْدَان فِى الأعْمَارِ
“Silaturrahim serta kebagusan akhlak dan
kebagusan bertetangga itu memakmurkan rumah dan menambah (keberkahan) umur.”
HR. Ahmad
Allah
sangat menyukai orang-orang yang berakhlak mulia. Manusia tidak hanya
dianjurkan untuk bertingkah laku baik, namun dianjurkan pula untuk
mengistiqomahkan tingkah laku tersebut. Karena akhlak mulia termasuk amal saleh
yang paling utama dan paling berat timbangannya di akhirat. Sehingga mereka
yang berakhlak mulia akan mendapatkan balasan yang sepadan pula. Nabi SAW
bersabda:
عَلِّدْكَ بِحُسْنَ الْخُلُقِ وَطُوْلِ الصُّمْتِ فَوَ الَّذِيْ نَفْسِيْ
بِيَدِهِ مَا عَمَلُ الْخَلاَئِقِ بِمِثْلِهِمَا
“Konsistenlah kamu dengan kebagusan akhlak
dan banyak diam. Demi Dzat yang diriku ada dalam tanganNya, tiada amal para
makhluk yang semisal keduanya.” HR. Abu Ya’la
Dalam timbangan akhirat,
tidak ada sesuatu yang lebih berat daripada kebagusan akhlak. Karena orang yang
berakhlak bagus sama derajatnya dengan orang yang melakukan puasa dan sholat.
مَا مِنْ شَيْئٍ يُوْضَعُ فِي الْمِيْزَانِ اَثْقَلُ
مِنْ حُسْن الْخُلُقِ وَاِنَّ صَاحِبَ حُسْن الْخَلْقِ ليَبْلغُ بِهِ
دَرَجَة صَاحِبِ الصَّوْمِ وَالصَّلاَةِ
”Tiada sesuatu pun diletakkan dalam
timbangan (akhirat) yang lebih berat dari kebagusan akhlak, dan sesungguhnya
orang yang berakhlak bagus benar-benar mencapai derajat orang yang melakukan
shalat dan puasa.” HR. At-Tirmidzi
Jika
seseorang memiliki akhlak yang buruk atau melakukan perbuatan tercela, lalu ia
menghentikannya dan memperbaiki diri dengan akhlak yang baik atau perbuatan
terpuji, maka amal buruknya itu akan terhapus dari catatan malaikat dan diganti
dengan catatan amal kebaikan. Agar kita dapat memperbaiki diri, maka sangat
dianjurkan untuk bergaul atau berteman dengan manusia yang berakhlak baik.
Dalam kitab Ta’limul muta’allim telah dijelaskan, untuk mengetahui
tingkah laku seseorang tidak perlu bertanya langsung kepada orang tersebut,
cukup melihat pada teman yang menemaninya. Karena teman adalah cerminan dari
yang ditemaninya. Itulah makna dari sabda Nabi Muhammad SAW:
اِتَّقُ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَاتَّبِع السَّيِّئة الْحَسَنَة تَمْحُهَا
وَخَالِقَ النَّاسَ بِخُلُقِ حَسَنٍ
“Bertaqwalah kepada Allah dimanapun kamu
berada. Susulilah keburukan dengan (melakukan) kebaikan, niscaya kebaikan itu
akan menghapusnya. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. At Tirmidzi)
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Salah
satu inti ajaran Islam adalah masalah akhlak, karena baik atau buruknya
seseorang itu diukur dan diketahui dari akhlaknya. Akhlak pada hakikatnya
adalah situasi dan
kondisi yang tertanam dalam jiwa yang kemudian muncul darinya ucapan,
perbuatan, atau sikap yang dinilai baik atau buruk, bagus atau jelek, dan
pantas atau tabu. Setiap muslim
diperintah untuk berhias diri dengan akhlak terpuji dan berlepas diri dari
akhlak tercela, baik dalam etikanya dengan diri sendiri, sesama manusia,
makhluk lain, dan lingkungan alam sekitar maupun dengan Tuhannya. Etika dengan
diri sendiri misalnya menjaga nama baik diri sendiri, etika dengan sesama
manusia misalnya menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda.
Etika dengan makhluk lain misalnya menyayanginya dengan memberi makan,
merawatnya, etika dengan alam sekitar misalnya tidak merusak alam, menjaga
kelestarian alam, dan etika terhadap Tuhan misalnya selalu menjalankan
perintahNya dan menjauhi laranganNya. Dalam Islam, baik atau buruknya akhlak seseorang
menjadi indikator kadar keimanannya, menunjukkan kualitas amalnya, serta
menentukan derajat dan posisinya di akhirat.
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku
adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang
dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran
kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (QS. An Nahl (16): 90).”
Ayat
tersebut menjelaskan bahwa manusia disuruh untuk berlaku adil dan berbuat
kebajikan. Diantaranya yakni selalu memaafkan orang yang pernah berlaku salah
dengan kita, bertakwa, dan selalu mensyukuri nikmat yang diberikan Allah kepada
kita.
Hubungan QS An Nahl: 90 dengan QS. Asy-Syura (42) : 40.
“Dan balasan suatu kejahatan adalah
kejahatan yang serupa. Akan tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik,
maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai
orang-orang yang zalim.”
Kebaikan
memang harus dibalas dengan kebaikan yang sepadan. Namun, keburukan tidak
seperti itu. Keburukan ibarat api. Api hendaknya tidak dibalas dengan api,
karena akan menjadi semakin besar nyalanya dan sulit dipadamkan. Api hendaknya
dibalas dengan air agar berkurang baranya atau menjadi padam sama sekali. Api
dendam dan bara permusuhan diantara dua pihak yang berseteru akan lebih mudah
dipadamkan jika salah satu pihak mau menahan diri, membuka pintu islah, dan
menyiramkan air kebajikan. Sehingga pihak yang tadinya menjadi musuh utama bisa
berbalik menjadi sekutu setia. Maka dari itu, sebaiknya manusia memiliki sifat
pemaaf terhadap sesamanya agar tercipta hubungan sosial yang harmonis, dan
hidup mereka tenang. Karena Allah tidak menyukai orang yang dzalim. Orang yang
dzalim salah satunya adalah orang yang tingkah laku atau ucapannya menyakiti
orang lain.
Hubungan QS An Nahl: 90 dengan QS. Al
Baqarah: 177
”Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah
timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu
ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab,
nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak
yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan), dan
orang-orang yang meminta-minta, dan
(memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan sholat, dan menunaikan zakat, dan
orang-orang yang menepati janji apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar
dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang
yang benar (imannya) dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.”
Takwa
termasuk salah satu perbuatan yang baik. Takwa yakni beriman kepada Allah, hari
kiamat, malaikat, kitab, nabi. Tidak hanya itu, memberikan harta yang
dicintainya untuk diberikan kepada kerabatnya, anak yatim, orang miskin,
musafir yang memerlukan bantuan, orang yang meminta, dan memerdekakan budak.
Namun, dizaman yang modern ini sudah tidak ada lagi budak. Menjalankan rukun
islam (mendirikan sholat, zakat, puasa), menepati janji. Dalam berjanji harus
konsisten, tidak boleh menyepelekan, karena orang yang berjanji harus ditepati.
Dan harus berhati-hati dalam mengucapkan janji, yang sekiranya dapat dilakukan,
dan tidak memberatkan.
Selalu
sabar. Ketika mendapat nikmat Allah yang cukup, harus bersyukur, dalam keadaan
sempit pun harus bersyukur. Dalam keadaan sakit juga harus bersabar dan
bersyukur. Karena Allah juga berfirman tidak akan menguji diluar batas
kemampuan hambaNya. Allah memberikan ujian kepada hambaNya untuk mengukur
seberapa besar iman hambaNya.
Hubungan QS. An Nahl: 90 dengan QS. An
Naml: 59
“Katakanlah: Segala puji bagi Allah dan
kesejahteraan atas hamba-hambaNya yang dipilihNya.”
Nikmat
yang kami terima itu adalah pemberian dari Allah. Maka dari, itu ketika kita
mendapat suatu kenikmatan, wajib bagi kita utuk membaca hamdalah atau
mengucapkan syukur kepada Allah. Bersyukur kepada Allah juga termasuk perbuatan
yang bajik. Nikmat tidak selalu berupa materi, namun bisa juga berupa kesehatan
dan kebahagiaan. Bisa berkumpul dengan keluarga merupakan suatu kenikmatan yang
wajib disyukuri.
Hubungan QS. An Nahl: 90 dengan HR. Abu
Dawud
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya
adalah yang terbagus akhlaknya.” HR. Abu Dawud
Semakin
bagus akhlaknya pula amalnya semakin berkualitas. Maka, orang yang berakhlak
baik dan beramal baik, akan mendapat derajat yang baik pula diakhiratnya. Sebaliknya,
orang yang berakhlak buruk dan beramal buruk, akan mendapat tempat yang sesuai
atau yang pantas mereka terimanya. Maka, kita senantiasa dianjurkan untuk
selalu berakhlak yang baik.
Hubungan QS. An Nahl: 90 dengan HR. Ahmad
“Silaturrahim serta kebagusan akhlak dan
kebagusan bertetangga itu memakmurkan rumah dan menambah (keberkahan) umur.”
HR. Ahmad
Selain
mendapat derajat yang baik diakhirat, akhlak mulia termasuk perkara yang
memakmurkan rumah dan menambah keberkahan usia. Dengan berakhlak mulia,
kehidupan bertetangga semakin tentram karena tidak ada lagi permusuhan, atau
hal-hal yang tidak disenangi Allah. Karena berakhlak mulia pula, manusia bisa
mengamalkan yang diajarkan Allah sehingga umur mereka menjadi berkah. Umur yang
dijalani selalu mendapat keberkahan karena selalu ingat kepada Allah.
Hubungan QS. An Nahl: 90 dengan HR. Abu
Ya’la
“Konsistenlah kamu dengan kebagusan akhlak dan
banyak diam. Demi Dzat yang diriku ada dalam tanganNya, tiada amal para makhluk
yang semisal keduanya.” HR. Abu Ya’la
Istiqomah
dalam menjaga kebagusan akhlak merupakan salah satu perkara yang disenangi oleh
Allah. Akhlak mulia termasuk amal saleh yang paling utama dan paling berat
timbangannya di akhirat. Allah sangat menyukai orang-orang yang berakhlak mulia
dan tidak ada amal para makhluk yang lebih baik daripada kebagusan akhlak.
Hubungan QS. An Nahl: 90 dengan HR. At
Tirmidzi
”Tiada sesuatu pun
diletakkan dalam timbangan (akhirat) yang lebih berat dari kebagusan akhlak,
dan sesungguhnya orang yang berakhlak bagus benar-benar mencapai derajat orang
yang melakukan shalat dan puasa.” HR. At-Tirmidzi
Orang
yang berakhlak bagus, benar-benar mencapai derajat orang yang melakukan shalat
dan puasa. Sehingga timbangan diakhirat menjadi lebih berat kebagusan
akhlaknya. Karena orang yang berakhlak bagus tentu saja ia taat terhadap Allah.
Hubungan QS. An Nahl: 90 dengan HR. At
Tirmidzi
“Bertaqwalah kepada
Allah dimanapun kamu berada. Susulilah keburukan dengan (melakukan) kebaikan,
niscaya kebaikan itu akan menghapusnya. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak
yang baik.” HR. At Tirmidzi
Dimanapun
kita berada, Allah selalu mengawasi kita. Maka, jika seseorang memiliki akhlak
yang buruk atau melakukan perbuatan tercela, lalu ia menghentikannya dan
memperbaiki diri dengan akhlak yang baik atau perbuatan terpuji, maka amal
buruknya itu akan terhapus dari catatan malaikat dan diganti dengan catatan
amal kebaikan. Agar kita dapat memperbaiki diri, maka sangat dianjurkan untuk
bergaul atau berteman dengan manusia yang berakhlak baik. Dalam kitab Ta’limul
muta’allim telah dijelaskan, untuk mengetahui tingkah laku seseorang tidak
perlu bertanya langsung kepada orang tersebut, cukup melihat pada teman yang
menemaninya. Karena teman adalah cerminan dari yang ditemaninya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar