NIAT
KARENA ALLAH SWT
Disusun
guna memenuhi salah satu tugas matakuliah
Study Tafsir Al-Qur’an
Dosen
Pengampu: Abdullah Ma’sum Alh, S.Pd.I
Oleh
:
Murni
Sulasih (201010113)
PAI
4E
PROGRM
STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
FAKULTAS
ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN (FITK)
UNIVERSITAS
SAINS AL-QUR’AN (UNSIQ)
JAWA
TENGAH DI WONOSOBO
2017
NIAT KARENA ALLAH SWT
Niat karena Allah SWT adalah
melalakukan sagala perbuatan yang tujuannya hanya kepada Allah SWT. Dalam
bahasa Arab yaitu Lillahi-Ta’ala (kepada Allah yang Maha Luhur).
Tujuannya adalah “Yarjuuna ohmatahu Wayakhoofuna Adzaabah” yaitu niat
yang hanya berharap rahmat Allah (Ridho Allah dan surga Allah) dan
khawatir/takut azab/siksa/neraka Allah. Melakukan segala aktifitas keseharian
yang semata diniati karena Allah akan mendatangkan pahala dan pertolongan
Allah. Sebaliknya, jika melakukan segala aktifitas keseharian yang tidak
dilandasi karena Allah, tidak mendatangkan pahala bahkan merugikan diri
sendiri. Jadi hanya amalan setiap hari yang karena Allah saja yang akan dibalas
pahala oleh Allah.
1.
Firman
Allah dalam surat Al-Lail ayat 19-21.
وَمَا لِأَ حَدٍعِنْدَ هُ مِنْ نِّعْمَةٍ
تُجْزَىَ (١٩) اِلاَّابْتِغَا ءَوَجْهِ رَبِّهِ لْأَعْلَى(٢٥) وَلَسَوْ فَ يَرْ
ضَ(٢١)
“Dan tidak ada
seorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia
memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannnya yang Maha
Tinggi. Dan niscaya kelak dia akan mendapat kesenangan (yang sempurna)”.
(QS. Al-Lail: 19-21)
2. Hadist-hadits pendukung:
(١) وَإِنَّمَا
ِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
Artinya: “Sesungguhnya
bagi setiap orang itu hanyalah sesuai dengan apa yang diniatkannya.”
Sahabat Umar
r.a. telah menceritakan, Bahwa Nabi Saw. telah bersabda:
(٢) اِنَّمَا الْأَ عْماَ
لُ بِا لنِّيَّا تِ وَ إِ نَّماَ لِكُلِّ امْرِىءٍماَنَوَى فَمَنْ كَا نَتْ هِجْرَ
تُهُ إِلَ اللهِ وَرَ سُوْلِهِ فَهِخْرَ تُهُ إِلَ الَّلهِ وَرَسُوْلِهِ وَمَنْ
كَا َنَتْ هِجْرَ تُهُ إِلَ دُنْبَا يُصِيْبُهَا أَوِاُمْرَ أَةٍ يَنْكِحُهَا
فَهِجْرَ تُهُ إِ ليَ مَا هَا جَرَ إِليْهِ هِجْرَ تُهُ إليَ دُ نْيَا يُصِيْبُهَا
أَوِاُمْرَ أَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَ تُهُ إِلَي مَا هَا جَرَ إِ لَيْهِ
(رواهلخمسة)
“Sesungguhnya
semua amal perbuatan hanya bergantung kepada niat-nya masing-masing, dan setiap
orang hanya memperoleh apa yang diniatkan. Barang siapa niat hijrahnya kepada
Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasulnya. Barang siapa
niat hijrahnya kepada perkara duniawi, niscaya ia akan memperolehnya, atau
wanita niscaya ia akan menikahinya, maka hijrahnya sesuai dengan apa yang telah
diniatkannya.” (Riwayat Khamsah)
Sahabat Ibnu
Abbas r.a. telah menceritakan sebuah hadits bersumber langsung dari Nabi Saw.
mengenai hal yang beliau riwayatkan dari Rabbnya. Nabi Saw. telah bersabda:
(٣) إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْحَسَنَا تِ
والسَّيٍءَتِ ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ ْيَعْمَلْهَا
كَتَبَهَا اللَّهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَا مِلَةً وإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا
كَتَبَهَا اللَّهُ عِنْدَ هُ عَشْرَحَسَنَا تٍ إِلَى سَبْعِمِا ئَةِ ضِعْفٍ إِلَى
أَضْعَا فٍ كَثِيْرَ ةٍ وَإٍهَمَّ بِسَيِئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا
اللَّهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَا مِلَةً وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَلِمَهَا كَتَبَهَا
اللَّهُ َيِّئَةً وَاَحِدَ ةً (رَوَهُ الْخَمْسَةُ إِلاَّ أَبَا دَاوُدَ)
“Sesungguhnya
Allah telah mencatat semua kebaikan dan keburukan, kemudian menjelaskannya.
Maka barang siapa yang berniat untuk mengerjakan suatu kebaikan lalu ia tidak
mengerjakan, niscaya Allah mencatatnya sebagai suatu amal kebaikan yang penuh
disisi-Nya. Apabila ia berniat untuk mengerjakan kebaikan, lalu ia
mengerakannya, niscaya sampai lipatan yang banyak sekali (tak terhingga). Dan
apabila dia berniat mengerjakan suatu keburukan, tetapi ia mengerjakannya,
niscaya Allah menuliskan disisi-Nya pahala satu kebaikan penuh. Dan apabila ia
berniat untuk melakukannya, laliu ia benar-benar mengerakannya, niscaya Allah
menuliskan disisi-Nya hanya satu keburukan (baginya)”. (Riwayat Khamsah kecuali Abu Daud ).
Sahabat Abu
Hurairah r.a. telah menceritakan bahwa Nabi Saw. telah bersabda:
(٤) إِنَّاللَّهَ لاَ يَنْظُرُإِلَى صُوَرِكُمْ
وَأَمْوَا لِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُإِلَى قُلُبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
(رَوَاهُ
مُسْلمٌوابْنُ مَا جَهْ)
“Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada
bentuk dan harta kalian tetapi memandang kepada kalbu dan amal perbuatan
kalian.” (HR. Muslim dan Ibnu Majah)
(٥) نِيَّتُ الْمَرْءِ خَيْرٌمِنْ عَمَلِهِ
“Niat seseorang lebih
baik dari amalnya.”
Maksudnya, niat amal soleh tanpa
mengerakannya adalah lebih baik daripada amal tanpa niat, Allah Maha Luas
Pemberian-Nya.
3. Ayat-ayat yang berhubungan dengan QS.
Al-Lail ayat 20.
a. QS. Al-An’am: 60
مَنْ جَآءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ
عَشْرُاَمْثَا لِهَاخ وَمَنْ جَآ ءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلاَ
يُجْزَاِلاَّمِثْلَهَا وَهُمْ لاَيُظْلَمُونَ (٦.)
“Barang siapa membawa
amal baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barang siapa
yang membawa perbuatan yang ahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan
seimbang dengan keahatannya, sedangkan mereka sedikitpun tidak dianiaya
(dirugikan)”.
b. QS. Al-Maidah: 27
اِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَّ
الْمُتَّقِيْنَ (٢٧)
“Sesungguhnya Allah
hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertaqwa.”
c. QS. Al-Mulk: 2
لِيَبْلُوَ كُمْ أَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلاَ
(٢)
“Supaya Dia menguji
kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya”.
Kesimpulan
Niat menurut
istilah bahasa artinya bertujuan, sedangkan menurut syariat ialah bertujuan
untuk mengerjakan suatu hal yang disertai dengan pekerjaanya. Hukum niat adalah
fardhu dalam semua amal ibadah, tempat niat dalam hati, karena itu tidak cukup
hanya dengan ucapan saja sedangkan hatinya lalai dan lupa. Niat adalah dasar
segala perbuatan, oleh karena itu setiap perbuatan manusia diterima tidaknya
disisi Allah sebatas niatnya. Maka barang siapa mengerjakan suatu pekerjaan
niatnya murni karena Allah dan mengharapkan ganjaran akhirat dan perbuatannya
itu sesuai dengan tuntunan Rasulullah Saw, maka amalnya akan diterima oleh
Allah. Dan barang siapa niatnya untuk selain Allah atau tidak ikhlas karena
Allah seperti dia menyekutukan-Nya dengan makhluk, maka pekerjaan itu akan
ditolak dan hanya akan menjadi bencana.
Niat yang
paling baik adalah niat untuk mendapatkan ridho Allah atau untuk mendekatkan
diri kepada Allah. Orang yang berbuat kebaikan hanya untuk mendapat ridho Allah
akan mendapatkan pahala berlipat ganda.
Semua amal
perbuatan baik yang berhubungan dengan ucapan atau pekerjaan, baik yang fardhu
maupun sunah, yang semuanya dikerjakan oleh orang-orang mukallaf, sahnya
semua amal perbuatan mereka hanyalah niat. Apabila seseorang berniat untuk melakukan
suatu keburukan lalu ia benar-benar mengerjakannya, maka dituliskan baginya
hanya satu keburukan. Hal ini merupakan salah satu di antara kebaikan syariat
agama Islam.
Niat yang
ikhlas, selain mendatangkan keridhaan dan pahala dari Allah Ta’ala, juga akan
meneguhkan hati kita disaat ujian datang. Dan hati kita akan tetap lapang,
bagaimanapun hasil yang kita dapatkan setelah usaha dan do’a. Allah juga
tidak menyebutkan amal yang paling banyak, akan tetapi Dia menyebutkan amal
yang paling baik.
Melakukan
sesuatu dengan niat untuk Allah Swt. Akan lebih baik jika dibandingkan dengan
melakukan sesuatu karena ketakutan akan hal-hal tertentu. Dalam hal ini adalah
takut neraka. Dan dalam kehidupan sehari-hari ketika kita melakukan sesuatu
karena ketakutan maka kita tidak akan mendapatkan apa-apa. Karena pada umumnya
ketika takut, kita akan lebih menghindar bukan menghadapi tantangan. Padahal
kita senantiasa dituntut untuk kerja keras dalam berjuang membela kebenaran.
Oleh sebab itu, Allah melarang kita untuk takut sesungguhnya pertolongan Allah
sangatlah dekat.
Niat itu
mudah diucapkan tetapi sukar untuk dipraktikkan. Ketika ada niat baik, maka
saat itu iblis telah bersiap siaga untuk menjerumuskan dan merusaknya. Padahal
awalnya niat itu murni karena Allah. Itulah sebabnya, Ibnu Qoyim menyatakan
bahwa ikhlas itu keikhlasan. Niat itu teempatnya didalam hati. Agar tetap
terjaga utuh, seseorang harus menata niatnya sebelum melakukan amal, ketika
melakukannya, dan sesudah melakukannya. Dan hal itu bisa dimiliki dengan
memulai berbagai latihan (riyadhah) mental yang intensif, yakni berusaha menata
niat, karena niat itu tidak akan bersih dengan sendirinya. Iblis menggoda
manusia sesuai dengan kualitas ketaatannya kepada Allah. Semakin berkualitas
seseorang kepada Allah, maka akan digoda oleh iblis kelas berat. Disinilah
pentingnya agar selalu memohon perlindungan kepada Allah Swt. untuk menjaga
niat.
Kunci ibadah
adalah ikhlas. Dan ikhlas itu ada di dalam hati orang yang melakukan amal
tersebut. Maka sah atau tidaknya pahala amal itu, tergantung pada niat ikhlas
atau tidak hati pelakunya. Jika dalam melakukan amal itu hatinya bertujuan
untuk mendapat pujian dari manusia, maka hal itu berarti tidak ikhlas.
Akibatnya amal ibadah yang diusahakannya tidak menerima pahala dari Allah. Kita
benar-benar diperintahkan oleh Allah untuk menetapkan niat dengan ikhlas dalam
setiap ibadah. Jangan dicampuri niat itu dengan hal lain, yang nantinya akan
merusak pahala amal ibadah tersebut.
Allah Swt.
yang menggerakan niat itu dan melaksanakan amal yang berhubungan. Cara
pelaksanaannya adalah hak mutlak Allah Swt. tidak ada jalan bagi seorang hamba
kecuali berserah diri kepada Tuhannya. Maksud berserah diri kepada Allah Swt.
yaitu bersandar kepada-Nya dan menyerahkan segala urusan kepada-Nya.
Sebuah
pencapaian kebenaran pada akhirnya harus diakui sebagai anugerah dari Allah
semata, dan bukan hasil kita sendiri. Kemampuan untuk tidak menyimpang, tidak
berbuat jahat, tidak sombong, tidak mendengki, dan segala bentuk kemampuan
untuk menghindar dari keburukan, pada hakikatnya hanyalah pemberian dari Allah
semata.tetapi tetap harus berikhtiar sesuai keadaan dan keterbatasan kita
masing-masing. Namun keyakinan dasar yang harus dipegang adalah bahwa segala
jenis pencapaian kebaikan ataupun keselamatan dari keburukan pada dasarnya
hanyalah atas kehendak dan izin Allah Swt. semata.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar