Sabtu, 13 Mei 2017

akhlak mulia

MAKALAH
KEBAGUSAN AKHLAK
Makalah ini di susun guna memenuhi tugas mata kuliah Studi Tafsir Tarbawi yang diampu oleh Bapak Abdullah Ma’sum, Alh, S.Pd.I




                                                       
                                                            Disusun oleh :
Nur Lailatul Fadhilah (2015010233)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN (FITK)
UNIVERSITAS SAINS AL-QURAN (UNSIQ)
JAWA TENGAH DI WONOSOBO
 2017


BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Manusia tidak bisa hidup sendiri. Karena itu Islam mengakui bahwa manusia sebagai makhluk sosial. Syariah mengatur hubungan antara manusia dengan sesamanya dalam bentuk muamalah, sehingga terbentuk kesalehan sosial. Kesalehan sosial merupakan bentuk hubungan individu yang harmonis antara individu dengan lingkungan sosialnya sehingga dapat dilahirkan bentuk masyarakat yang marhamah atau masyarakat yang saling memberikan perhatian dan kepedulian antara anggota masyarakat dengan anggota masyarakat lainnya yang dilandasi oleh kasih sayang. Untuk itu, manusia perlu mengerti bagaimana seharusnya mereka bertingkah laku yang benar.
Diantara misi diutusnya para Nabi dan Rasul adalah untuk mengajarkan urusan akhlak  kepada umat manusia dan menyempurnakan budi pekerti mereka. Hal itu bukan berarti bahwa suatu umat sama sekali tidak mengenal akhlak sebelum diutusnya Nabi kepada mereka. Pada dasarnya setiap umat telah memiliki sebuah sistem moral yang mengikat dan berlaku di kalangan mereka. Hanya saja seringkali sistem moral yang mereka anut berangkat dari persepsi yang tidak benar. Disamping itu, tidak jarang terjadi perbedaan standar moral antara satu daerah dengan daerah lainnya.
Tidak sedikit manusia yang ingin lepas dari ikatan moral bahkan ingin menjadi “manusia bebas nilai” sehingga bisa leluasa melakukan apapun sesuka hatinya. Akibatnya, yang kuat berlaku sewenang-wenang terhadap yang lemah dan yang lemah merasa frustasi lalu bertindak melanggar hukum, yang pintar membodohi yang bodoh dan yang bodoh bertindak semakin bodoh, yang dewasa berperilaku kekanak-kanakan dan yang anak-anak meniru gaya orang dewasa, sehingga terjadilah dekadensi akhlak dan krisis moral dimana-mana.









BAB II
PEMBAHASAN

A.      AKHLAK TERPUJI
       Akhlak adalah aturan syara’ yang menyangkut perilaku manusia yang menjadi hiasan budi yang luhur. Akhlak merupakan komponen dasar Islam yang berisi tentang ajaran tata perilaku atau sopan santun. Akhlak pada hakikatnya adalah situasi dan kondisi yang tertanam dalam jiwa yang kemudian muncul darinya ucapan, perbuatan, atau sikap yang dinilai baik atau buruk, bagus atau jelek, dan pantas atau tabu. Kualitas akhlak seseorang banyak dipengaruhi oleh proses pendidikan yang dialaminya, lingkungan pergaulan yang melingkupi, dan pengalaman hidup. Jika ia terdidik, terlatih, dan terbiasakan dengan prinsip-prinsip kebenaran, nilai-nilai keutamaan, dan norma-norma kebajikan, lalu semua itu terkarakterisasi menjadi kepribadiannya yang kemudian melahirkan aktivitas-aktivitas baik dan terpuji, maka disebut orang yang berakhlak terpuji. Sebaliknya jika ia terdidik, terlatih, dan terbiasakan dengan hal-hal yang batil dan buruk, lalu terkarakterisasi menjadi kepribadiannya yang kemudian melahirkan aktivitas-aktivitas buruk dan tercela, maka ia disebut orang yang berakhlak tercela.
       Akhlak merupakan bagian yang sangat penting dalan Ajaran Islam, karena perilaku manusia merupakan objek utama ajaran Islam. Bahkan maksud diturunkannya agama adalah untuk membimbing sikap dan perilaku manusia agar sesuai dengan fitrahnya. Agama menyuruh manusia agar meninggalkan kebiasaan buruk dan menggantikannya dengan kebiasaan yang baik. Agama menuntun manusia agar memelihara dan mengembangkan kecenderungan mental yang bersih dan jiwa yang suci. Setiap orang beriman diperintahkan untuk berhias diri dengan akhlak yang baik dan dilarang dari berlumur diri dengan akhlak yang buruk.
اِنَّ اللهَ يَأمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَاِيْتَائ ذِى الْقُرْبى وَيَنْهى عَنِ الْفَحْشاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْىِج يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”. (QS. An Nahl (16): 90)
       Ayat tersebut menuntut adanya usaha yang sungguh-sungguh dari tiap mukmin untuk melaksanakan akhlak terpuji dan menjauhi akhlak tercela. Namun sisi kelemahan dan kelalaian manusia tidak jarang membuatnya merasa kesulitan untuk memenuhi standar moral yang semestinya, bahkan ada yang terjebak dalam trial and error secara berulang-ulang. Oleh karena itu, usaha tersebut sangat perlu dibarengi dengan doa sebagai laku spiritual guna memperlancar tercapainya pribadi yang berakhlak mulia.
       Jadi akhlak itu merupakan sistem etika Islam. Sebagai sistem, akhlak memiliki spektrum yang luas, mulai sikap terhadap dirinya, orang lain, dan makhluk lainnya, serta terhadap Tuhannya.

B.       AYAT YANG BERHUBUNGAN DENGAN QS AN NAHL AYAT 90
       Pada dasarnya, jika seseorang diperlakukan dengan satu keburukan oleh orang lain, maka ia diperbolehkan membalasnya dengan satu keburukan yang sepadan. Akan tetapi, jika ia mampu bersabar dengan tidak membalas keburukan itu dan mau memaafkannya serta membalasnya dengan kebaikan, maka ia akan memperoleh derajat kemuliaan dan pahala disisi Allah SWT. Itulah makna firmanNya:
وَجَزَاؤُا سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأصْلَحَ فَأجْرُهُ عَلى اللهِج إنَّه لاَ يُحِبُّ الظَّا لِمِيْنَ
“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa. Akan tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.”  QS. Asy-Syura (42) : 40.
       Dalam berinteraksi sosial, manusia tidaklah selalu benar. Manusia juga pasti mengalami lupa ataupun kesalahan, karena itu sudah menjadi sifat manusia. Hal ini tidak dapat dipungkiri, karena kata manusia sendiri berasal dari Bahasa Arab insan yang berasal dari madhi nasaa yang berarti lupa. Memberi maaf kepada orang yang telah berbuat salah kepada kita merupakan salah satu contoh perbuatan akhlaqul karimah. Mengajak untuk berbuat baik sangat dianjurkan dalam Al-Qur’an.
       Kebajikan yakni beriman kepada Allah, malaikat, kitab, nabi, hari kemudian, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak yatim, orang miskin, musafir, dan orang yan meminta, memerdekakan hamba sahaya, mendirikan sholat, menunaikan zakat, menepati janji, dan sabar dalam kesempitan. Seperti firmanNya:
لَيْسَ الْبِرَّ اَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ امَنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْاخِرِ وَالْمَلائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّنَ وَءَاتَى الْمَالَ عَلى حُبِّه ذَوِى الْقُرْبى وَالْيَتمى وَالْمَسكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِ وَالسّائِلِيْنَ وَفِى الرِّقَابِ وَاَقَامَ الصَّلوة وَءاتَى الزَّكوة وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إذَا عهَدُوصلى وَالصّبِرِيْنَ فِى الْبَأساءِ وَالضَّرّاء وَحِيْنَ الْبأس قلى أولئكَ الّذِيْنَ صَدَقُوا صلى وألئكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ
     ”Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan), dan orang-orang  yang meminta-minta, dan (memerdekakan)hamba sahaya, mendirikan sholat, dan menunaikan zakat, dan orang-orang yang menepati janji apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya) dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” QS. Al-Baqarah (2): 177
       Nikmat yang kami terima itu adalah pemberian dari Allah. Maka dari, itu ketika kita mendapat suatu kenikmatan, wajib bagi kita utuk membaca hamdalah atau mengucapkan syukur kepada Allah, seperti dalam firmanNya:
قَلِ الْحَمْدُ لِلهِ وَسَلمٌ عَلى عَبَادِهِ الَّذِيْنَ اصْطَفى قلى
“Katakanlah: Segala puji bagi Allah dan kesejahteraan atas hamba-hambaNya yang dipilihNya.” QS. An Naml: 59
    
C.      HADITS YANG BERHUBUNGAN DENGAN QS. AN NAHL: 90
       Orang yang berakhlak baik dan beramal baik, akan mendapat derajat yang baik pula diakhiratnya. Berakhlak baik dan beramal baik meliputi terhadap dirinya sendiri, sesama manusia, makhluk lain, lingkungan alam seikitar, dan yang paling pokok yakni kepada Allah SWT. Nabi SAW bersabda:
اَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ اِيْمَانَا اَحْسَنُهُمْ خُلُقًا
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang terbagus akhlaknya.” HR. Abu Dawud
       Akhlak mulia termasuk perkara yang memakmurkan rumah dan menambah keberkahan usia. Karena orang yang berakhlak baik tentu memiliki sifat sabar, penyayang, dan pemaaf. Sehingga ketika ada seorang tetangga yang menggores hatinya, ia selalu bisa bersabar. Maka, dalam hal bertetangga menjadi rukun dan bahagia. Selain itu, dengan selalu bertingkah yang bahagia, rukun, Allah akan memberi umur yang berkah, yang selalu digunakan untuk berdzikir kepada Allah. Nabi SAW bersabda:
وَصِلَةُ الرَّحِمِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ وَحُسْنُ الْجِوَارِ يُعَمِّرَانِ الدِّيَارَ وَيَزِيْدَان فِى الأعْمَارِ
“Silaturrahim serta kebagusan akhlak dan kebagusan bertetangga itu memakmurkan rumah dan menambah (keberkahan) umur.” HR. Ahmad
       Allah sangat menyukai orang-orang yang berakhlak mulia. Manusia tidak hanya dianjurkan untuk bertingkah laku baik, namun dianjurkan pula untuk mengistiqomahkan tingkah laku tersebut. Karena akhlak mulia termasuk amal saleh yang paling utama dan paling berat timbangannya di akhirat. Sehingga mereka yang berakhlak mulia akan mendapatkan balasan yang sepadan pula. Nabi SAW bersabda:
عَلِّدْكَ بِحُسْنَ الْخُلُقِ وَطُوْلِ الصُّمْتِ فَوَ الَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ مَا عَمَلُ الْخَلاَئِقِ بِمِثْلِهِمَا
“Konsistenlah kamu dengan kebagusan akhlak dan banyak diam. Demi Dzat yang diriku ada dalam tanganNya, tiada amal para makhluk yang semisal keduanya.”  HR. Abu Ya’la
       Dalam timbangan akhirat, tidak ada sesuatu yang lebih berat daripada kebagusan akhlak. Karena orang yang berakhlak bagus sama derajatnya dengan orang yang melakukan puasa dan sholat.
مَا مِنْ شَيْئٍ يُوْضَعُ فِي الْمِيْزَانِ اَثْقَلُ مِنْ حُسْن الْخُلُقِ وَاِنَّ صَاحِبَ حُسْن الْخَلْقِ ليَبْلغُ بِهِ
 دَرَجَة صَاحِبِ الصَّوْمِ وَالصَّلاَةِ
”Tiada sesuatu pun diletakkan dalam timbangan (akhirat) yang lebih berat dari kebagusan akhlak, dan sesungguhnya orang yang berakhlak bagus benar-benar mencapai derajat orang yang melakukan shalat dan puasa.” HR. At-Tirmidzi
       Jika seseorang memiliki akhlak yang buruk atau melakukan perbuatan tercela, lalu ia menghentikannya dan memperbaiki diri dengan akhlak yang baik atau perbuatan terpuji, maka amal buruknya itu akan terhapus dari catatan malaikat dan diganti dengan catatan amal kebaikan. Agar kita dapat memperbaiki diri, maka sangat dianjurkan untuk bergaul atau berteman dengan manusia yang berakhlak baik. Dalam kitab Ta’limul muta’allim telah dijelaskan, untuk mengetahui tingkah laku seseorang tidak perlu bertanya langsung kepada orang tersebut, cukup melihat pada teman yang menemaninya. Karena teman adalah cerminan dari yang ditemaninya. Itulah makna dari sabda Nabi Muhammad SAW:
اِتَّقُ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَاتَّبِع السَّيِّئة الْحَسَنَة تَمْحُهَا وَخَالِقَ النَّاسَ بِخُلُقِ حَسَنٍ
“Bertaqwalah kepada Allah dimanapun kamu berada. Susulilah keburukan dengan (melakukan) kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapusnya. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. At Tirmidzi)



BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
       Salah satu inti ajaran Islam adalah masalah akhlak, karena baik atau buruknya seseorang itu diukur dan diketahui dari akhlaknya. Akhlak pada hakikatnya adalah situasi dan kondisi yang tertanam dalam jiwa yang kemudian muncul darinya ucapan, perbuatan, atau sikap yang dinilai baik atau buruk, bagus atau jelek, dan pantas atau tabu. Setiap muslim diperintah untuk berhias diri dengan akhlak terpuji dan berlepas diri dari akhlak tercela, baik dalam etikanya dengan diri sendiri, sesama manusia, makhluk lain, dan lingkungan alam sekitar maupun dengan Tuhannya. Etika dengan diri sendiri misalnya menjaga nama baik diri sendiri, etika dengan sesama manusia misalnya menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda. Etika dengan makhluk lain misalnya menyayanginya dengan memberi makan, merawatnya, etika dengan alam sekitar misalnya tidak merusak alam, menjaga kelestarian alam, dan etika terhadap Tuhan misalnya selalu menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Dalam Islam, baik atau buruknya akhlak seseorang menjadi indikator kadar keimanannya, menunjukkan kualitas amalnya, serta menentukan derajat dan posisinya di akhirat.
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (QS. An Nahl (16): 90).”
       Ayat tersebut menjelaskan bahwa manusia disuruh untuk berlaku adil dan berbuat kebajikan. Diantaranya yakni selalu memaafkan orang yang pernah berlaku salah dengan kita, bertakwa, dan selalu mensyukuri nikmat yang diberikan Allah kepada kita.

Hubungan QS An Nahl:  90 dengan QS. Asy-Syura (42) : 40.
“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa. Akan tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.”  
       Kebaikan memang harus dibalas dengan kebaikan yang sepadan. Namun, keburukan tidak seperti itu. Keburukan ibarat api. Api hendaknya tidak dibalas dengan api, karena akan menjadi semakin besar nyalanya dan sulit dipadamkan. Api hendaknya dibalas dengan air agar berkurang baranya atau menjadi padam sama sekali. Api dendam dan bara permusuhan diantara dua pihak yang berseteru akan lebih mudah dipadamkan jika salah satu pihak mau menahan diri, membuka pintu islah, dan menyiramkan air kebajikan. Sehingga pihak yang tadinya menjadi musuh utama bisa berbalik menjadi sekutu setia. Maka dari itu, sebaiknya manusia memiliki sifat pemaaf terhadap sesamanya agar tercipta hubungan sosial yang harmonis, dan hidup mereka tenang. Karena Allah tidak menyukai orang yang dzalim. Orang yang dzalim salah satunya adalah orang yang tingkah laku atau ucapannya menyakiti orang lain.

Hubungan QS An Nahl: 90 dengan QS. Al Baqarah: 177
”Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan), dan orang-orang  yang meminta-minta, dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan sholat, dan menunaikan zakat, dan orang-orang yang menepati janji apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya) dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.”
       Takwa termasuk salah satu perbuatan yang baik. Takwa yakni beriman kepada Allah, hari kiamat, malaikat, kitab, nabi. Tidak hanya itu, memberikan harta yang dicintainya untuk diberikan kepada kerabatnya, anak yatim, orang miskin, musafir yang memerlukan bantuan, orang yang meminta, dan memerdekakan budak. Namun, dizaman yang modern ini sudah tidak ada lagi budak. Menjalankan rukun islam (mendirikan sholat, zakat, puasa), menepati janji. Dalam berjanji harus konsisten, tidak boleh menyepelekan, karena orang yang berjanji harus ditepati. Dan harus berhati-hati dalam mengucapkan janji, yang sekiranya dapat dilakukan, dan tidak memberatkan.
       Selalu sabar. Ketika mendapat nikmat Allah yang cukup, harus bersyukur, dalam keadaan sempit pun harus bersyukur. Dalam keadaan sakit juga harus bersabar dan bersyukur. Karena Allah juga berfirman tidak akan menguji diluar batas kemampuan hambaNya. Allah memberikan ujian kepada hambaNya untuk mengukur seberapa besar iman hambaNya.

Hubungan QS. An Nahl: 90 dengan QS. An Naml: 59
“Katakanlah: Segala puji bagi Allah dan kesejahteraan atas hamba-hambaNya yang dipilihNya.”           
       Nikmat yang kami terima itu adalah pemberian dari Allah. Maka dari, itu ketika kita mendapat suatu kenikmatan, wajib bagi kita utuk membaca hamdalah atau mengucapkan syukur kepada Allah. Bersyukur kepada Allah juga termasuk perbuatan yang bajik. Nikmat tidak selalu berupa materi, namun bisa juga berupa kesehatan dan kebahagiaan. Bisa berkumpul dengan keluarga merupakan suatu kenikmatan yang wajib disyukuri.

Hubungan QS. An Nahl: 90 dengan HR. Abu Dawud
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang terbagus akhlaknya.” HR. Abu Dawud
       Semakin bagus akhlaknya pula amalnya semakin berkualitas. Maka, orang yang berakhlak baik dan beramal baik, akan mendapat derajat yang baik pula diakhiratnya. Sebaliknya, orang yang berakhlak buruk dan beramal buruk, akan mendapat tempat yang sesuai atau yang pantas mereka terimanya. Maka, kita senantiasa dianjurkan untuk selalu berakhlak yang baik.

Hubungan QS. An Nahl: 90 dengan HR. Ahmad
 “Silaturrahim serta kebagusan akhlak dan kebagusan bertetangga itu memakmurkan rumah dan menambah (keberkahan) umur.” HR. Ahmad
       Selain mendapat derajat yang baik diakhirat, akhlak mulia termasuk perkara yang memakmurkan rumah dan menambah keberkahan usia. Dengan berakhlak mulia, kehidupan bertetangga semakin tentram karena tidak ada lagi permusuhan, atau hal-hal yang tidak disenangi Allah. Karena berakhlak mulia pula, manusia bisa mengamalkan yang diajarkan Allah sehingga umur mereka menjadi berkah. Umur yang dijalani selalu mendapat keberkahan karena selalu ingat kepada Allah.

Hubungan QS. An Nahl: 90 dengan HR. Abu Ya’la
 “Konsistenlah kamu dengan kebagusan akhlak dan banyak diam. Demi Dzat yang diriku ada dalam tanganNya, tiada amal para makhluk yang semisal keduanya.”  HR. Abu Ya’la
       Istiqomah dalam menjaga kebagusan akhlak merupakan salah satu perkara yang disenangi oleh Allah. Akhlak mulia termasuk amal saleh yang paling utama dan paling berat timbangannya di akhirat. Allah sangat menyukai orang-orang yang berakhlak mulia dan tidak ada amal para makhluk yang lebih baik daripada kebagusan akhlak.


Hubungan QS. An Nahl: 90 dengan HR. At Tirmidzi
”Tiada sesuatu pun diletakkan dalam timbangan (akhirat) yang lebih berat dari kebagusan akhlak, dan sesungguhnya orang yang berakhlak bagus benar-benar mencapai derajat orang yang melakukan shalat dan puasa.” HR. At-Tirmidzi
       Orang yang berakhlak bagus, benar-benar mencapai derajat orang yang melakukan shalat dan puasa. Sehingga timbangan diakhirat menjadi lebih berat kebagusan akhlaknya. Karena orang yang berakhlak bagus tentu saja ia taat terhadap Allah.

Hubungan QS. An Nahl: 90 dengan HR. At Tirmidzi
“Bertaqwalah kepada Allah dimanapun kamu berada. Susulilah keburukan dengan (melakukan) kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapusnya. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” HR. At Tirmidzi
       Dimanapun kita berada, Allah selalu mengawasi kita. Maka, jika seseorang memiliki akhlak yang buruk atau melakukan perbuatan tercela, lalu ia menghentikannya dan memperbaiki diri dengan akhlak yang baik atau perbuatan terpuji, maka amal buruknya itu akan terhapus dari catatan malaikat dan diganti dengan catatan amal kebaikan. Agar kita dapat memperbaiki diri, maka sangat dianjurkan untuk bergaul atau berteman dengan manusia yang berakhlak baik. Dalam kitab Ta’limul muta’allim telah dijelaskan, untuk mengetahui tingkah laku seseorang tidak perlu bertanya langsung kepada orang tersebut, cukup melihat pada teman yang menemaninya. Karena teman adalah cerminan dari yang ditemaninya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar