Rabu, 10 Mei 2017

NIAT KARENA ALLAH SWT



NIAT KARENA ALLAH SWT
Disusun guna memenuhi salah satu tugas matakuliah
Study Tafsir Al-Qur’an
Dosen Pengampu: Abdullah Ma’sum Alh, S.Pd.I




Oleh :
Murni Sulasih (201010113)
PAI 4E

PROGRM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN (FITK)
UNIVERSITAS SAINS AL-QUR’AN (UNSIQ)
JAWA TENGAH DI WONOSOBO
2017
NIAT KARENA ALLAH SWT
Niat karena Allah SWT adalah melalakukan sagala perbuatan yang tujuannya hanya kepada Allah SWT. Dalam bahasa Arab yaitu Lillahi-Ta’ala (kepada Allah yang Maha Luhur). Tujuannya adalah “Yarjuuna ohmatahu Wayakhoofuna Adzaabah” yaitu niat yang hanya berharap rahmat Allah (Ridho Allah dan surga Allah) dan khawatir/takut azab/siksa/neraka Allah. Melakukan segala aktifitas keseharian yang semata diniati karena Allah akan mendatangkan pahala dan pertolongan Allah. Sebaliknya, jika melakukan segala aktifitas keseharian yang tidak dilandasi karena Allah, tidak mendatangkan pahala bahkan merugikan diri sendiri. Jadi hanya amalan setiap hari yang karena Allah saja yang akan dibalas pahala oleh Allah.
1.      Firman Allah dalam surat Al-Lail ayat 19-21.
وَمَا لِأَ حَدٍعِنْدَ هُ مِنْ نِّعْمَةٍ تُجْزَىَ (١٩) اِلاَّابْتِغَا ءَوَجْهِ رَبِّهِ لْأَعْلَى(٢٥) وَلَسَوْ فَ يَرْ ضَ(٢١)
“Dan tidak ada seorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannnya yang Maha Tinggi. Dan niscaya kelak dia akan mendapat kesenangan (yang sempurna)”.
(QS. Al-Lail: 19-21)
2.      Hadist-hadits pendukung:
(١)    وَإِنَّمَا ِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
Artinya: “Sesungguhnya bagi setiap orang itu hanyalah sesuai dengan apa yang diniatkannya.”
Sahabat Umar r.a. telah menceritakan, Bahwa Nabi Saw. telah bersabda:
(٢) اِنَّمَا الْأَ عْماَ لُ بِا لنِّيَّا تِ وَ إِ نَّماَ لِكُلِّ امْرِىءٍماَنَوَى فَمَنْ كَا نَتْ هِجْرَ تُهُ إِلَ اللهِ وَرَ سُوْلِهِ فَهِخْرَ تُهُ إِلَ الَّلهِ وَرَسُوْلِهِ وَمَنْ كَا َنَتْ هِجْرَ تُهُ إِلَ دُنْبَا يُصِيْبُهَا أَوِاُمْرَ أَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَ تُهُ إِ ليَ مَا هَا جَرَ إِليْهِ هِجْرَ تُهُ إليَ دُ نْيَا يُصِيْبُهَا أَوِاُمْرَ أَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَ تُهُ إِلَي مَا هَا جَرَ إِ لَيْهِ (رواهلخمسة)
“Sesungguhnya semua amal perbuatan hanya bergantung kepada niat-nya masing-masing, dan setiap orang hanya memperoleh apa yang diniatkan. Barang siapa niat hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasulnya. Barang siapa niat hijrahnya kepada perkara duniawi, niscaya ia akan memperolehnya, atau wanita niscaya ia akan menikahinya, maka hijrahnya sesuai dengan apa yang telah diniatkannya.” (Riwayat Khamsah)
Sahabat Ibnu Abbas r.a. telah menceritakan sebuah hadits bersumber langsung dari Nabi Saw. mengenai hal yang beliau riwayatkan dari Rabbnya. Nabi Saw. telah bersabda:
 (٣) إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْحَسَنَا تِ والسَّيٍءَتِ ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ ْيَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَا مِلَةً وإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ عِنْدَ هُ عَشْرَحَسَنَا تٍ إِلَى سَبْعِمِا ئَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَا فٍ كَثِيْرَ ةٍ وَإٍهَمَّ بِسَيِئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَا مِلَةً وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَلِمَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ َيِّئَةً وَاَحِدَ ةً (رَوَهُ الْخَمْسَةُ إِلاَّ أَبَا دَاوُدَ)
“Sesungguhnya Allah telah mencatat semua kebaikan dan keburukan, kemudian menjelaskannya. Maka barang siapa yang berniat untuk mengerjakan suatu kebaikan lalu ia tidak mengerjakan, niscaya Allah mencatatnya sebagai suatu amal kebaikan yang penuh disisi-Nya. Apabila ia berniat untuk mengerjakan kebaikan, lalu ia mengerakannya, niscaya sampai lipatan yang banyak sekali (tak terhingga). Dan apabila dia berniat mengerjakan suatu keburukan, tetapi ia mengerjakannya, niscaya Allah menuliskan disisi-Nya pahala satu kebaikan penuh. Dan apabila ia berniat untuk melakukannya, laliu ia benar-benar mengerakannya, niscaya Allah menuliskan disisi-Nya hanya satu keburukan (baginya)”. (Riwayat Khamsah kecuali Abu Daud ).
Sahabat Abu Hurairah r.a. telah menceritakan bahwa Nabi Saw. telah bersabda:
(٤) إِنَّاللَّهَ لاَ يَنْظُرُإِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَا لِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُإِلَى قُلُبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
 (رَوَاهُ مُسْلمٌوابْنُ مَا جَهْ) 
“Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada bentuk dan harta kalian tetapi memandang kepada kalbu dan amal perbuatan kalian.” (HR. Muslim dan Ibnu Majah)

(٥) نِيَّتُ الْمَرْءِ خَيْرٌمِنْ عَمَلِهِ
“Niat seseorang lebih baik dari amalnya.”
Maksudnya, niat amal soleh tanpa mengerakannya adalah lebih baik daripada amal tanpa niat, Allah Maha Luas Pemberian-Nya.
3.      Ayat-ayat yang berhubungan dengan QS. Al-Lail ayat 20.
a.    QS. Al-An’am: 60
مَنْ جَآءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُاَمْثَا لِهَاخ وَمَنْ جَآ ءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلاَ يُجْزَاِلاَّمِثْلَهَا وَهُمْ لاَيُظْلَمُونَ (٦.)
“Barang siapa membawa amal baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barang siapa yang membawa perbuatan yang ahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan keahatannya, sedangkan mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)”.
b.    QS. Al-Maidah: 27
اِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَّ الْمُتَّقِيْنَ (٢٧)
“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertaqwa.”
c.    QS. Al-Mulk: 2
لِيَبْلُوَ كُمْ أَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلاَ (٢)
“Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya”.






Kesimpulan
Niat menurut istilah bahasa artinya bertujuan, sedangkan menurut syariat ialah bertujuan untuk mengerjakan suatu hal yang disertai dengan pekerjaanya. Hukum niat adalah fardhu dalam semua amal ibadah, tempat niat dalam hati, karena itu tidak cukup hanya dengan ucapan saja sedangkan hatinya lalai dan lupa. Niat adalah dasar segala perbuatan, oleh karena itu setiap perbuatan manusia diterima tidaknya disisi Allah sebatas niatnya. Maka barang siapa mengerjakan suatu pekerjaan niatnya murni karena Allah dan mengharapkan ganjaran akhirat dan perbuatannya itu sesuai dengan tuntunan Rasulullah Saw, maka amalnya akan diterima oleh Allah. Dan barang siapa niatnya untuk selain Allah atau tidak ikhlas karena Allah seperti dia menyekutukan-Nya dengan makhluk, maka pekerjaan itu akan ditolak dan hanya akan menjadi bencana.
Niat yang paling baik adalah niat untuk mendapatkan ridho Allah atau untuk mendekatkan diri kepada Allah. Orang yang berbuat kebaikan hanya untuk mendapat ridho Allah akan mendapatkan pahala berlipat ganda.
Semua amal perbuatan baik yang berhubungan dengan ucapan atau pekerjaan, baik yang fardhu maupun sunah, yang semuanya dikerjakan oleh orang-orang mukallaf, sahnya semua amal perbuatan mereka hanyalah niat. Apabila seseorang berniat untuk melakukan suatu keburukan lalu ia benar-benar mengerjakannya, maka dituliskan baginya hanya satu keburukan. Hal ini merupakan salah satu di antara kebaikan syariat agama Islam.
Niat yang ikhlas, selain mendatangkan keridhaan dan pahala dari Allah Ta’ala, juga akan meneguhkan hati kita disaat ujian datang. Dan hati kita akan tetap lapang, bagaimanapun hasil yang kita dapatkan setelah usaha dan do’a. Allah juga tidak menyebutkan amal yang paling banyak, akan tetapi Dia menyebutkan amal yang paling baik.
Melakukan sesuatu dengan niat untuk Allah Swt. Akan lebih baik jika dibandingkan dengan melakukan sesuatu karena ketakutan akan hal-hal tertentu. Dalam hal ini adalah takut neraka. Dan dalam kehidupan sehari-hari ketika kita melakukan sesuatu karena ketakutan maka kita tidak akan mendapatkan apa-apa. Karena pada umumnya ketika takut, kita akan lebih menghindar bukan menghadapi tantangan. Padahal kita senantiasa dituntut untuk kerja keras dalam berjuang membela kebenaran. Oleh sebab itu, Allah melarang kita untuk takut sesungguhnya pertolongan Allah sangatlah dekat.
Niat itu mudah diucapkan tetapi sukar untuk dipraktikkan. Ketika ada niat baik, maka saat itu iblis telah bersiap siaga untuk menjerumuskan dan merusaknya. Padahal awalnya niat itu murni karena Allah. Itulah sebabnya, Ibnu Qoyim menyatakan bahwa ikhlas itu keikhlasan. Niat itu teempatnya didalam hati. Agar tetap terjaga utuh, seseorang harus menata niatnya sebelum melakukan amal, ketika melakukannya, dan sesudah melakukannya. Dan hal itu bisa dimiliki dengan memulai berbagai latihan (riyadhah) mental yang intensif, yakni berusaha menata niat, karena niat itu tidak akan bersih dengan sendirinya. Iblis menggoda manusia sesuai dengan kualitas ketaatannya kepada Allah. Semakin berkualitas seseorang kepada Allah, maka akan digoda oleh iblis kelas berat. Disinilah pentingnya agar selalu memohon perlindungan kepada Allah Swt. untuk menjaga niat. 
Kunci ibadah adalah ikhlas. Dan ikhlas itu ada di dalam hati orang yang melakukan amal tersebut. Maka sah atau tidaknya pahala amal itu, tergantung pada niat ikhlas atau tidak hati pelakunya. Jika dalam melakukan amal itu hatinya bertujuan untuk mendapat pujian dari manusia, maka hal itu berarti tidak ikhlas. Akibatnya amal ibadah yang diusahakannya tidak menerima pahala dari Allah. Kita benar-benar diperintahkan oleh Allah untuk menetapkan niat dengan ikhlas dalam setiap ibadah. Jangan dicampuri niat itu dengan hal lain, yang nantinya akan merusak pahala amal ibadah tersebut.
Allah Swt. yang menggerakan niat itu dan melaksanakan amal yang berhubungan. Cara pelaksanaannya adalah hak mutlak Allah Swt. tidak ada jalan bagi seorang hamba kecuali berserah diri kepada Tuhannya. Maksud berserah diri kepada Allah Swt. yaitu bersandar kepada-Nya dan menyerahkan segala urusan kepada-Nya.
Sebuah pencapaian kebenaran pada akhirnya harus diakui sebagai anugerah dari Allah semata, dan bukan hasil kita sendiri. Kemampuan untuk tidak menyimpang, tidak berbuat jahat, tidak sombong, tidak mendengki, dan segala bentuk kemampuan untuk menghindar dari keburukan, pada hakikatnya hanyalah pemberian dari Allah semata.tetapi tetap harus berikhtiar sesuai keadaan dan keterbatasan kita masing-masing. Namun keyakinan dasar yang harus dipegang adalah bahwa segala jenis pencapaian kebaikan ataupun keselamatan dari keburukan pada dasarnya hanyalah atas kehendak dan izin Allah Swt. semata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar