Selasa, 23 Mei 2017

Dzikir (Ach. Ristanto, 2015010108)




MENAFSIRKAN AYAT
(DZIKIR)
Tugas ini disusun guna memenuhi tugas Mandiri mata kuliah Tafsir Tarbawi, yang diampu oleh Abdullah Maksum. Alh, M. Pd. I



Disusun Oleh :
Achmad Ristanto
(2015010108)
PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN (FITK)
UNIVERSITAS SAINS AL-QURAN (UNSIQ)
JAWA TENGAH DI WONOSOBO
2017


KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rosululloh SAW beserta keluarga, para sahabat dan seluruh umatnya pada akhir zaman. Berkat izin dan karunia-NYA. penyusun mampu menyelesaikan tugas mandiri dengan judul “MENAFSIRKAN AYAT”.
Namun tidak menutup kemungkinan makalah ini juga dapat menjadi sumber bacaan bagi siapa saja yang berminat mengetahui bahasan yang ada di dalamnya. Karena itu, semoga tugas ini dapat membantu mahasiswa  untuk mengikuti mata kuliah dimaksud, dan dapat pula bermanfaat bagi siapa saja yang ingin membacanya. Amin.
Dalam kesempatan ini kami menyampaikan rasa terima kasih kepada: 
Bapak Abdullah Maksum sebagai dosen pembimbing mata kuliah Tafsir Tarbawi.
Teman teman dari kelas PAI 3E serta semua pihak yang telah membantu kami.
Penulis telah berupaya semaksimal mungkin untuk menyusun tugas ini dengan sebaik baiknya, namun mungkin masih ada kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan dari semua pihak.
Akhirnya dengan tersusunnya makalah ini, semoga berguna dan bermanfaat, khususnya di dunia pendidikan dan masyarakat. Semoga Allah SWT. senantiasa meridhoi dan memberkati hidup dan perjuangan kita. Amin.

Wonosobo, 9 Mei 2017


Penulis

Ayat yang dikaji:
وَاذْ كُرُوا مَا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Dan berdzikirlah apa yang ada di dalamnya (kitab suci) supaya kalian menjadi orang yang bertakwa.” (Q.S. Al-Baqarah: 63).
Ayat Pendukung:
فَا ذْكُرُو نِي اَذْكُرْ كُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلاَتَكْفُرُونِ
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (Q.S. Al-Baqarah: 152).
وَاذْكُرُ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالغُدُوِّ وَالاَصَالِ وَلَا تَكُن مِّنَ الغَافِلِينَ
“Dan berdzikirlah kepada Allah di dalam jiwamu (qalbumu) dengan merendahkan diri dan rasa takut, serta tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (Q.S. Al-A’raf: 205).
وَمَن اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَاِنَّ لَهُ, مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ, يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى
“Dan barangsiapa berpaling dari dzikir kepada-Ku maka dia pasti akan menghadapi kehidupan yang serba sempit dan pada hari kiamat nanti Kami akan mengumpulkannya dalam keadaan buta.” (Q.S. At-Thaha: 124)
Hadits yang bersangkutan:
وَعَنْ عَبْدِاللّه بْنُ بُسْرً رضي الله . أنَّ رَجُلًا قَالَ: يَا رِسُولَ اللّهِ اِنِّ شَرَاءِعَ الْاِسْلَامِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيَّ، فَأخْبِرْنِي بِشَيْءٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ، قَالَ :لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِاللّهِ 
“Dari ‘Abdillah bin Busr ra., bahwasannya ada seseorang berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya syari’at Islam itu sangat banyak. Terangkanlah kepadaku yang dapat saya pegangi. Kata beliau: (hendaknya) lisanmu senantiasa basah dengan dzikrullah.” (H.R. At-Tirmidzi (5/458) [3375], Ibnu Majah (2/1246) [3793]. Lihat Shahih Sunan At-Tirmidzi (3/139) dan Shahih Sunan Ibnu Majah (2/317)).
لأَنْ أَقُولَ: سُبْحَانَ اللّه، وَالحَمْدُ للّهِ، وَلاَ اِله اِلاَّ اللّهُ، وَاللّهُ أَكْبَرُ، أَحَبُّ  اِلَيَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ
“Sungguh aku membaca kalimat Subhanallah, Alhamdulillah, Laa ilaha illa Allah, Allahu Akbar, lebih aku senangi dari pada dunia yang disinari matahari.” (H.R. Muslim).
أَلاَ أُنَبِّءُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ، وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيكِكُمْ، وَأَرْفَعِهَا فِي دَرَجَاتِكُمْ وَ خَيْرٍ لَكُمْ مِنْ اِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالْوَرِقِ، وَ خَيْرٍ لَكُمْ مِنْ أَنْتَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوا أَعْنَقَكُمْ؟ قَالُوا :بَلَي. قَالَ: ذِكْرُ اللّهِ تَعَالَي
“Maukah kalian saya terangkan tentang sebaik-baiknya amalan kalian dan yang paling sucinya di sisi Raja (yakni Allah Ta’ala) kalian, paling meninggikan derajat kalian dan lebih baik bagi kalian daripada infak emas dan perak. Bahkan lebih baik bagi kalian daripada kalian bertemu dengan musuh-musuh kalian lalu kalian menebas leher mereka atau mereka menebas leeher kalian? Para shahabat berkata: Tentu (wahai Rasulullah)! Kata beliau: (yaitu) Dzikrullahi Ta’ala (mengingat/menyebut Allah Ta’ala).” (H.R. At-Tirmidzi (5/459) [3377] dan Ibnu Majah (2/1245) [3790], lihat Shahih Sunan Ibnu Majah (2/316) dan Shahih Sunan At-Tirmidzi (3/139), dari Abu Darda’ ra.)
مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ، وَالَّذِي لاَ يَذْكُرُ مَثَلُ الْحَيِّ وَ الْمَيِّتِ
“Perumpamaan orang yang gemar berdzikir kepada Allah dan orang tidak berdzikir adalah orang yang hidup dan mati.” (H.R. Al-Bukhori (11/208 – Al-Fath [6407] , dari shahabat Abu Musa Al-Asyari ra.)
وَ قَالَ صل الله: مَا مِنْ قَوْمٍ يَقُوْمُوْنَ مِنْ مَجْلِسٍ لاَ يَذْكُرُوْنَ اللّهَ فِيْهِ، اِلاَّ قَامُوا عَنْ مِثْلِ جِيْفَةٍ حِمَارٍ، وَ كَانَ لَهُمْ حَسْرَةً
“Rasulullah saw. bersabda: Tidak ada suatu kaum yang bangkit dari majelisnya dalam keadaan mereka tidak berdzikir kepada Allah di dalamnya melainkan mereka bangkit dari suatu yang serupa dengan bangkai keledai dan menjadi penyesalan bagi mereka.” (H.R. Abu Daud (4/264) [4855], Ahmad (2/389) dan lihat Shahih Al Jami’ (5/176) [5750]).



Penjelasan:
Mengapa dalam tugas ini saya memilih dzikir sebagai kajian yang dibahas? Karena kehidupan kita tidak bisa lepas dari berdzikir, misalnya dari do’a-do’a yang dipanjatkan sebelum beraktivitas dan ibadah-ibadah wajib dan sunnah yang dilakukan. Begitu banyak pembahasan yang diperoleh dari masalah dzikir, baik dari pengertian, manfaat, bahkan kerugian bagi pelaku yang tidak melakukan kegiatan ini.


Hakikat Dzikir.
Dalam kamus disebutkan bahwa dzikir artinya mengingat atau menjaga dalam qalbu, atau menyebutnya dengan lisan dan memujinya. Sehingga dzikrullah berarti mengingat Allah dalam qalbu, atau menyebut-Nya dengan lisan serta memuji-Nya. Lawan dari dzikir itu sendiri bisa kita simpulkan yaitu  melupakan Allah dari qalbu kita entah tidak menyebut maupun tidak memuji-Nya. Dzikir tidak harus dengan hanya ucapan dengan lisan ataupun hati, dzikir juga dapat berbentuk peribadatan yang dapat membuat kita mengingat dan membuat qalbu kita tunduk kepada Allah swt. Seperti halnya ibadah shalat, do’a, membaca Al-Qur’an dan ibadah lainnya yang di dalamnya terdapat unsur mengingat Allah swt,
وَاذْ كُرُوا مَا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Dari ayat di atas dijelaskan bahwa ciri-ciri orang yang bertaqwa yaitu adalah orang yang senantiasa mengingat-ingat Allah swt. (dzikrullah). Dia yang mengingat Allah swt., dialah orang-orang yang selalu taat beribadah kepada-Nya dan menjauhi apapun yang dilarang oleh-Nya. Saat orang sedang melakukan shalat itulah wujud dzikir kepada Allah, saat orang tidak jadi melakukan kemaksiatan karena takut akan murka-Nya itu pula wujud dzikir kepda Allah. Namun sebaliknya jika ada orang tidak melalukan shalat maupun ibadah lainnya dan melakukan sebuah kemaksiaan, berarti dialah orang telah melupakan Allah swt. sebagai Tuhan seluruh makhluk.
وَعَنْ عَبْدِاللّه بْنُ بُسْرً رضي الله . أنَّ رَجُلًا قَالَ: يَا رِسُولَ اللّهِ اِنِّ شَرَاءِعَ الْاِسْلَامِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيَّ، فَأخْبِرْنِي بِشَيْءٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ، قَالَ :لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِاللّهِ 
Dengan berdzikir syariat Islam yang begitu banyaknya sudah terpenuhi, bahkan saat para shahabat bertanya kepada Rasulullah tentang syariat Islam, Rasulullah menjawab dzikullah. Sejatinya apapun bentuk ibadah pastilah di dalamnya terkandung dzikir-dzikir kepada Allah, seperti bacaan do’a dalam shalat, do’a-do’a sebelum ataupun sesudah ibadah maupun do’a-do’a harian, semua adalah bentuk dzikrullah ta’ala.


Hikmah Berdzikir. 
فَا ذْكُرُو نِي اَذْكُرْ كُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلاَتَكْفُرُونِ
Dari ayat yang terkandung di dalam surat Al-Baqarah: 152, Allah Azza wa Jalla menegaskan bahwa agar kita memenuhi kewajiban kita sebagai makhluk dan hak-hak kita pun akan terpenuhi. Kita sebagai makhluk sudah sewajibnya mengingat-ingat dan taat kepada Sang Pencipta yaitu Allah swt. entah itu dengan lisan, hati maupun dengan tindakan. Setelah hak Allah terpenuhi, maka hak-hak kita sebagai makhuk-Nya pun akan terpeni pula. Bagaimana Allah akan mengabulkan dan memenuhi kebutuhan kita, jika kita sebagai makhluknya saja tidak mengingat Dia. Dari ayat di atas juga menjelaskan hikmah yang sangat besar yaitu Allah swt. akan mengingat hamba-Nya yang selalu mengingat-Nya, jika Allah swt. sudah sayang kepada makhluknya sudah pastilah kebahagiaan yang abadi (syurga) dia dapatkan.
لأَنْ أَقُولَ: سُبْحَانَ اللّه، وَالحَمْدُ للّهِ، وَلاَ اِله اِلاَّ اللّهُ، وَاللّهُ أَكْبَرُ، أَحَبُّ  اِلَيَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ
Hadits tersebut juga menerengkan bahwa pahala berdzikir begitu indah, bahkan Allah swt. mengatakan: mengucapkan kalimat dzikir lebih disenangi dari pada dunia yang disinari matahari, padahal kita ketahui bahwa dunia ini begitu indah.
أَلاَ أُنَبِّءُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ، وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيكِكُمْ، وَأَرْفَعِهَا فِي دَرَجَاتِكُمْ وَ خَيْرٍ لَكُمْ مِنْ اِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالْوَرِقِ، وَ خَيْرٍ لَكُمْ مِنْ أَنْتَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوا أَعْنَقَكُمْ؟ قَالُوا :بَلَي. قَالَ: ذِكْرُ اللّهِ تَعَالَي
Mengulas keutamaan orang yang senantiasa berdzikir sangatlah besar derajatnya, seperti hadits diatas menerangkan bahwa berdzikir dengan qalbu yang khusuk, jiwa yang taat dan kepala yang tunduk kepada Dzat Sang Pencipta lebih besar pahalanya dari pada menginfakkan emas dan perak, bahkan pahalanya dapat melebihi dengan membunuh musuh Allah swt. ataupun terbunuh di dalam melawan musuh-musuh Allah swt. (jihad fi sabilillah).
وَاذْكُرُ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالغُدُوِّ وَالاَصَالِ وَلَا تَكُن مِّنَ الغَافِلِينَ
Dalam berdzikir kepada Allah swt. tidaklah mengenal waktu, baik pada pagi siang sore bahkan malam hari. Bahkan kita sebagai makhluk ciptaan-Nya haruslah kita mengingat-Nya (dzikrullah) setiap saat baik dalam keadaan lapang maupun sempit. Meskipun demikian, ada pula dzikir-dzikir (do’a) khusus yang dipanjatkan pada waktu tertentu misalnya: dzikir setelah shalat, dzikir sebelum maupun setelah tidur, dzikir pada pagi maupun malam hari dan masih banyak dzikir yang lainnya. Dalam berdzikir dengan lisan tidak harus dengan suara yang keras karena Allah swt. Maha Mendengar, salah satu bukti Allah swt. mempunyai sifat tersebut yaitu Dia bisa mendengar suara yang paling lirih di dalam lautan yang dalam. Jangan pula kita termasuk orang yang lalai karena waktu disibukkan dengan urusan dunia sehingga kita lupa untuk mengingat Allah swt.


Ancaman Bagi yang Tidak Berdzikir.
وَمَن اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَاِنَّ لَهُ, مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ, يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى
Tidak hanya dikatakan sebagai orang yang lalai apabila kita berpaling dari dzikrullah, tapi juga mendapatkan balasan pada hari kiamat nanti. Ayat di atas menerangkan bahwa orang yang berpaling dari dzikrullah maka di dalam kehidupan dunia mendapatkan kesempitan, kesempitan yang dimaksud bukan bersifat duniawi tetapi lebih kepada qalbu yang sempit. Dan juga, di akhirat kelak akan dibangkitkan dalam keadaan buta tidak dapat melihat apa-apa.
مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ، وَالَّذِي لاَ يَذْكُرُ مَثَلُ الْحَيِّ وَ الْمَيِّتِ
Jangan sampai kita disebut mayat hidup karena berpaling dari dzikrullah. Seperti yang dimasud hadits yang diriwayatkan Bukhori dan Abu Musa diatas: Perumpamaan orang yang gemar berdzikir kepada Allah dan orang tidak berdzikir adalah orang yang hidup dan mati.”
وَ قَالَ صل الله: مَا مِنْ قَوْمٍ يَقُوْمُوْنَ مِنْ مَجْلِسٍ لاَ يَذْكُرُوْنَ اللّهَ فِيْهِ، اِلاَّ قَامُوا عَنْ مِثْلِ جِيْفَةٍ حِمَارٍ، وَ كَانَ لَهُمْ حَسْرَةً
Bahkan karena begitu agungnya berdzikir kepada Allah, Rasulullah saw. mengatakan kepada mereka yang keluar dari suatu majlis ataupun perkumpulan tanpa berdzikir kepada Allah (mengingat Allah) layaknya seperti bangkai keledai. Perlu diketahui bahwa keledai adalah seburuk-buruk ataupun sejelek-jeleknya binatang.


Kritik/Saran:
Tugas ini saya buat dengan sebaik-baiknya, apabila masih terdapat kesalahan saya mohon maaf karena minimnya ilmu yang saya miliki. Mohon bimbingan Bapak jika masih ada yang harus dibenarkan. Terimakasih banyak, Jazakallah khoiron.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar