AYAT AL-QUR’AN
TENTANG ADIL
Disusun guna
memenuhi tugas Mata Kuliah Tafsir Tarbawi
Dosen pengampu
Abdullah Ma’sum, Alh
Disusun Oleh :
Nur Hikmah
2015010120
PAI 4E
PENDIDIKAN AGAMA
ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
(FITK)
UNIVERSITAS SAINS AL-QUR’AN (UNSIQ)JAWA
TENGAH
DI WONOSOBO
2017
A.
PENGERTIAN
ADIL
Kata adil
berasal dari bahasa Arab yang secara harfiyah berarti sama. Menurut kamus
bahasa Indonesia, adil berarti sama berat, tidak berat sebelah, tidak memihak,
berpihak kepada yang benar, berpegang kepada kebenaran dan sepatutnya. Dengan
demikian, seseorang disebut berlaku adil apabila ia tidak berat sebelah dalam
menilai sesuatu, tidak berpihak kepada salah satu kecuali keberpihakannya
kepada siapa saja yang benar sehingga ia tidak akan berlaku sewenang-wenang.
Dalam buku “Wawasan
Al-Qur’an”, Prof. Dr. M. Quraish Shihab membahas perintah penegakan
keadilan dalam al-Qur’an dengan mengutip tiga kata yakni al-adl,
al-qisth, al-mizan.Kata al-adl
menunjuk kepada arti “sama” yang memberi kesan adanya dua pihak atau lebih,
sedangkan kata al-qist menunjuk kepada arti
“bagian” (yang wajar dan patut), dan al-mizan menunjuk kepada arti alat
untuk menimbang yang berarti pula “keadilan”. Ketiganya sekalipun berbeda
bentuknya namun memiliki semangat yang sama yakni perintah kepada manusia untuk
berlaku adil.
Prof. Dr. Yusuf
Qardlawi dalam bukunya “Sistem Masyarakat Islam dalam Al-Qur’an &
Sunnah” memberikan pengertian adil adalah “memberikan kepada segala
yang berhak akan haknya, baik secara pribadi atau secara berjamaah, atau secara
nilai apa pun, tanpa melebihi atau mengurangi, sehingga tidak sampai mengurangi
haknya dan tidak pula menyelewengkan hak orang lain.”
B. AYAT
AL-QUR’AN TENTANG ADIL
Q.S.
Al-Maidah ayat 8
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ
وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ
اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ
وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ
إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُون
Artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah
kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi
saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum,
mendorong kamu untuk tidak berlaku adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih
dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
C. HADITS
TENTANG ADIL
عَنْ عَبْدِ
اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللَّهُ تعالى عنهما قَالَ قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّم إِنَّ
الْمُقْسِطِينَ عِنْدَ اللَّهِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ، عَنْ يَمِينِ
الرَّحْمَنِ عَزَّ وَجَلَّ وَكِلْتَا يَدَيْهِ الَّذِينَ
يَعْدِلُونَ فِى حُكْمِهِمْ وَأَهْلِيهِمْ وَمَا وَلُوا
Artinya:
”Dari Abdullah ibn Amr bin As, ia
berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘sesungguhnya orang-orang yang berlaku adil
disisi Allah akan berada dipuncak cahaya disebelah kanan-Nya. Dan kekuasaan-Nya
berada disebelah kanan orang-orang yang berlaku adil dalam mengambil keputusan
hukum, terhadap keluarga mereka dan terhadap sesuatu yang diamanahkan kepada
mereka.” (HR. Muslim 3406 dan an-Nasa’i 5284)
فَاتَّقُوا اللهَ وَاعْدِلُوا
بَيْنَ أَوْلَادِكُمْ
Artinya:
“Bertakwalah kalian kepada Allah dan bersikaplah adil di antara
anak-anak kalian!” (HR. Bukhari)
اعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلادِكُمْ فِي
النُّحْلِ، كَمَا تُحِبُّونَ أَنْ يَعْدِلُوا بَيْنَكُمْ فِي الْبِرِّ وَاللُّطْفِ
Artinya:
“Bersikaplah adil di antara anak-anak kalian dalam
hibah, sebagaimana kalian menginginkan mereka berlaku adil kepada kalian dalam
berbakti dan berlemah lembut.” (HR. al-Baihaqi)
عَنْ عِيَاضِ بْنِ
حِمَارٍ الْمُجَاشِعِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَ َأَهْلُ الْجَنَّةِ ثَلَاثَةٌ ذُو سُلْطَانٍ مُقْسِطٌ مُتَصَدِّقٌ مُوَفَّقٌ
وَرَجُلٌ رَحِيمٌ رَقِيقُ الْقَلْبِ لِكُلِّ ذِي قُرْبَى وَمُسْلِمٍ وَعَفِيفٌ
مُتَعَفِّفٌ ذُو عِيَالٍ
Artinya: “Ijadl bin himar r.a berkata: saya telah
mendengar rasulullah saw bersabda: orang-orang ahli surga ada tiga macam: raja
yang adil, mendapat taufiq hidayat ( dari allah). Dan orang belas kasih lunak
hati pada sanak kerabat dan orang muslim. Dan orang miskin berkeluarga yang
tetap menjaga kesopanan dan kehormatan diri”. (HR. Muslim)
عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَبْعَةٌ
يُظِلُّهُمْ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا
ظِلُّهُ إِمَامٌ عَادِلٌ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ وَرَجُلٌ ذَكَرَ
اللَّهَ فِي خَلَاءٍ فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي
الْمَسْجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ
مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ إِلَى نَفْسِهَا قَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ
تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا صَنَعَتْ
يَمِينُهُ
Artinya: “Abu hurairah r.a: berkata: bersabda nabi saw:
ada tujuh macam orang yang bakal bernaung di bawah naungan allah, pada hati
tiada naungan kecuali naungan allah: Imam(pemimpin) yang adil, dan pemuda yang
rajin ibadah kepada allah. Dan orang yang hatinya selalu gandrung kepada
masjid. Dan dua orang yang saling kasih sayang karena allah, baik waktu
berkumpul atau berpisah. Dan orang laki yang diajak berzina oleh wanita
bangsawan nan cantik, maka menolak dengan kata: saya takut kepada allah. Dan
orang yang sedekah dengan sembunyi-sembunyi hingga tangan kirinya tidak
mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya. Dan orang berdzikir
ingat pada allah sendirian hingga mencucurkan air matanya.” (HR. Bukhari,
Muslim)
D. AYAT
PENDUKUNG TENTANG ADIL
1. Q.S.
An-Nahl ayat 90
إِنَّ
اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى
عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ
يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُون
Artinya: ”Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku
adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang
dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran
kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”
2. Q.S.
An-Nisa ayat 58
إِنَّ
ٱللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا۟
ٱلْأَمَٰنَٰتِ إِلَىٰٓ أَهْلِهَا
وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ ٱلنَّاسِ أَن تَحْكُمُوا۟ بِٱلْعَدْلِ
إِنَّ ٱللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِۦٓ إِنَّ
ٱللَّهَ كَانَ سَمِيعًۢا بَصِيرًا
Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu
menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila
menetapkan hukum diantara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.
Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu.
Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
3. Q.S.
Al-Mumtahanah ayat 8
لَا
يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ
يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ
وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
Artinya: “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat
baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama
dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai
orang-orang yang berlaku adil.”
4. Q.S
Al-Anam ayat 152
وَلَا
تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّىٰ يَبْلُغَ
أَشُدَّهُ ۖ
وَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ ۖ
لَا نُكَلّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۖ
وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَىٰ ۖ
وَبِعَهْدِ
اللَّهِ أَوْفُوا ۚ
ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
Artinya: “Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim,
kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan
sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban
kepada seseorang melainkan sekadar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata,
maka hendaklah kamu berlaku adil kendatipun dia adalah kerabat (mu), dan
penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu
ingat”
E. KESIMPULAN
Kata adil
berasal dari bahasa Arab yang secara harfiyah berarti sama. Menurut kamus
bahasa Indonesia, adil berarti sama berat, tidak berat sebelah, tidak memihak,
berpihak kepada yang benar, berpegang kepada kebenaran dan sepatutnya. Dengan
demikian, seseorang disebut berlaku adil apabila ia tidak berat sebelah dalam
menilai sesuatu, tidak berpihak kepada salah satu kecuali keberpihakannya
kepada siapa saja yang benar sehingga ia tidak akan berlaku sewenang-wenang. Banyak
ayat Al-Qur’an yang membicarakan tentang adil, beberapa di-antaranya yaitu,
Q.S. Al-Maidah ayat 8, Q.S. An-Nahl ayat 90, Q.S. An-Nisa
ayat 58, Q.S. Al-Mumtahanah ayat 8, Q.S Al-Anam ayat 152.
Surat Al-Maidah
ayat 8 menyuruh kita untuk menegakkan keadilan. Maksudnya, kita dianjurkan
menjadi penegak kebenaran karena Allah SWT bukan karena manusia, dan menjadi
saksi dengan adil bukan secara curang atau memberikan saksi palsu dan bukan
karena kepentingan pribadi atau duniawi. Jika bersaksi katakanlah yang benar
dan adil, meskipun kesaksian itu memberatkan bagi orang yang disaksikan dan
meskipun orang itu kerabat keluarga sendiri, namun keterangan hendaknya
sebenar-benarnya dan sejujur-jujurnya. Sebagaimana disebutkan dalam surat
Al-Anam ayat 152 “Dan
apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendatipun dia adalah
kerabat (mu),”. Demikian pula
sebaliknya, jika harus bersaksi terhadap musuh atau lawan maka harus bersaksi
sebagaimana mestinya meskipun itu menguntungkan baginya. Jangan karena benci
suatu kaum menyebabkan tidak adil, begitupun jika tidak suka dengan seseorang,
berlaku adil tetaplah harus di tegakkan. Kebencian, permusuhan, masalah
pribadi, tidak boleh menghalangi pelaksanaan keadilan dan tidak boleh
menyebabkan pelanggaran atas hak-hak orang lain karena keadilan adalah sesuatu
yang melampaui itu semua. Terhadap siapapun harus memberi kesaksian sesuatu
dengan hak yang patut mereka terima apabila mereka memang patut menerimanya,
dan juga putusilah sesuai dengan kebenaran. Hal ini sangat penting, karena jika
kita tidak bersaksi dengan benar, keadilan tidak dapat ditegakkan. Pada
dasarnya ialah berlaku adil tanpa berat sebelah, baik terhadap orang maupun
peristiwa yang disaksikan, tidak boleh berat sebelah baik karena kerabat, harta
ataupun pangkat dan tidak boleh meninggalkan keadilan. Keadilan harus
ditempatkan diatas hawa nafsu, kepentingan pribadi, rasa cinta dan permusuhan
apapun sebabnya. Keadilan harus dilakukan tanpa pandang bulu, karena keadilan
itulah yang lebih dekat kepada takwa kepada Allah SWT dan terhindar dari
murka-Nya. Allah SWT memerintahkan kita agar senantiasa berlaku adil, setiap
kali kita berusaha untuk adil dan mengamalkannya, maka yang demikian
mendekatkan kita kepada ketakwaan, dan semakin sempurna keadilan maka semakin
sempurna pula ketakwaan. Ketika memerintahkan untuk menetapkan hukum dengan
adil, dalam surat An-Nisa ayat 58 memulainya dengan menyatakan “apabila kamu
menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil”. Hal
ini menegaskan bahwa perintah berlaku adil ditujukan terhadap manusia secara
keseluruhan. Menetapkan hukum bukanlah wewenang setiap orang, ada syarat-syarat
yang harus dipenuhi untuk tampil melaksanakannya. Keadilan harus ditunaikan dan
ditegakkan tanpa membedakan agama, keturunan atau ras.
Berlaku adil
bukan hanya dalam bidang hukum, namun dalam segala hal di kehidupan kita
diperintahkan untuk berbuat adil. Seperti halnya dalam surat An-Nahl ayat 90,
Allah menyuruh kita untuk berlaku adil dengan sungguh-sungguh. Adil disini
yaitu menimbang sama berat, menempatkan sesuatu pada tempatnya, adil tanpa
pilah-pilah. Sikap adil dikelompokkan di
dalam akhlak yang baik sejajar dengan ihsan, yaitu berihsan kepada Allah dengan
mempertinggi keimanan kepada Allah dengan cara menunaikan fardhu-fardhu, atau
hendaknya menyembah Allah seolah-olah melihat Allah secara langsung. Sedangkan
ihsan sesama makhluk yaitu dengan berbuat adil kepada sesama. Jika kita yakin
pada keimanan maka keadilan pun akan seimbang. Dalam surat Al-Mumtahanah
ayat 8 disebutkan “Allah tidak melarang
kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada
memerangimu karena agama”. Hal ini berarti Allah menganjurkan kita untuk tetap berlaku adil kepada
orang-orang yang memusuhi kita karena perbedaan keyakinan, bahkan kepada
orang-orang kafir. Kita tetap harus berbuat baik dan berlaku adil kepada
mereka, karena Allah menyukai orang-orang yang berbuat adil.
Selain
ayat-ayat diatas, ada pula hadits-hadits yang memerintahkan untuk berlaku adil
sebagaimana telah disebutkan di atas. Hadits itu untuk menguatkan bahwasanya
berlaku adil memang diperintahkan Allah bukan hanya kepada satu orang dua
orang, namun untuk seluruh manusia.
Jadi, keadilan
adalah neraca kebenaran. Sebab ketika terjadi ketidakadilan pada suatu umat
dalam segi kehidupan, apapun itu penyebabnya, maka akan lenyap kepercayaan umum
dan tersebarlah berbagai macam kerusakan dan terpecah belah segala hubungan
dalam masyarakat. Maka dari itu Allah memerintahkan kita untuk berlaku adil.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar