ILMU
Disusun guna memenuhi tugas matakuliah Studi Tafsir Tarbawi yang
diampu oleh Abdullah Ma’sum, M.Pd.I., Alh.
Disusun Oleh:
Nur Ziadatul Khasanah
2015010023
PAI 4E
PROGAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN (FITK)
UNIVERSITAS SAINS AL-QURAN (UNSIQ)
JAWA TENGAH DI WONOSOBO
2017
Ilmu
Ilmu
berasal dari bahasa Arab yaitu (alima, ya’lamu, ‘ilman), yang berarti mengerti,
memahami benar-benar. Sedangkan dari segi istilah adalah segala pengetahuan
atau kebenaran tentang sesuatu yang datang dari Allah SWT yang diturunkan
kepada Rasul-rasulnya dan alam ciptaanNya termasuk manusia biasa yang memiliki
aspek lahiriah dan batiniah.
Ilmu
merupakan kunci untuk menyelesaikan segala persoalan, baik yang berhubungan
agama maupun kehidupan duniawi. Ilmu diibaratkan cahaya, karena ilmu memiliki
fungsi sebagai petunjuk kehidupan manusia, pemberi cahaya bagi orang yang ada
dalam kegelapan.
Ulama
adalah orang yang memiliki displin ilmu apapun dan mampu mengamalkannya,
menjadikan dirinya dan orang lain merasa dekat dan takut kepada Allah.
Ayat
Utama tentang Ilmu
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ
فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ
دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Artinya: “Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu:
"Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah
akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah
kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang
beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa
derajat. Dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al
Mujadilah:11)
Ayat Pendukung tentang Ilmu
وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ
كَذَٰلِكَ ۗ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ
عَزِيزٌ غَفُورٌ
Artinya: “Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang
melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan
jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya,
hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. (QS. Al-Fathir:28)
أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ
وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ
وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
Artinya: “(apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung)
ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri,
sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya?
Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang
yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat
menerima pelajaran”. (QS. Az-Zumar:9)
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ
مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا
قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
Artinya:
“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa
tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk
memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan
kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat
menjaga dirinya”. (QS. At-Taubah:122)
Hadis Pendukung tentang Ilmu
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ
مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ
Artinya: ”Mencari ilmu itu adalah wajib bagi setiap
muslim laki-laki maupun muslim perempuan”. (HR. Ibnu Abdil Barr)
مَنْ أَرَا دَالدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِا لْعِلْمِ، وَمَنْ
أَرَادَالْاآخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ
بِالْعِلْمِ
Artinya: ”Barang siapa yang
menghendaki kehidupan dunia maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa
yang menghendaki kehidupan akherat, maka wajib baginya memiliki ilmu, dan
barang siapa menghendaki keduanya maka wajib baginya memiliki ilmu”. (HR.
Turmudzi)
مَنْ خَرَجَ فِى طَلَبُ الْعِلْمِ فَهُوَ فِى سَبِيْلِ اللهِ حَتَّى
يَرْجِعَ
Artinya:
”Barang siapa yang keluar untuk mencari ilmu maka ia berada di jalan Allah
hingga ia pulang”. (HR. Turmudzi)
مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ بِهِ
طَرِيْقًا إِلَى
الْجَنَّةِ
الْجَنَّةِ
Artinya: ”Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari
suatu ilmu. Niscaya Allah memudahkannya ke jalan menuju surga”. (HR. Turmudzi)
مُجَالَسَةُ الْعُلَمَاءِ عِبَادَةٌ
Artinya: “Duduk bersama para Ulama adalah ibadah.”
(HR. Al-Dailami)
Kesimpulan
Pada zaman Rasulullah umat muslim dianjurkan untuk pembagian tugas
yaitu sebagian mengikuti perang, sebagian yang lain menuntut ilmu. Orang
beriman sejati tidaklah semuanya turut bertempur berjihad dengan senjata ke
medan perang, “tetapi alangkah baiknya keluar dari tiap-tiap golongan itu, diantara mereka, satu kelompok
supaya mereka memperdalam pengertian tentang agama”. Dengan demikian maksudnya Allah
menganjurkan pembagian tugas. Seluruh orang iman diwajibkan berjihad dan diwajibkan pergi berperang menurut
kesanggupan masing-masing baik secara ringan taupun berat. Maka dengan ini
jihad dibagi dua yaitu jihad bersenjata dan jihad memperdalam ilmu pengetahuan
dan agama. Namun seiring perkembangan zaman tidak ada lagi jihad bersenjata,
yang ada jihad melawan kebodohan. Setiap individu melawan kebodohannya sendiri,
individu dituntut untuk mempelajari ilmu agar bisa memahami, menyelesaikan
setiap permasalahan duniawi. Jihad seperti ini lebih sulit daripada jihad
bersenjata. Jihad bersenjata menggunakan keberanian dan kekuatan fisik, jika ia
gugur dimedan perang maka ia mati syahid. Begitupun juga dengan orang yang
menuntut ilmu karena Allah, jika ia mati
maka ia mati syahid. Namun seseorang yang mempelajari ilmu dan kemudian ia
tidak mengamalkannya, tindakan dan ucapannya sama seperti orang bodoh, Allah
tidak menyukainya, sama saja ia menyembunyikan ilmunya.
Menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap muslim laki-laki maupun
perempuan. Sebelum manusia lahir ke dunia yaitu ketika dalam rahim ibunya
sampai manusia mati wajib menuntut ilmu. Seperti dalam tradisi masyarakat
Indonesia, Ibu hamil usia 7 bulan diadakan upacara mitoni merupakan
bagian dari pendidikan, mengajarkan kepada calon bayi untuk membaca al-Quran,
berdoa, dan lain sebagainya. Begitupun orang yang sudah mati, ketika dimasukkan
ke liang lahat masih diberikan ilmu yaitu di adzani, di doakan, di beri tahu
bagaimana menjawab ketika ditanya oleh malaikat munkar nakir.
Allah memotivasi hambaNya dalam menuntut ilmu berupa menaikkan
derajad dan memudahkan jalan menuju surga bagi hambaNya dalam menuntut ilmu. Jika
seseorang disuruh melapangkan majlis,
yang berarti melapangkan hati, bahkan jika dia disuruh berdiri sekalipun lalu
memberikan tempatnya kepada orang yang patut di dudukkan dimuka, janganlah dia
berkecil hati. Melainkan hendaklah dia berlapang dada. Karena orang yang
berlapang dada yang akan diangkat Allah, imannya dan ilmunya, sehingga
derajatnya bertambah naik. Orang yang patuh dan sudi memberikan tempat kepada
orang lain itulah yang akan bertambah ilmunya. Pokok hidup utama adalah iman
dan pokok pengiringnya adalah ilmu. Iman tidak disertai ilmu dapat membawa
dirinya terperosok mengerjakan pekerjaan yang disangka menyembah Allah, padahal
mendurhakai Allah. Sebaliknya orang yang berilmu tidak disertai iman, maka
ilmunya dapat membahayakan bagi dirinya dan orang lain.
Dengan ilmu seseorang bisa
meraih dunia, bisa meraih akherat, jika menghendaki keduanya juga dengan ilmu.
Orang yang menuntut ilmu dijalan Allah, dengan mengikuti perintah dan menjauhi
laranganNya, maka ilmu akan mudah masuk ke dalam hatinya kemudian diamalkan. Seseorang
yang mempelajari ilmu dan mengamalkan dangan hati ikhlas tidak mengharapkan apapun selain ridho Allah,
maka dunia akan mengikutinya. Misalnya dalam pendidikan pesantren, kyai dalam
mendidik santri untuk menjadi generasi bangsa yang berbudi pekerti luhur, tidak
pernah meminta imbalan ataupun upah kepada walisantri. Kyai lilahita’ala dalam
mengajarkan ilmu. Dampak positifnya kyai dihormati, disegani, ditaqdimi tidak
hanya oleh santri namun masyarakat. Walaupun kyai pekerjaannya sangat sederhana
misalnya hanya sebagai petani, pedagang, ataupun peternak, namun kehidpannya
sangat tercukupi, pembangunan pondok pesantren juga terus berkembang. Itulah
janji Allah kepada orang yang mempelajari dan mengamalkan ilmu dengan ikhlas maka
kehidupan didunia akan tercukupi, ketentraman hidup akan di dapat dengan
kesederhanaan. Santri sesulit apapun yang diperintahkan oleh kyai pasti akan
dilakukannya. Karena pendidikan pesantren berprinsip kepada sifat ikhlas
artinya bagaimanapun, seperti apapun keadaannya, apa yang Allah tetapkan semua
diterima dengan lapan dada. Prinsip itulah yang menjadikan keberhasilan para
santri ketika selesai di pondok pesantren.
Dalam pengertian al-Quran Ulama adalah orang yang memiliki derajat
dan kemuliaan, tidak pernah takut kepada apapun, siapapun selain Allah SWT.
Apabila ia ditimpa musibah senantiasa bersabar, apabila diberi kemudahan dan
kelapangan maka ia bersyukur, apapun yang diberikan Allah baik maupun buruk
diterimanya dengan ikhlas. Sehingga Allah akan menambahkan ilmu kepadanya. Ulama
merupakan gelar untuk orang yang memiliki ilmu yang tinggi. Tidak ada ulama
yang menyebut dirinya sebagai ulama karena gelar tersebut diberikan oleh
manusia, ada juga orang yang diberi gelar ulama oleh manusia tetapi sebenarnya
ia tidak termasuk ulama dihadapan Allah. Orang yang digelari sebagai ulama
karena keturunan ulama, memiliki pangkat tinggi padahal ia menyombongkan keilmuaannya,
seseorang tersebut tidaklah disebut ulama di hadapan Allah. Orang yang memiliki
derajat tinggi dan kemulian, walaupun ia tidak di gelari sebagai ulama
dihadapan manusia pasti memiliki aura yang berbeda, wajahnya teduh ketika
dipandang, memiliki wibawa tersendiri, orang lain akan segan kepadanya.
Di era ini telah terjadi kemerosotan dalam bidang ilmu pengetahuan
di kalangan umat Islam, banyak yang menganggap ulama adalah orang yang fakih
dalam bidang ilmu-ilmu keagamaan. Padahal zaman dulu masyarakat tidak
membedakan antara ahli agama, ahli kedokteran, ahli ekonomi, ahli matematika
dan lain sebagaianya, asalkan dengan ilmu yang dimilikinya menjadikan dekat
kepada Allah itulah yang disebut ulama.
Jadi siapapun bisa mencapai derajat kemuliaan sepanjang ilmu yang
dimilki menjadikan rasa takut kepada Allah. Seseorang berprofesi sebagai tukang
kebun sekalipun bisa menjadi ulama dalam
pandangan Allah selama profesiya dapat mendekatkan dan memunculkan rasa takut
kepada Allah. Tangan sibuk bekerja, hati dan lisan berdzikir mengingat Allah.
Akal pikirannya sadar bahwa Allah mengawasi maka profesi yang dikerjakannya
dengan kesungguhan. Dengan demikian, setiap orang bisa berbuat apapun dengan
disipin ilmu apapun, sepanjang ikhtiar bisa membuat dirinya dan orang lain
mengingat Allah SWT.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar