Minggu, 28 Mei 2017

singgih saputra

Tafsir tarbawi Tentang Menuntut Ilmu Manfaat
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Materi PAI 4 E  yang diampu oleh Bapak Maksum M,Pd.I




Disusun Oleh :
Singgih Saputra
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN (FITK)
UNIVERSITAS SAINS AL-QURAN (UNSIQ)
JAWA TENGAH DI WONOSOBO
2017




Pembahasa Menuntut Ilmu Manfaat
    Pengertian ilmu manfaat dan barokah Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang bisa membawa pemiliknya agar selalu taat pada Allah swt,mengamalkan ilmu untuk kepentingan bangsa masyarkat, keluarga, dan pribadi khususnya. Dari defenisi diatas maka segala ilmu yang tidak bisa mengajak pemiliknya untuk takut, tawadhu’ pada Allah swt, melainkan justru mengajak pemiliknya untuk durhaka pada Allah swt, maka ilmu tersebut disebut ilmu yang tidak bermanfaat. Pada dasarnya semua ilmu itu bermanfaat, baik bagi urusan dunia maupun akhirat. Faktor memanfaatkan dan mudhllaradlah yang kita harus mampu untuk memilah dan memilih. Demi kebahagiaan dunia, semua dicari dengan ilmu, demi kebahagiaan akhirat, juga dengan ilmu.
Dalam Al-Qur’an

هوالذى بعش فى الأمين رسولا منهم يتلواعليهم أيته,ويزكيهم ويعلمهم الكتب والحكمة وإن كانوامن قبل لفى ضلل مبين
Artinya adalah yang mengutusan kepada kaum buta hauruf seorang rosul diantara mereka,yang membaca ayat-ayat-Nya kepada mereka,menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah (As-Sunnah). Dan,sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesehatan yang nyata. Surat al-jumu’ah ayat 2
قَا لَهُ مُوسَى هَل اَنَّبِعٌكَ عَلَى اَنَّ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلٌمتَ رُشَّدَا
Artinya 
Musa berkata kepada Khidhr: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar diantara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?“.(surat al-khaf ayat 66)
اليهم فسألو أهل الَذّكران كنتم لاتعلمون
Artinya “... maka bertanyalah  kepada orang yang mempunyai pengetahuan ,jika kamau tiadak mengetahui.”(surat  an- Nahl : ayat 43)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖوَإِذَاقِيلَ انْشُزُوافَانْشُزُوا يَرْفَعِ  الله الذِيْنَ امَنُوا مِنـْكُمْ وَالّذِيْنَ اُوتُو الْعِلْمَ دَرَجَـتٍ وَاللهُ بِمَا تَعْـمَلُـوْنَ خَـبِيْـر 
Artinya :
"Wahai orang-orang yang beriman!Apabila dikatakan kepadamu,"Berilah kelapangan didalam majelis, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan  memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan berdirilah  kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat". Q.S Al-Mujadalah ayat 11 
   Surat Thoha ayat 114:
وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا
Artinya :”Dan katakanlah (olehmu muhammad),”ya tuhanku, tambahkan kepadaku ilmu pengetahuan.”
     Surat Shod ayat 29:
كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا ءَايَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُوا اْلأَلْبَابِ
Artinya :”ini adalah sebuah kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan keberkahan supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya, dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.”

Dalil Hadits :
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ
Artinya : ”Mencari ilmu itu adalah wajib bagi setiap muslim laki-laki maupun muslim perempuan”. (HR. Ibnu Abdil Barr)
أُطْلُبِ الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ إِلَى الَّلحْدِ
Artinya : ”Carilah ilmu sejak dari buaian hingga ke liang lahat”. (Al Hadits)
مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى
الْجَنَّةِ
Artinya : ”Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari suatu ilmu. Niscaya Allah memudahkannya ke jalan menuju surga”. (HR. Turmudzi)

إنه سيأتي بعدي قوم يسألونكم الحديش عنى,فإزّا جا ؤكم فا لصّفوا بهم وحدشوهم
Artinya sesunngguhnya akan datang sesudahku suatau kaum yg menanyakan kepadamu tentang hadist dariku. Maka ,jika mereka datang kepadamu maka perlakukan dengan baik dan sampaikanlah hadits kepada mereka. Hadits ini diriwayatkan oleh abu sa’id al-Hudzri melihat seorang pemuda maka ia berkata “,selamat(menerima) wasiat baginda rosullullah SAW.... Beliau berwasiat kepada kami melapangkan  tempat duduk dan mengajarkan ilmu kepada kamu sekalian  karena kamu adalah para pengganti kami dan pengemban hadits setelah kami.

من تمسك بسنتي عند فساد امتي فله اجرما ئة شهيد
Artinya barang siapa berpegang teguh kepada sunnahku pada saat kerusakan melanda umatku, maka baginya pahala serataus syahid. Hadist ini sangat dho’if.ibnu adi meriwayatkan dalam kitab al-kamil fit-Tarikh dan dengan sanad dari al-Hasan bin Qutaibah,dari abdul kholiq bin al-Mundzir,dari ibnu abi najih,dari mujahid dari anas r.a.

عْنْ اَنَسٍ اِبْنُ مَالِكٍ قَلَ قَالَ رَسُوْل الله صلى الله عليه وسلـم  طَلَبُ الْعِلْم فَرْيْضَةً عَلى كُلّ مُسْلِمٍ ووضِعً العِلْمِ عِنْدَ غَيْرُأهْلِهِ كَمُقِلِّدِ الْخَنَا زِيْرِ لْجَوْهَرَولَلؤْلُؤَ وَالذَّهَبَ
Artinya  :
"Dari Anas bin Malik ia berkata, Rasulullah saw, bersabda: Mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim, memberikan ilmu kepada orang yang bukan ahlinya seperti orang yang mengalungi babi dengan permata, mutiara, atau emas" HR.Ibnu Majah
وَعَنْ أَبِي مُوسَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ قَيْسٍ الْأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : { إنَّ مَثَلَ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ مِنْ الْهُدَى ، وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَصَابَ أَرْضًا فَكَانَتْ مِنْهَا طَائِفَةٌ طَيِّبَةٌ قَبِلَتْ الْمَاءَ ، فَأَنْبَتَتْ الْكَلَأَ ، وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ ، وَكَانَ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتْ الْمَاءَ ، فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ فَشَرِبُوا مِنْهَا ، وَسَقَوْا ، وَزَرَعُوا ، وَأَصَابَ طَائِفَةً مِنْهَا أُخْرَى إنَّمَا هِيَ قِيعَانٌ لَا تُمْسِكُ الْمَاءَ ، وَلَا تُنْبِتُ كَلَأً ، فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِينِ اللَّهِ ، وَنَفَعَهُ بِمَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ ، فَعَلِمَ ، وَعَلَّمَ ، وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا ، وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ } رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ ، وَمُسْلِمٌ
Artinya 
Hadis riwayat Abu Musa ra.: Dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda: Perumpamaan Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung dalam mengutusku untuk menyampaikan petunjuk dan ilmu adalah seperti hujan yang membasahi bumi. Sebagian tanah bumi tersebut ada yang subur sehingga dapat menyerap air serta menumbuhkan rerumputan dan sebagian lagi berupa tanah-tanah tandus yang tidak dapat menyerap air lalu Allah memberikan manfaatnya kepada manusia sehingga mereka dapat meminum darinya, memberi minum dan menggembalakan ternaknya di tempat itu. Yang lain menimpa tanah datar yang gundul yang tidak dapat menyerap air dan menumbuhkan rumput. Itulah perumpamaan orang yang mendalami ilmu agama Allah dan memanfaatkannya sesuai ajaran yang Allah utus kepadaku di mana dia tahu dan mau mengajarkannya. Dan juga perumpamaan orang yang keras kepala yang tidak mau menerima petunjuk Allah yang karenanya aku diutus. (Shahih Muslim No.4232)

 Kesimpulan 
Ilmu bermanfaat adalah barokah untuk mencari ilmu dengan cara dalam belajar menahami suatu pikiran manusia dengan membaca melihat dan taqwa kepada allah SWT secara dengan ikhlas kepada darinya. Pada dasarnya semua ilmu itu bermanfaat, baik bagi urusan dunia maupun akhirat.
 Ilmu yang bermanfaat mengajak pemiliknya lari dari dunia. Yang paling besar adalah kedudukan, ketenaran, dan pujian. Menjauhi hal itu dan bersungguh-sungguh dalam menjauhkannya, maka hal itu adalah tanda ilmu yang bermanfaat.

    

Jumat, 26 Mei 2017

kejujuran (Riska Fitriana R)

TAFSIR TARBAWI
KEJUJURAN
Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Studi Tafsir Tarbawi
 diampu oleh Bapak Abdulloh Ma’sum, Alh. SPd.I





Di Susun Oleh:
Riska Fitriana Rohmah
2015010237
PAI 4E


FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN (FITK)
UNIVERSITAS SAINS AL-QUR’AN (UNSIQ)
DI WONOSOBO
2017





LATAR BELAKANG

 Kejujuran merupakan bagian dari sifat positif manusia. Jujur itu mahal harganya, orang merusak kejujuran mendapat sanksi akan berat dan berlangsung lama. Kejujuran diikat dengan hati nurani manusia dan keduanya itu merupakan anugerah dari Allah SWT. Dua eleman ini saling terkait, ketika ucapan tak sesuai dengan kenyataan, hati menjadi risau karena ucapan dirasa tidak jujur. Kejujuranpun sekarang ini sangat diutamakan karna sebuah kejujuran sangat berharga. Jujur memang indah, sikap jujur membuat hidup kita lebih tentram tanpa ada tekanan dari luar maupun dari batin sendiri.
Kejujuran merupakan satu kata yang amat sederhana namun di zaman sekarang menjadi sesuatu yang langka dan sangat tinggi harganya. Menurut Afif (2012), kejujuran berarti apa yang dikatakan sesuai dengan hati nurani atau sesuai dengan kenyataan yang ada. Kenyataan yang ada adalah kenyataan yang sesungguhnya yang terjadi. Jujur juga dapat diartikan seseorang yang bersih hati dari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh agama dan hukum. Jujur berarti juga menepati janji atau kesanggupan yang terlampir malalui kata-kata atau perbuatan.
            Merosotnya karakter kejujuran pada setiap manusia sangatlah memprihatinkan, sekarang ini banyak sekali manusia yang tidak berkata jujur baik itu anak kecil maupun orang dewasa. Kejujuran dianggap sebagai sudah tidak penting lagi bahkan sebagian orang mengangap kejujuran tidak akan mengutungkan bagi dirinya. Stratifikasi di dalam masyarakat yang mendorong sebagian orang untuk berkata tidak jujur, orang berlomba-lomba untuk mencapai kesuksesan dengan cara membohongi orang lain baik itu dengan cara terang-terangan maupun dengan cara tertutup. Hampir setiap manusia tidak memiliki sifat jujur, bisa dilihat sekarang banyak warga Indonesia yang berprofesi sebagai pencuri, penjual yang berbuat curang bahkan koruptor.




 PEMBAHASAN

A.    Pengertian Jujur
Kejujuran merupakan modal untuk menjadi manusia baik. Kata jujur sendiri memiliki pengertian terjadinya keselarasan dan kesesuaian antara apa yang ada di dalam hati dan yang terungkap melalui lisan maupun perbuatan. Atau dengan kata lain satunya kata hati, kata lisan, dan perbuatan.
Jujur berkonotasi dengan benar yang dalam  bahasa arab diistilahkan dengan shidiq yang berarti yang berarti kebenaran dan bisa juga diartikan sebagai kejujuran, hal itu karena orang yang jujur akan selalu mengatakan yang sebenar-benarnya.
Dalam alam global seperti sekarang ini, dimana persaingan dalam segala bidang menjadi pola hidup yang tidak dapat dihindarkan, kejujuran kemudian menjadi barang antik yang sulit didapatkan.

B.    Ayat tentang kejujuran

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Alloh, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar”. (QS. At-Taubah:19)
Ayat di atas menunjukan bahwa kejujuran merupakan barang mahal yang hanya dimiliki oleh orang yang takwa kepada Tuhan, dan sebaliknya kedustaan adalah sifat rendah dari orang-orang jahat, yang akan mengantarkannya kesengsaraan dunia akhirat.
Ayat ini memerintahkan kepada orang mukmin agara melaksanakan dan pekerjaan mereka dengan cermat,jujur, dan ikhlas karena Alloh Swt, baik pekerjaan yang bertalian dedgan urusan agama maupun pekerjaan yang yang bertalian dengan urusan kehidupan duniawi. Karena hanya  dengan demikianlah mereka bisa sukses dan memperoleh hasil balasan ynag mereka harapkan.
Menurut Ibnu Ka¡ir, maksud ayat di atas adalah agar orang-orang yang beriman menjadi penegak kebenaran karena Allah Swt., bukan karena manusia atau karena mencari popularitas,  menjadi saksi dengan adil dan tidak curang,  jangan pula kebencian kepada suatu kaum menjadikan kalian berbuat tidak adil terhadap mereka, tetapi terapkanlah keadilan itu  kepada setiap orang, baik teman ataupun musuh karena sesungguhnya perbuatan adil menghantarkan pelakunya memperoleh  derajat takwa.
ْ                                                                                                   فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ
“…Tetapi jikalau mereka benar (imannya) tehadap Allâh, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka. (QS. Muhammad:21)
Allah Azza wa Jalla memberitahukan nilai kejujuran, bahwa kejujuran itu merupakan kebaikan sekaligus penyelamat. Sifat itulah yang menentukan nilai amal perbuatan, karena kejujuran merupakan ruhnya. Seandainya orang-orang itu benar-benar ikhlas dalam beriman dan berbuat taat, niscaya kejujuran adalah yang terbaik bagi mereka.
Kemudian beliau melanjutkan, “Allâh Azza wa Jalla telah membagi manusia ke dalam dua bagian: orang yang jujur dan munafik. Allâh Azza wa Jalla berfirman:
لِيَجْزِيَ اللَّهُ الصَّادِقِينَ بِصِدْقِهِمْ وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ إِنْ شَاءَ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا
Agar Allâh memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan mengadzab orang munafik jika Dia kehendaki, atau menerima taubat mereka. Sungguh, Allâh Maha Pengampun dan Maha Penyayang.” (QS. Al- Ahzab:24)
Iman merupakan pondasi kejujuran, dan kemunafikan merupakan pondasi kedustaan. Iman dan dusta tidak akan berkumpul, karena salah satu dari keduanya pasti memerangi yang lainnya. Allâh Azza wa Jalla telah mengabarkan bahwa tidak ada yang dapat memberi manfaat dan menyelamatkan seorang hamba dari adzab hari kiamat selain kejujurannya. Allâh Azza wa Jalla berfirman :
هَٰذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ ۚ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Inilah saat orang yang benar memperoleh manfaat dari kebenarannya. Mereka memperoleh surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allâh ridha kepada kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Itulah kemenangan yang agung”. (QS. Al-Maidah:119)
C.    Hadits tentang kejujuran    


                  
حدثنا سليمان بن حرب حدثنا شعبة عن قتادة عن صالح أبي الخليل عن عبد الله بن الحارث رفعه إلى حكيم بن حزام رضي الله عنه قالقال رسول الله صلى الله عليه وسلم البيعان بالخيار ما لم يتفرقا أو قال حتى يتفرقا فإن صدقا وبينا بورك لهما في بيعهما وإن كتما وكذبا محقت بركة بيعهما
Telah menceritakan kepada kami [Sulaiman bin Harb] telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] dari [Qatadah] dari [Shalih Abu AL Khalil] dari ['Abdullah bin Al Harits] yang dinisbatkannya kepada [Hakim bin Hizam radliallahu 'anhu] berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Dua orang yang melakukan jual beli boleh melakukan khiyar (pilihan untuk melangsungkan atau membatalkan jual beli) selama keduanya belum berpisah", Atau sabda Beliau: "hingga keduanya berpisah. Jika keduanya jujur dan menampakkan dagangannya maka keduanya diberkahi dalam jual belinya dan bila menyembunyikan dan berdusta maka akan dimusnahkan keberkahan jual belinya".
1938
عَنْ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْد رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِيْ إِلَى الْبِرِّ ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِيْ إِلَى الْجَنَّةِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيْقًا ، وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِيْ إِلَى الْفُجُوْرِ ، وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِيْ إِلَى النَّارِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا
Dari ‘Abdullâh bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan seseorang ke Surga. Dan apabila seorang selalu berlaku jujur dan tetap memilih jujur, maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian berbuat dusta, karena dusta membawa seseorang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan seseorang ke Neraka. Dan jika seseorang senantiasa berdusta dan memilih kedustaan maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai pendusta (pembohong).”
حدثنا يزيد بن خالد الرملي حدثنا ابن وهب حدثنا عبد الرحمن بن شريح عن أبي أمامة بن سهل بن حنيف عن أبيه قالقال رسول الله صلى الله عليه وسلم من سأل الله الشهادة صادقا بلغه الله منازل الشهداء وإن مات على فراشه
Telah menceritakan kepada Kami [Yazid bin Khalid Ar Ramli], telah menceritakan kepada Kami [Ibnu Wahb], telah menceritakan kepada Kami [Abdurrahman bin Syuraih] dari [Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif] dari [ayahnya], ia berkata; Rasulullah shallAllahu wa'alaihi wa sallam bersabda: "Barang siapa yang memohon kepada Allah agar meninggal dalam keadaan syahid dengan jujur, maka Allah akan menyampaikannya kepada derajat para syuhada walaupun dia mati diatas tempat tidurnya." 1301
حدثنا يزيد بن محمد الدمشقي حدثنا عبد الرزاق بن مسلم الدمشقي وكان من ثقات المسلمين من المتعبدين قال حدثنا مدرك بن سعد قال يزيد شيخ ثقة عن يونس بن ميسرة بن حلبس عن أم الدرداء عن أبي الدرداء رضي الله عنه قالمن قال إذا أصبح وإذا أمسى حسبي الله لا إله إلا هو عليه توكلت وهو رب العرش العظيم سبع مرات كفاه الله ما أهمه صادقا كان بها أو كاذبا
Telah menceritakan kepada kami [Yazid bin Muhammad Ad Dimasyqi] berkata telah menceritakan kepada kami [Abdur Razzaq bin Muslim Ad Dimasyqi] dia merupakan seorang muslim yang tsiqah (terpercaya) dan ahli ibadah, ia berkata, telah menceritakan kepada kami [Mudrik bin Sa'ad] -yazid berkata dia adalah seorang Syaikh yang tsiqah (terpercaya) - dari [Yunus bin Maisarah bin Halbas] dari [Ummu Darda`] dari [Abu Darda`] radliallahu 'anhu berkata; "Barang siapa yang ketika pagi dan sore mengucapkan; HASBIYALLAAH LAA ILAAHA ILLA HUWA 'ALAIHI TAWAKKALTU WAHUWA RABBUL 'ARSYIL 'AZHIIM (cukuplah Allah bagiku tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi selain Dia, hanya kepadanya aku bertawakkal karena Dialah Rabb pemilik 'Arsy yang agung) tujuh kali, maka Allah akan mencukupkan (menyelamatkannya) dari kesusahan-kesusahan yang membelitnya, baik dia mengucapkannya secara jujur, atau pura-pura (tanpa ada niat, spontan)." 4419
حدثنا محمد بن العلاء حدثنا أبو أسامة عن بريد بن عبد الله عن أبي بردة عن أبي موسىعن النبي صلى الله عليه وسلم قال الخازن المسلم الأمين الذي ينفذ وربما قال يعطي ما أمر به كاملا موفرا طيبا به نفسه فيدفعه إلى الذي أمر له به أحد المتصدقين
Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Al 'Alaa'] telah menceritakan kepada kami [Abu Usamah] dari [Buraid bin 'Abdullah] dari [Abu Burdah] dari [Abu Musa] dari Nabi Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Seorang bendahara muslim yang amanah adalah orang yang melaksanakan tugasnya (dengan baik) ". Dan seolah Beliau bersabda: "Dia melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya dengan sempurna dan jujur serta memiliki jiwa yang baik, dia mengeluarkannya (shadaqah) kepada orang yang berhak sebagaimana diperintahkan adalah termasuk salah satu dari Al Mutashaddiqin". 1350










D.    KESIMPULAN

             Kejujuran merupakan modal untuk menjadi manusia baik. Kata jujur sendiri memiliki pengertian terjadinya keselarasan dan kesesuaian antara apa yang ada di dalam hati dan yang terungkap melalui lisan maupun perbuatan. Atau dengan kata lain satunya kata hati, kata lisan, dan perbuatan.
            Pada kandungan  QS. At-Taubah/9:119 dijelaskan bahwa ayat  ini memerintahkan kepada orang mukmin agara melaksanakan dan pekerjaan mereka dengan cermat,jujur, dan ikhlas karena Alloh Swt, baik pekerjaan yang bertalian dedgan urusan agama maupun pekerjaan yang yang bertalian dengan urusan kehidupan duniawi. Karena hanya  dengan demikianlah mereka bisa sukses dan memperoleh hasil balasan ynag mereka harapkan. Dilanjutkan QS. Muhammad/47: 21 yang memiliki kandungan Allah Azza wa Jalla memberitahukan nilai kejujuran, bahwa kejujuran itu merupakan kebaikan sekaligus penyelamat. Sifat itulah yang menentukan nilai amal perbuatan, karena kejujuran merupakan ruhnya. Seandainya orang-orang itu benar-benar ikhlas dalam beriman dan berbuat taat, niscaya kejujuran adalah yang terbaik bagi mereka.
            Dalam persaksian, mereka harus adil menerangkan apa yang sebenarnya, tanpa memandang siapa orangnya, sekalipun akan menggantungkan lawan dan merugikan sahabat dan kerabatnya sendiri. Ayat ini seirama dengan Q.S an-Nisa (4):153 yaitu sama-sama menerangkan tentang sesorang yang berlaku addil dan jujur dalam persaksian. Perbedaanya dalam ayat tersebut diterangkan kewajiban berlaku adil dalam persaksian demikianlah ayat ini diterangkan bahwa kebenciaan terhadap suatu kaum tidak boleh mendorong sesorang untuk memberikan persaksian yang tidak adil dan tidak jujur, walaupun terhadap lawan.              Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah (wafat th. 751 H) menerangkan sifat as-shidq (kejujuran), dengan perkataanya, “Yaitu maqam (kedudukan) kaum yang paling agung, yang darinya bersumber kedudukan-kedudukan para sâlikîn (orang-orang yang berjalan menuju kepada Allâh), sekaligus sebagai jalan terlurus, yang barang siapa tidak berjalan di atasnya, maka mereka itulah orang-orang yang akan binasa. Dengannya pula dapat dibedakan antara orang-orang munafik dengan orang-orang yang beriman, para penghuni Surga dan para penghuni Neraka.
             Kejujuran ibarat pedang Allâh di muka bumi, tidak ada sesuatu pun yang diletakkan di atasnya melainkan akan terpotong olehnya. Dan tidaklah kejujuran menghadapi kebathilan melainkan ia akan melawan dan mengalahkannya serta tidaklah ia menyerang lawannya melainkan ia akan menang. Barangsiapa menyuarakannya, niscaya kalimatnya akan terdengar keras mengalahkan suara musuh-musuhnya. Kejujuran merupakan ruh amal, penjernih keadaan, penghilang rasa takut dan pintu masuk bagi orang-orang yang akan menghadap Rabb Yang Mahamulia. Kejujuran merupakan pondasi bangunan agama (Islam) dan tiang penyangga keyakinan. Tingkatannya berada tepat di bawah derajat kenabian yang merupakan derajat paling tinggi di alam semesta, dari tempat tinggal para Nabi di Surga mengalir mata air dan sungai-sungai menuju ke tempat tinggal orang-orang yang benar dan jujur. Sebagaimana dari hati para Nabi ke hati-hati mereka di dunia ini terdapat penghubung dan penolong.



Rabu, 24 Mei 2017

Belajar dalam perspektif Al Qur'an dan Hadist


Belajar dalam Perspektif Al Qur’an dan Hadist




 



Muhamad Mustahdi
 (2015010178)



PROGRAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS SAINS AL QUR'AN JAWA TENGAH DI WONOSOBO





AYAT UTAMA

1.      Surat Al Baqarah ayat 102

فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَامَايُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِوَزَوْجِهِ وَمَاهُم بِضَآرِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍإِلاَّبِإِذْنِ اللّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَايَضُرُّهُمْ وَلاَيَنفَعُهُمْ
Artinya : “Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dapat menceraikan antara seseorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak member mudharat dengan sihirnya kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah.Dan mereka mempelajari sesuatu yang member mudharat kepadanya dan tidak member manfaat”.(Q.S. Al Baqarah : 102 )

AYAT YANG BERKAITAN

1.      Prinsip belajar  QS Al-Anbiya ayat 30-31

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا ۖوَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖأَفَلَا يُؤْمِنُونَ
Artinya : “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman”.
وَجَعَلْنَا فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِهِمْ وَجَعَلْنَا فِيهَا فِجَاجًا سُبُلًا لَعَلَّهُمْ يَهْتَدُونَ
Artinya : “Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka, dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk”.

2.      Prinsip belajar QS  Ali Imron ayat 190-191

إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ لَءَايَٰتٍۢ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ ﴿ە۱۹﴾ ٱلَّذِينَ يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمًۭا وَقُعُودًۭا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَٰطِلًۭا سُبْحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ ﴿۱۹۱﴾

Artinya: “Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Ali-‘Imran: 190-191).

3.      Sumber belajar QS Taha ayat 113

وَكَذَلِكَ أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا وَصَرَّفْنَا فِيهِ مِنَ الْوَعِيدِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ أَوْ يُحْدِثُ لَهُمْ ذِكْرًا
Artinya  : “Dan demikianlah Kami menurunkan Al-Qur’an dalam bahasa Arab, dan Kami telah menjelaskan berulang-ulang di dalamnya sebagian dari ancaman, agar mereka bertakwa, atau agar (Al-Qur’an) itu memberi pengajaran bagi mereka”.


HADIST YANG BERKAITAN DENGAN AYAT

1.      Hadist tentang kewajiban mencari ilmu
رواه إبن عبد البر)) طَلَبُ اْلعِلْمَ فَرِيْضِةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَ مُسْلِمَةٍ
Artinya :Mencari ilmu itu hukumnya wajib bagi muslimin dan muslimat”(HR. IbnuAbdil Bari)
2.      Hadist tentang seruan untuk belajar

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم:كُنْ عَالِمًا اَوْ مُتَعَلِّمًا اَوْ مُسْتَمِعًا اَوْ مُحِبًا وَلَا تَكُنْ خَامِسًا فَتُهْلِكَ (رَوَاهُ الْبَيْهَقِ )
Telah bersabda RasulullahSAW :”Jadilah engkau orang yang berilmu (pandai) atau orang yang belajar, atau orang yang mendengarkan ilmu atau yang mencintaiilmu. Dan janganlah engkau menjadi orang yang kelima maka kamu akan celaka” (H.R Baehaqi).

3.      Hadist tentang pengamalan ilmu

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَا يَتْبَغِ لِلْجَاهِلِ اَنْ يَسْكُنَ عَلَى جَهْلِهِ وَلَا لِلْعَالِمِ اَنْ يَسْكُنَ عَلَى عِلْمِهِ (رَوَاُه الطَّبْرَانِىُّ)
Rasulullah SAW bersabda: “Tidak pantas bagi orang yang bodoh itu mendiamkan kebodohannya dan tidak pantas pula orang yang berilmu mendiamkan ilmunya” (H.R Ath-Thabrani).

4.      Hadist tentang keutamaan ilmu

(رواه الطبراني)  مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِاْلعِلْمِ وَ مَنْ أَرَادَ ْالآخِرَةِ فَعَلَيْهِ بِاْلعِلْمِ وَ مَنْ أَرَادَ هُمَا فَعَلَيْهِ بِاْلعِلْ
Artinya: “Barangsiapa yang menginginkan kehidupan dunia, maka ia harus memiliki ilmu, dan barangsiapa yang menginginkan kehidupan akhirat maka itu pun harus dengan ilmu, dan barang siapa yang menginginkan keduanya maka itupun harus dengan ilmu” (HR. Thabrani).
5.      Hadist tentang keutamaan belajar

Dalam sunan Al-Tirmizi disebutkan sebagai berikut:
....مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَبْتَغِي فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضَاءً لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ حَتَّى الْحِيتَانُ فِي الْمَاءِ وَفَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
Artinya:...'Siapa saja yang menempuh perjalanan untuk mencari ilmu, maka Allah akan membuka jalan baginya menuju surga. Sesungguhnya para malaikat akan membentangkan sayapnya karena keridhaan mereka terhadap orang yang menuntuti lmu.  Sesugguhnya orang yang alim akan dimintakan ampunan baginya oleh makhluk yang ada di langit dan di bumi, hingga ikan paus yang ada di lautan. Keistimewaan  orang yang berilmu atas orang yang ahli ibadah seperti keistimewaan bulan atas semua bintang. Sesungguhnya ulama itu adalah pewaris para nabi.Sesungguhnya para nabi tidak pernah mewariskan dinar ataupun dirham, akan tetapi mereka hanya mewariskan ilmu. Siapasaja yang mengambil ilmu itu, maka sesungguhnya dia telah mengambil bagian yang banyak .(H.R. tirmizy).

KESIMPULAN

Ada dua istilah yang digunakan dalam Al Qur’an yang berkonotasi belajar, yaitu ta’allama dandarasa kata ta’alam berasal dari kata a’lima yang telah mendapat tambahan dua huruf yaitu ta’ dan huruf yang sejenis dengan lam fi’ilnya yang dilambangkan dengan tasdid sehingga menjadi ta’allama. ‘Alima berarti “mengetahui”. Penambahan ta’ dan tashdid pada kata ‘alima menjadi ta’allama membuat perubahan makna, yaitu mutawwa’ah ; yang berarti adanya bekas suatu perbuatan. Maka kata ta’allama secara harfiah dapat diartikan :menerima ilmu sebagai akibat dari aktivitas pembelajaran. Sedangkan kata darasa secara harfiah diartikan dengan “mempelajari”.Maka, belajar dapat didefinisikan suatu kegiatan pencarian ilmu, dimana hasilnya berbekas dan berpengaruh terhadap orang yang mencarinya. Artinya, belajar tidak hanyasekedar aktifitas tetaapi ia mesti mendatangkan pengaruh atau perubahan pada orang yang belajar tersebut.

Ungkapan Al-Qur’an “wayata’allamuna ma yadlurruhum wa la yanfa’uhum” menggambarkan bahwa objek yang dipelajari mestilah sesuatu yang berguna atau bermanfaat bagi kehidupan manusia. Sesuatu yang tidak berguna bahkan dapat mencederai manusia tidak pantas dipelajari. Oleh karena itu, Al-Qur’an melarang manusia mempelajari ilmu sihir, karena ilmu ini tidak dapat mendatangkan manfaat bahkan sebaliknya, ia dapat memadharatkan manusia. Maka ilmu yang pantas dipelajari adalah ilmu yang berdampak positif terhadap manusia, bahkan dalam menjalani kehidupan ataupun di balik kehidupan ini. maka seharusnya kegiatan belajar itu berbekas dalam diri mereka, dengan mengimani dan mengamalkan pesan-pesan Allah SWT yang termuat dalam Al-Qur’an, serta berpengaruh terhadap mereka dalam bentuk bertambahnya pengetahuan dan perubahan perilaku. Faktor yang dapat menghalangi penguasaan tersebut meliputi faktor internal dan factor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang berkaitan dengan hal-hal yang berada dalam diri manusia, seperti motivasi dan minatnya terhadap mata pelajaran yang dipelajari. Sedangkan factor eksternala dalah faktor yang berada di luar diri manusia itu sendiri. Hal itu meliputi godaan atau rangsangan yang ada di lingkungan sekitar manusia, yaitu teman, masyarakat, media masa, dan keluarga.

Dalam uraian singkat maka kegiatan belajar dapat digambarkan sebagai berikut :

Al ta’alum wa al dirosah :
·         Al-qira’ah (membaca)
·         Al-nazar (berfikir)
·         Ra’a(memperhatikan)
·         Al-sam’u(mendengar)
·         Al-dhikr(mengingat)
·         Dll
 Maka manusia akan Memperoleh ilmu dan mengimplemensikanya untuk  Tadhakkur (sadar atau menyadari)
Dapat diuraikan juga bahwa segala aktivitas belajarini dapat menghasilkan penguasaan terhadap pelajaran tersebut, baik penguasaan pengetahuan mau punsikap manusia. Dalam istilah al-Qur’an disebut dengan tadhakkur yang berarti menjadi ingat atau menguasa imateri ajar atau sadar sebagai makhluk Tuhan sebagai efek dari membaca, memperhatikan, menalar, mendengarkan, dan meghafal. Jadi, belajar mestinya mendatangkan efek kepada manusia dalam bentuk kesadaran diri sebagai hamba Allah dan menyadari bahwa segala yang ada ini mempunyai penuh ketergantungan kepada Allah.
Belajar sebagai suatu aktivitas dalam mencari ilmu mesti di dasarkan pada prinsip-prinsip tertentu, yang meliputi ketauhidan, keikhlasan, kebenaran, dan tujuan belajar yang saling berkaitan satu sama lain. Ketauhidan yang dijadikan prinsip utama dalam belajar lebih jauh menggambarkan keikhlasan dan tujuan pencarian ilmu. Ikhlas dalam belajar berarti bersih dari tujuan dan kepentingan duniawi, belajar diniatkan untuk mencari ridha Allah dan menghidupkan agama islam. Sebab agama tidak akan hidup tanpa ilmu, agar menghasilkan sosok intelektual yang berfikir sehingga manusia menyadari dirinya dan alam lingkunganya sebagai sistem yang menggambarkan fenomena kebesaran sang pencipta alam. Ilmu dan teknologi member banyak manfaat dan menawarkan kenyamanan hidup, sedangkan iman memberikan arah dan makna hidup. Perapaduan keduanya akan mengantar manusia menempati predikat unggul, sebab hidupnya mendapat ridla Allah dan senantiasa member manfaat pada orang lain.
Terdapat banyak media sebagai sumber untuk belajar yang pertama adalah Al-Quran. Dengan mempelajari Al-Quran manusia di harapkan dapat menangkap pesan-pesan Allah SWT, sehingga membuat manusia itu menjadi insan yang bertaqwa dengan menjaga diri dari berbuat salah dan selalu berbuat kebaikan. Mempelajari Al-Qur’an dengan membaca dan memahami serta mengamalkan isi kandungannya, bisa membuat pembacanya mendapat hidayah serta menjadikannya pribadi yang baik.
Sumber yang kedua adalah alam semesta, manusia dituntut agar melihat, mengkaji dan melakukan penalaran terhadap fenomena alam, hal itu meliputi bumi dan segala isinya, seperti ilmu geografi dan ilmu tentang tanah. bahkan manusia itu sendiri sebagai objek kajiannya,seperti ilmu kesehatan dan psikologi. Manusia sebagai makhluk pencari ilmu semestinya menjadikan hal-hal tersebut sebagai sumber belajar agar manusia dapat mengerti akan kekuasaan Allah dan ilmu-ilmu Allah.
Pandai bukanlah priorotas dalam belajar, karena yang di wajibkan adalah menuntut ilmu, untuk menjadikan pandai atau tidaknya manusia hanyalah kehendak Allah semata. Manusia hanya bisa berusaha. Maka dari itu proses belajar harus dilakukan secara terus-menerus dan berulang-ulang agar apa yang tuju akan tercapai. Karena semua yang ada itu dapat diperoleh dengan ilmu baik itu urusan dunia ataupun urusan akhirat kelak sedang ilmu didapat dari proses belajar.
Oleh karena itu menurut al-Qur’an, semboyan ilmu hanya untuk ilmu, atau belajar hanya untuk pengembangan ilmu, tidak dikenal sama sekali. Belajar dalam perspektif al-quran tidak bebas nilai, tetapi harus memiliki nilai ilahiyah dikembangkan sebagai bagian dari ibadah kepada  Allah dan diorientasikan untuk kemaslahatan dan kemanfaatan bagi kemanusiaan. Itulah sebabnya kaum muslimin dilarang oleh Rasulullah saw untuk berfikir dan berbuat hal-hal yang tidak berguna, dan sebaliknya didorong untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat.