BERBAKTI KEPADA ORANG TUA
Makalah ini disusun guna melengkapi Tugas Ulangan Tengah Semester
Mata Kuliah Studi Tafsir Tarbawi
Dosen Pengampu Abdullah Ma’sum Alh, S.Pd.I

Disusun Oleh :
ISNAENI MAHARDIKA
2015010068
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN (FITK)
UNIVERSITAS SAINS AL-QURAN (UNSIQ)
WONOSOBO
DI JAWA TENGAH
2017
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rosululloh SAW beserta keluarga, para sahabat dan seluruh umatnya pada akhir zaman. Berkat izin dan karuniaNYA penyusun mampu menyelesaikan tugas makalah dengan judul “Berbakti Kepada Orang Tua”. Dalam kesempatan ini kami menyampaikan rasa terima kasih:
1. Abdullah Ma’sum Alh, S.Pd.I sebagai dosen pembimbing mata kuliah Studi Tafsir Tarbawi
2. Teman teman dari kelas PAI IV E serta semua pihak yang telah membantu kami
Penyusun telah berupaya semaksimal mungkin untuk menyusun makalah ini dengan sebaik baiknya, namun mungkin masih ada kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan dari semua pihak.
Akhirnya dengan tersusunya makalah ini, semoga berguna dan bermanfaat, khususnya di dunia pendidikan dan masyarakat. Semoga Allah SWT senantiasa meridhoi dan memberkati hidup dan perjuangan kita. Amin.
Wonosobo, Mei 2017
Penyusun
Pendahuluan
A. Latar Belakang
Islam telah mengajarkan kepada kita agar berbakti kepada orang tua, mengingat banyak dan besarnya pengorbanan serta kebaikan orang tua terhadap anak, yaitu memelihara dan mendidik kita sejak kecil tanpa perhitungan biaya yang sudah dikeluarkan dan tidak mengharapkan balasan sedikit pun dari anak, meskipun anak sudah mandiri dan berkecukupan tetapi orang tua tetap memperhatikan kasih sayangnya, oleh karena itu seorang anak memiliki kewajiban terhadap orang tuanya menempati urutan kedua setelah Allah swt dan kita juga dilarang durhaka kepad keduanya.
Pengertian Berbakti Kepada Orang Tua (Birrul Walidain)
Istilah Birrul Walidain terdidri dari kata Birru dan al-Walidain. Birru atau al-birru artinya kebajikan dan al-walidain artinya kedua orang tua atau ibu bapak. Jadi, birrul walidain adalah berbuat kebajikan terhadap kedua orang tua.
Birrul Walidain (Arab: بر الوالدين) adalah bagian dalam etika Islam yang menunjukan kepada tindakan berbakti (berbuat baik) kepada kedua orang tua. Yang mana berbakti kepada orang tua ini hukumnya fardhu (wajib) ain bagi setiap Muslim, meskipun seandainya kedua orang tuanya adalah non muslim. Setiap muslim wajib mentaati setiap perintah dari keduanya selama perintah tersebut tidak bertentangan dengan perintah Allah. Birrul walidain merupakan bentuk silaturahim yang paling utama.
Dalam Islam tidak saja ditekankan harus menghormati kedua orang tua saja, akan tetapi ada akhlak yang mengharuskan orang yang lebih muda untuk menghargai orang yang lebih tua usianya dan yang tua harus menyayangi yang muda, seorang ulama dalam bukunya juga menjelaskan hal yang serupa. Dalam segala kegiatan umat Islam diharuskan untuk mendahulukan orang-orang yang lebih tua usianya, penjelasan ini berdasarkan perintah dari Malaikat Jibril, karena dikatakan bahwa menghormati orang yang lebih tua termasuk salah satu mengagungkan Allah.
B. Kedudukan Birrul Walidain
Birrul Walidain mempunyai kedudukan yang istimewa dalam ajaran islam. Allah dan Rasul-Nya menempatkan orang tua pada posisi yang sangat istimewa, sehingga berbuat baik pada keduanya juga menempati posisi yang sangat mulia, dan sebaliknya durhaka kepada keduanya menempati posisi yang sangat hina. Karena mengingat jasa ibu bapak yang sangat besar sekali dalam proses reproduksi dan regenerasi umat manusia.
Secara khusus Allah juga mengingatkan betapa besar jasa dan perjuangan seorang ibu dalam mengandung, menyusui, merawat dan mendidik anaknya. Kemudian bapak, sekalipun tidak ikut mengandung tapi dia berperan besar dalam mencari nafkah, membimbing, melindungi, membesarkan dan mendidik anaknya, sehingga mampu berdiri bahkan sampai waktu yang sangat tidak terbatas. Berdasarkan semuanya itu, tentu sangat wajar dan logis saja, kalau si anak dituntut untuk berbuat kebaikan kepada orang tuanya dan dilarang untuk mendurhakainya.
C. Bentuk-Bentuk Birrul Walidain
Adapun bentuk-bentuk Birrul Walidain di antarannya:
Taat dan patuh terhadap kedua orang tua, taat dan patuh kepada orang tua dalam nasihat, dan perintahnya selama tidak menyuruh berbuat masksiat atau berbuat musyrik, bila kita disuruhnya berbuat maksiat atau kemusyrikan, tolak dengan cara halus dan kita tetap menjalin hubungan dengan baik.
Senantiasa berbuat baik terhadap kedua orang tua, bersikap hormat, sopan santun, baik dalam tingkah laku maupun tutur kata., memuliakan keduanya terlebih diusia senja.
Mengikuti keinginan dan saran orang tua dalam berbagai aspek kehidupan, baik masalah pendidikan, pekerjaan, jodoh, maupun masalah lainnya. Selama keinginan dan saran-saran itu sesuai dengan ajaran islam.
Membantu ibu bapak secara fisik dan materil. Misalnya, sebelum berkeluarga dan mampu berdiri sendiri anak-anak membantu orang tua terutama ibu. Dan mengerjakan pekerjaan rumah.
Mendoakan ibu bapak semoga diberi oleh Allah kemampuan, rahmat dan kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat.
Menjaga kehormatan dan nama baik mereka.
Menjaga, merawat, ketika mereka sakit, tua dan pikun.
Setelah orang tua meninggal dunia, Birrul Walidain masih bisa diteruskan dangan cara antara lain:
Mengurus jenazahnya dengan sebaik-baiknya.
Melunasi semua hutang-hutangnya.
Melaksanakan wasiatnya.
Meneruskan silaturahmi yang dibinanya sewaktu hidup.
Memuliakan sahabat-sahabatnya
Mendoakannya.
D. Berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an
Berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tua itu adalah perkara yang penting lagi agung dan diwajibkan bagi setiap manusia, khususnya kaum muslimin. Telah banyak disebutkan oleh Allah SWT di dalam Al-Qur’an yang mulia beberapa ayat yang berkaitan dengannya.
Mayoritas ayat-ayat Al-Qur’an telah menyebutkan perintah untuk berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tua itu setelah perintah untuk beribadah kepada Allah Azza wa Jalla, mentauhidkan-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun (yakni tidak berbuat syirik). Maka kedudukan berbuat baik dan berbakti kepada keduanya itu mempunyai kedudukan yang besar karena diletakkan setelah beribadah kepada-Nya dan mentauhidkan-Nya.
Namun berapa banyak diantara manusia yang menyepelekan masalah ini dan enggan berbuat baik kepada kedua orang tuanya kecuali hanya sekedar pencitraan belaka untuknya. Banyak dijumpai anak yang mengabaikan perintah Allah ta’ala dan Rasulullah SAW dalam perkara ini, misalnya:
Banyak diantara anak-anak yang hanya meminta segala sesuatu kepada kedua orang tuanya tanpa melihat kemampuan dan kesanggupan mereka.
Banyak diantara mereka yang menunjukkan wajah kecewa dan kesal kepada keduanya ketika keinginannya tidak dapat dipenuhi oleh mereka.
Membiarkan salah satu atau keduanya mengerjakan sesuatu tanpa keinginan
Bertengkar dengan sesama saudara dengan suara yang keras, saling membentak apalagi sampai berkelahi dihadapan keduanya.
Enggan mengerjakan sesuatu yang diperintahkan oleh keduanya atau meninggalkan sesuatu yang dilarang oleh mereka apalagi jika sampai menunjukkan pembangkangan kepada keduanya dengan suara penolakan yang keras atau wajah yang ketus dan masam.
Diantara ayat-ayat Al-Qur’an dan penjelasannya yang memerintahkan umat Islam untuk berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tuanya dalam surat Al-Isra’ ayat 23 adalah sebagai berikut:
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَٰنًاۚ إِمَّا يَبۡلُغَنَّ عِندَكَ ٱلۡكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوۡ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفّٖ وَلَا تَنۡهَرۡهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوۡلٗا كَرِيمٗا ٢٣ وَٱخۡفِضۡ لَهُمَا جَنَاحَ ٱلذُّلِّ مِنَ ٱلرَّحۡمَةِ وَقُل رَّبِّ ٱرۡحَمۡهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرٗا ٢٤
“Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah menyayangiku pada waktu kecil.’” (QS : Al-Isro: 17/ 23-24Ayat Pendukung
وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيۡهِ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُۥ وَهۡنًا عَلَىٰ وَهۡنٖ وَفِصَٰلُهُۥ فِي عَامَيۡنِ أَنِ ٱشۡكُرۡ لِي وَلِوَٰلِدَيۡكَ إِلَيَّ ٱلۡمَصِيرُ ١٤
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.”(QS : Luqman :31/ 14
E. Berdasarkan hadist-hadist
Berbakti terhadap kedua orang tua dan bahwa mereka adalah yang paling berhak menerima kebaktian tersebut.
عَنْ اَبِي هُرَيرَةَ رضي الله عنه قال جَاءَ رَجُلٌ الى رسولِ الله صلى الله عليه وسلم فقال يَا رسولَ الله مَنْ اَحَقًّ النّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قال: اُمُّك قال: ثُمَّ مَنْ؟ قال: ثُمَّ اُمُّك قال: ثم من؟ قال :ثم امُّك قال: ثم من؟ قال : ثم اَبُوْكَ (اخرجه البخاري)
Dari Abu Hurairah radhhiyallahu ‘anhu dia berkata; “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam sambil berkata; “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang berhak aku berbakti kepadanya?” Beliau menjawab: “Ibumu”. Dia bertanya lagi; “Kemudian siapa?” Beliau menjawab: “Ibumu”. Dia bertanya lagi; “Kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab: “Ibumu”. Dia bertanya lagi; “Kemudian siapa?” Beliau menjawab: “Kemudian ayahmu”.Hadis Abdullah ibnu Umar tentang ridho Allah terletak pada ridho orang tua.
عَنْ عَبْدُ الله بن عَمْرٍو رضي الله عنهما قال قال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: رِضَى اللهُ فى رِضَى الوَالِدَيْنِ و سَخَطُ الله فى سَخَطُ الوَالِدَيْنِ
( اخرجه الترمذي وصححه ابن حبان والحاكم)
Artinya: dari Abdullah bin ‘Amrin bin Ash r.a. ia berkata, Nabi SAW telah bersabda: “ Keridhoaan Allah itu terletak pada keridhoan orang tua, dan murka Allah itu terletak pada murka orang tua”. ( H.R.A t-Tirmidzi. Hadis ini dinilai shahih oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim
Hadis Abdullah bin Mas’ud tentang amal yang paling disukai Allah SWT.
عَبْدُ الله بن مَسْعُودٍ قال سَاَ لْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم ايُّ الْعَمَلِ اَحَبُّ الى الله قال: الصَّلَاةُ على وَقْتِهَا قال: ثم اي قال:ثُمَّ بِرُّ الْوَالْدَيْنِقال: ثم اي قال: الجِهَادُ فى سَبِيْلِ الله
Artinya: “ dari Abdullah bin Mas’ud r.a. ia berkata: “ Saya bertanya kepada Nabi saw: amal apakah yang paling disukai oleh Allah Ta’ala?” beliau menjawab: “ shalat pada waktunya. “ saya bertanya lagi: “ kemudian apa?” beliau menjawab: “ berbuat baik kepada kedua orang tua. “ saya bertanya lagi: “ kemudian apa?” beliau menjawab: “ berjihad(berjuang) di jalan Allah.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Hadis Al-Mughirah bin Su’bah tentang Allah mengharamkan durhaka kepada ibu, menolak kewajiban, meminta yang bukan haknya.
عن المغيرة بن شعبة قال النبي صلى الله عليه وسلم : ان الله حرم عليكم عقوق الامهات ووأد البنات ومنع وهات وكره لكم قيل وقال وكثرة السؤال واضاعة المال (اخرجه البخاري)
Artinya: dari Al-Mughirah bin Syu’ban r.a. ia berkata, Nabi Saw telah bersabda: “ Sungguh Allah ta’ala mengharamkan kalian durhaka kepada ibu, menolak kewajiban, meminta yang bukan haknya dan mengubur hidup-hidup anak perempuan. Allah juga membenci orang yang banyak bicara, banyak pertanyaan dan menyia-nyiakan harta.” (H.R.Bukhari).
Hadis Abdullah ibnu Umar tentang dosa-dosa besar.
عن عبد الله بن عمر ورضى الله عنهما قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ان من اكبر الكبا ئر ان يلعن الر جل والديه . قيل رسول الله.و كيف يلعن لر جل والديه ؟ قا ل: يسب الرجل ابا لرجل فيسب أبا لرجل فيسب أبا ه و يسب ( أخر جه امام بخاري)
Artinya: “ dari Abdullah bin ‘amr bin al-ash ia berkata, Rasulullah Saw telah bersabda: “ diantara dosa-dosa besar yaitu seseorang memaki kedua orang tuanya. “ para sahabat bertanya: “ Wahai Rasulullah, apakah ada seseorang yang memaki kedua orang tuanya?” Beliau menjawab: “ Ya, apabila seseorang memaki ayah orang lain, kemudian orang itu membalas memaki ayahnya kemudian ia memaki ibu orang lain, dan orang itu memaki ibunya. (H.R. Bukhari).
F. Uququl Walidain
Bakti adalah kata yang mencangkup kebaikan dunia dan akhirat. Berbakti kepada kedua orang adalah berbuat baik kepada mereka memenuhi hak-hak mereka dan menaati mereka dalam hal-hal yang mubah, bukan hal-hal yang maksiat. Adapaun lawan kata bakti adalah durhaka. Durhaka dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yaitu tidak setia dan khianat, namun dalam kaitan durhaka kepada orang tua adalah berbuat buruk kepada mereka dan menyia-nyiakan hak mereka, secara bahasa kata al-‘uquq (durhaka) berasal berasal dari kata al-‘aqqu yang berarti al-qathu’ (memutus, merobek, memotong, membelah). Adapun menurut syara’ adalah setiap perbuatan atau ucapan anak yang menyakiti kedua orang tuanya yakni, yakni selain kemusyrikan atau bentuk kemaksiatan (kepada Allah).
Dan kemudian diartikan bahwa uququl walidaina adalah mendurhakai orang tua. Seperti kita lihat bersama bahwa Uququl walidain adalah gangguan yang ditimbulkan oleh anak terhadap kedua orang tuanya baik berupa perkataan maupun perbuatan, seperti contoh gangguan yang berupa perkataan yaitu dengan mengatakaan akh, ihk, huh atau chis, berkata dengan kalimat yang keras atau menyakiti hati, menggertak, mencaci dan lain sebagainya. Sedangkan yang berupa perbuatan yaitu dengan berlaku kasar seperti memukul dengan tangan atau kaki bila orang tua menyuruh atau tidak menuruti keinginannya, membenci tidak memperdulikan, tidak bersilaturrahmi atau tidak memberikan nafkah kepada kedua orang tua yang miskin.
G. Hukum Uququl Walidain
Uququl walidain adalah perbuatan durhaka atau menyakiti hati orangtua, baik dengan ucapan, atau perbuatan seperti memutus hubungan baik dengannya. Dan perbuatan jahat ini haram hukumnya dan termasuk dosa besar.
Dalil yang menyatakan demikian di antaranya riwayat dari Anas ibnu Malik, ia berkata, “Nabi ditanya tentang dosa dosa besar, beliau menjawab: yaitu menyekutukan Allah dan durhaka kepada orangtua.” (Riwayat Bukhari).
Riwayat dari Abdullah ibnu Umar radhiyallahu anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda, “Ada tiga golongan yang tidak akan masuk surga, (dalam redaksi yang lain, Allah tiada akan melihatnya pada hari kiamat), yaitu orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya.” (Riwayat An Nasa’i).
Di dalam Al Quran, larangan berbuat durjana kepada orangtua serta perintah agar berbakti kepada keduanya sangatlah banyak. Allah berfirman di dalam surat An Nisa’ ayat 36: “Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu menyekutukan Nya. Dan hendaklah kalian berbuat baik kepada orangtua…”
Ayat dan Hadits di atas menunjukkan betapa besar bahaya yang ditimbulkan karena mendurhakai orangtua. Yakni tidak dimasukkannya ke dalam surga dan terhalang mendapatkan rahmat Allah ta’ala.
Penutup
Kesimpulan
Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa, islam mengajarkan umatnya untuk berbakti kepada orang tua. Hal ini mengingat bahwa banyak jasa dan pengorbanan dari orang tua kepada anak semasa kecil maupun hidupnya.Oleh sebab itu anak diwajibkan untuk merawat, menyayangi dan mengasihi orang tua sama seperti apa yang dilakukan orang tua dulu.
Birrul Walidain (Arab: بر الوالدين) adalah bagian dalam etika Islam yang menunjukan kepada tindakan berbakti (berbuat baik) kepada kedua orang tua. Yang mana berbakti kepada orang tua ini hukumnya fardhu (wajib) ain bagi setiap Muslim, meskipun seandainya kedua orang tuanya adalah non muslim. Setiap muslim wajib mentaati setiap perintah dari keduanya selama perintah tersebut tidak bertentangan dengan perintah Allah. Birrul walidain merupakan bentuk silaturahim yang paling utama.
Sebagai seorang anak, sebaiknya kita selalu mengharap keridoan dari keduanya dan memenuhi perintah-perintahnya, sepanjang tidak untuk berbuat maksiat. Juga anak harus selalu mementingkan keduanya dengan mendahulukan keinginan– keinginannya dari pada kepentingan dan keinginan pribadi . Pernahkah anda membayangkan saat pulang kerumah mendapati orang tua kita sudah terbaring kaku dibungkus dengan kain kafan. Perasaan menyesal terbesit dalam hati karena sebagai anak belum cukup berbakti. Untuk itu tunaikanlah kewajiban kita selagi kedua orang tua masih hidup. Berbuat baiklah pada kedua orang tua.
Birrul walidain: kebaikan-kebaikan yang dipersembahkan oleh seorang anak kepada kedua orang tuanya. Lawannya adalah durhaka kepada kedua orang tua, berbuat kejelekan dan menyianyiakan hak.
Berbuat baik kepada orang tua merupakan kewajiban seorang anak. Sehingga kita berkewajiban melaksanakan apa yang telah diperintahkan dalam Al Quran dan As Sunnah.
Ketika orang tua telah meninggal dunia, maka tidak ada yang diharapkan dari yang hidup kecuali apa-apa yang bisa memberikan manfaat kepada akhiratnya, berupa pahala dan yang dapat menyelamatkannya dari siksa.
Allah SWT telah mengharamkan bagi seorang anak durhaka kepada kedua orang tuanya (uququl walidain). Asy-Syaikh Abu ‘Amr bin Ash-Shalah rahimahullah bertutur dalam kitab Al-Fataawaa, bahwa ‘uququl walidain adalah setiap perbuatan yang bisa menyebabkan orang tua terluka atau yang semisalnya. Termasuk dosa besar perbuatan yang mengarah pada kedurhakaan, seperti memaki atau menghina orang tua orang lain. Dan Allah akan mempercepat azab bagi orang-orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya sebelum datangnya ajal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar