Senin, 15 Mei 2017

ilmu

ILMU
Disusun guna memenuhi tugas matakuliah Studi Tafsir Tarbawi yang diampu oleh Abdullah Ma’sum, M.Pd.I., Alh.









Disusun Oleh:
Nur Ziadatul Khasanah
2015010023
PAI 4E
PROGAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN (FITK)
UNIVERSITAS SAINS AL-QURAN (UNSIQ)
JAWA TENGAH DI WONOSOBO
2017

Ilmu

Ilmu berasal dari bahasa Arab yaitu (alima, ya’lamu, ‘ilman), yang berarti mengerti, memahami benar-benar. Sedangkan dari segi istilah adalah segala pengetahuan atau kebenaran tentang sesuatu yang datang dari Allah SWT yang diturunkan kepada Rasul-rasulnya dan alam ciptaanNya termasuk manusia biasa yang memiliki aspek lahiriah dan batiniah.
Ilmu merupakan kunci untuk menyelesaikan segala persoalan, baik yang berhubungan agama maupun kehidupan duniawi. Ilmu diibaratkan cahaya, karena ilmu memiliki fungsi sebagai petunjuk kehidupan manusia, pemberi cahaya bagi orang yang ada dalam kegelapan.
Ulama adalah orang yang memiliki displin ilmu apapun dan mampu mengamalkannya, menjadikan dirinya dan orang lain merasa dekat dan takut kepada Allah.
Ayat Utama tentang Ilmu
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Artinya: “Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al Mujadilah:11)
Ayat Pendukung tentang Ilmu
وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَٰلِكَ ۗ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ
Artinya: “Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. (QS. Al-Fathir:28)
أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
Artinya: “(apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”. (QS. Az-Zumar:9)
 وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
Artinya: “Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”. (QS. At-Taubah:122)
Hadis Pendukung tentang Ilmu
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ
Artinya: ”Mencari ilmu itu adalah wajib bagi setiap muslim laki-laki maupun muslim perempuan”. (HR. Ibnu Abdil Barr)
مَنْ أَرَا دَالدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِا لْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَالْاآخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ
Artinya: ”Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akherat, maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa menghendaki keduanya maka wajib baginya memiliki ilmu”. (HR. Turmudzi)
مَنْ خَرَجَ فِى طَلَبُ الْعِلْمِ فَهُوَ فِى سَبِيْلِ اللهِ حَتَّى يَرْجِعَ
Artinya: ”Barang siapa yang keluar untuk mencari ilmu maka ia berada di jalan Allah hingga ia pulang”. (HR. Turmudzi)
مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى
الْجَنَّةِ
Artinya: ”Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari suatu ilmu. Niscaya Allah memudahkannya ke jalan menuju surga”. (HR. Turmudzi)
مُجَالَسَةُ الْعُلَمَاءِ عِبَادَةٌ
Artinya: “Duduk bersama para Ulama adalah ibadah.” (HR. Al-Dailami)
Kesimpulan
Pada zaman Rasulullah umat muslim dianjurkan untuk pembagian tugas yaitu sebagian mengikuti perang, sebagian yang lain menuntut ilmu. Orang beriman sejati tidaklah semuanya turut bertempur berjihad dengan senjata ke medan perang, “tetapi alangkah baiknya keluar dari tiap-tiap  golongan itu, diantara mereka, satu kelompok supaya mereka memperdalam pengertian tentang agama”. Dengan demikian maksudnya Allah menganjurkan pembagian tugas. Seluruh orang iman diwajibkan berjihad  dan diwajibkan pergi berperang menurut kesanggupan masing-masing baik secara ringan taupun berat. Maka dengan ini jihad dibagi dua yaitu jihad bersenjata dan jihad memperdalam ilmu pengetahuan dan agama. Namun seiring perkembangan zaman tidak ada lagi jihad bersenjata, yang ada jihad melawan kebodohan. Setiap individu melawan kebodohannya sendiri, individu dituntut untuk mempelajari ilmu agar bisa memahami, menyelesaikan setiap permasalahan duniawi. Jihad seperti ini lebih sulit daripada jihad bersenjata. Jihad bersenjata menggunakan keberanian dan kekuatan fisik, jika ia gugur dimedan perang maka ia mati syahid. Begitupun juga dengan orang yang menuntut ilmu karena Allah,  jika ia mati maka ia mati syahid. Namun seseorang yang mempelajari ilmu dan kemudian ia tidak mengamalkannya, tindakan dan ucapannya sama seperti orang bodoh, Allah tidak menyukainya, sama saja ia menyembunyikan ilmunya.
Menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap muslim laki-laki maupun perempuan. Sebelum manusia lahir ke dunia yaitu ketika dalam rahim ibunya sampai manusia mati wajib menuntut ilmu. Seperti dalam tradisi masyarakat Indonesia, Ibu hamil usia 7 bulan diadakan upacara mitoni merupakan bagian dari pendidikan, mengajarkan kepada calon bayi untuk membaca al-Quran, berdoa, dan lain sebagainya. Begitupun orang yang sudah mati, ketika dimasukkan ke liang lahat masih diberikan ilmu yaitu di adzani, di doakan, di beri tahu bagaimana menjawab ketika ditanya oleh malaikat munkar nakir.
Allah memotivasi hambaNya dalam menuntut ilmu berupa menaikkan derajad dan memudahkan jalan menuju surga bagi hambaNya dalam menuntut ilmu. Jika seseorang disuruh  melapangkan majlis, yang berarti melapangkan hati, bahkan jika dia disuruh berdiri sekalipun lalu memberikan tempatnya kepada orang yang patut di dudukkan dimuka, janganlah dia berkecil hati. Melainkan hendaklah dia berlapang dada. Karena orang yang berlapang dada yang akan diangkat Allah, imannya dan ilmunya, sehingga derajatnya bertambah naik. Orang yang patuh dan sudi memberikan tempat kepada orang lain itulah yang akan bertambah ilmunya. Pokok hidup utama adalah iman dan pokok pengiringnya adalah ilmu. Iman tidak disertai ilmu dapat membawa dirinya terperosok mengerjakan pekerjaan yang disangka menyembah Allah, padahal mendurhakai Allah. Sebaliknya orang yang berilmu tidak disertai iman, maka ilmunya dapat membahayakan bagi dirinya dan orang lain.
Dengan ilmu  seseorang bisa meraih dunia, bisa meraih akherat, jika menghendaki keduanya juga dengan ilmu. Orang yang menuntut ilmu dijalan Allah, dengan mengikuti perintah dan menjauhi laranganNya, maka ilmu akan mudah masuk ke dalam hatinya kemudian diamalkan. Seseorang yang mempelajari ilmu dan mengamalkan dangan hati ikhlas  tidak mengharapkan apapun selain ridho Allah, maka dunia akan mengikutinya. Misalnya dalam pendidikan pesantren, kyai dalam mendidik santri untuk menjadi generasi bangsa yang berbudi pekerti luhur, tidak pernah meminta imbalan ataupun upah kepada walisantri. Kyai lilahita’ala dalam mengajarkan ilmu. Dampak positifnya kyai dihormati, disegani, ditaqdimi tidak hanya oleh santri namun masyarakat. Walaupun kyai pekerjaannya sangat sederhana misalnya hanya sebagai petani, pedagang, ataupun peternak, namun kehidpannya sangat tercukupi, pembangunan pondok pesantren juga terus berkembang. Itulah janji Allah kepada orang yang mempelajari dan mengamalkan ilmu dengan ikhlas maka kehidupan didunia akan tercukupi, ketentraman hidup akan di dapat dengan kesederhanaan. Santri sesulit apapun yang diperintahkan oleh kyai pasti akan dilakukannya. Karena pendidikan pesantren berprinsip kepada sifat ikhlas artinya bagaimanapun, seperti apapun keadaannya, apa yang Allah tetapkan semua diterima dengan lapan dada. Prinsip itulah yang menjadikan keberhasilan para santri ketika selesai di pondok pesantren.
Dalam pengertian al-Quran Ulama adalah orang yang memiliki derajat dan kemuliaan, tidak pernah takut kepada apapun, siapapun selain Allah SWT. Apabila ia ditimpa musibah senantiasa bersabar, apabila diberi kemudahan dan kelapangan maka ia bersyukur, apapun yang diberikan Allah baik maupun buruk diterimanya dengan ikhlas. Sehingga Allah akan menambahkan ilmu kepadanya. Ulama merupakan gelar untuk orang yang memiliki ilmu yang tinggi. Tidak ada ulama yang menyebut dirinya sebagai ulama karena gelar tersebut diberikan oleh manusia, ada juga orang yang diberi gelar ulama oleh manusia tetapi sebenarnya ia tidak termasuk ulama dihadapan Allah. Orang yang digelari sebagai ulama karena keturunan ulama, memiliki pangkat tinggi padahal ia menyombongkan keilmuaannya, seseorang tersebut tidaklah disebut ulama di hadapan Allah. Orang yang memiliki derajat tinggi dan kemulian, walaupun ia tidak di gelari sebagai ulama dihadapan manusia pasti memiliki aura yang berbeda, wajahnya teduh ketika dipandang, memiliki wibawa tersendiri, orang lain akan segan kepadanya.
Di era ini telah terjadi kemerosotan dalam bidang ilmu pengetahuan di kalangan umat Islam, banyak yang menganggap ulama adalah orang yang fakih dalam bidang ilmu-ilmu keagamaan. Padahal zaman dulu masyarakat tidak membedakan antara ahli agama, ahli kedokteran, ahli ekonomi, ahli matematika dan lain sebagaianya, asalkan dengan ilmu yang dimilikinya menjadikan dekat kepada Allah itulah yang disebut ulama.
Jadi siapapun bisa mencapai derajat kemuliaan sepanjang ilmu yang dimilki menjadikan rasa takut kepada Allah. Seseorang berprofesi sebagai tukang kebun sekalipun bisa menjadi ulama  dalam pandangan Allah selama profesiya dapat mendekatkan dan memunculkan rasa takut kepada Allah. Tangan sibuk bekerja, hati dan lisan berdzikir mengingat Allah. Akal pikirannya sadar bahwa Allah mengawasi maka profesi yang dikerjakannya dengan kesungguhan. Dengan demikian, setiap orang bisa berbuat apapun dengan disipin ilmu apapun, sepanjang ikhtiar bisa membuat dirinya dan orang lain mengingat Allah SWT.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar