TAFSIR TARBAWI
Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Studi Tafsir Tarbawi
diampu oleh Bapak Abdulloh
Ma’sum, Alh. SPd.I

Di Susun Oleh:
Riska Fitriana Rohmah
2015010237
PAI 4E
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN (FITK)
UNIVERSITAS SAINS AL-QUR’AN (UNSIQ)
DI WONOSOBO
2017
LATAR BELAKANG
Kejujuran merupakan bagian dari sifat positif
manusia. Jujur itu mahal harganya, orang merusak kejujuran mendapat sanksi akan
berat dan berlangsung lama. Kejujuran diikat dengan hati nurani manusia dan
keduanya itu merupakan anugerah dari Allah SWT. Dua eleman ini saling terkait,
ketika ucapan tak sesuai dengan kenyataan, hati menjadi risau karena ucapan
dirasa tidak jujur. Kejujuranpun sekarang ini sangat diutamakan karna sebuah
kejujuran sangat berharga. Jujur memang indah, sikap jujur membuat hidup kita
lebih tentram tanpa ada tekanan dari luar maupun dari batin sendiri.
Kejujuran
merupakan satu kata yang amat sederhana namun di zaman sekarang menjadi sesuatu
yang langka dan sangat tinggi harganya. Menurut Afif (2012), kejujuran berarti
apa yang dikatakan sesuai dengan hati nurani atau sesuai dengan kenyataan yang
ada. Kenyataan yang ada adalah kenyataan yang sesungguhnya yang terjadi. Jujur
juga dapat diartikan seseorang yang bersih hati dari perbuatan-perbuatan yang
dilarang oleh agama dan hukum. Jujur berarti juga menepati janji atau
kesanggupan yang terlampir malalui kata-kata atau perbuatan.
Merosotnya karakter kejujuran pada
setiap manusia sangatlah memprihatinkan, sekarang ini banyak sekali manusia
yang tidak berkata jujur baik itu anak kecil maupun orang dewasa. Kejujuran
dianggap sebagai sudah tidak penting lagi bahkan sebagian orang mengangap
kejujuran tidak akan mengutungkan bagi dirinya. Stratifikasi di dalam
masyarakat yang mendorong sebagian orang untuk berkata tidak jujur, orang
berlomba-lomba untuk mencapai kesuksesan dengan cara membohongi orang lain baik
itu dengan cara terang-terangan maupun dengan cara tertutup. Hampir setiap
manusia tidak memiliki sifat jujur, bisa dilihat sekarang banyak warga
Indonesia yang berprofesi sebagai pencuri, penjual yang berbuat curang bahkan
koruptor.
A.
Pengertian Jujur
Kejujuran
merupakan modal untuk menjadi manusia baik. Kata jujur sendiri memiliki
pengertian terjadinya keselarasan dan kesesuaian antara apa yang ada di dalam
hati dan yang terungkap melalui lisan maupun perbuatan. Atau dengan kata lain
satunya kata hati, kata lisan, dan perbuatan.
Jujur
berkonotasi dengan benar yang dalam
bahasa arab diistilahkan dengan shidiq yang berarti yang berarti
kebenaran dan bisa juga diartikan sebagai kejujuran, hal itu karena orang yang
jujur akan selalu mengatakan yang sebenar-benarnya.
Dalam
alam global seperti sekarang ini, dimana persaingan dalam segala bidang menjadi
pola hidup yang tidak dapat dihindarkan, kejujuran kemudian menjadi barang
antik yang sulit didapatkan.
B.
Ayat tentang kejujuran
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ
وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
“Hai orang-orang yang beriman,
bertaqwalah kepada Alloh, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar”.
(QS. At-Taubah:19)
Ayat di atas menunjukan bahwa
kejujuran merupakan barang mahal yang hanya dimiliki oleh orang yang takwa
kepada Tuhan, dan sebaliknya kedustaan adalah sifat rendah dari orang-orang
jahat, yang akan mengantarkannya kesengsaraan dunia akhirat.
Ayat ini memerintahkan kepada orang
mukmin agara melaksanakan dan pekerjaan mereka dengan cermat,jujur, dan ikhlas
karena Alloh Swt, baik pekerjaan yang bertalian dedgan urusan agama maupun
pekerjaan yang yang bertalian dengan urusan kehidupan duniawi. Karena hanya dengan demikianlah mereka bisa sukses dan
memperoleh hasil balasan ynag mereka harapkan.
Menurut Ibnu Ka¡ir, maksud ayat di atas adalah agar
orang-orang yang beriman menjadi penegak kebenaran karena Allah Swt., bukan
karena manusia atau karena mencari popularitas, menjadi saksi dengan adil dan tidak curang, jangan pula kebencian kepada suatu kaum
menjadikan kalian berbuat tidak adil terhadap mereka, tetapi terapkanlah
keadilan itu kepada setiap orang, baik
teman ataupun musuh karena sesungguhnya perbuatan adil menghantarkan pelakunya
memperoleh derajat takwa.
ْ فَلَوْ صَدَقُوا
اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ
“…Tetapi jikalau mereka benar (imannya) tehadap Allâh, niscaya yang
demikian itu lebih baik bagi mereka. (QS. Muhammad:21)
Allah Azza wa Jalla memberitahukan
nilai kejujuran, bahwa kejujuran itu merupakan kebaikan sekaligus penyelamat.
Sifat itulah yang menentukan nilai amal perbuatan, karena kejujuran merupakan
ruhnya. Seandainya orang-orang itu benar-benar ikhlas dalam beriman dan berbuat
taat, niscaya kejujuran adalah yang terbaik bagi mereka.
Kemudian beliau melanjutkan, “Allâh
Azza wa Jalla telah membagi manusia ke dalam dua bagian: orang yang jujur dan
munafik. Allâh Azza wa Jalla berfirman:
لِيَجْزِيَ اللَّهُ الصَّادِقِينَ
بِصِدْقِهِمْ وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ إِنْ شَاءَ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ ۚ
إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا
Agar Allâh memberikan balasan kepada
orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan mengadzab orang munafik
jika Dia kehendaki, atau menerima taubat mereka. Sungguh, Allâh Maha Pengampun
dan Maha Penyayang.” (QS. Al- Ahzab:24)
Iman merupakan pondasi kejujuran,
dan kemunafikan merupakan pondasi kedustaan. Iman dan dusta tidak akan
berkumpul, karena salah satu dari keduanya pasti memerangi yang lainnya. Allâh
Azza wa Jalla telah mengabarkan bahwa tidak ada yang dapat memberi manfaat dan
menyelamatkan seorang hamba dari adzab hari kiamat selain kejujurannya. Allâh
Azza wa Jalla berfirman :
هَٰذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصَّادِقِينَ
صِدْقُهُمْ ۚ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ
فِيهَا أَبَدًا ۚ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ
الْعَظِيمُ
“Inilah saat orang yang benar
memperoleh manfaat dari kebenarannya. Mereka memperoleh surga yang mengalir di
bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allâh ridha
kepada kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Itulah kemenangan yang
agung”. (QS. Al-Maidah:119)
C.
Hadits
tentang kejujuran
حدثنا سليمان بن حرب
حدثنا شعبة عن قتادة عن صالح أبي الخليل عن عبد الله بن الحارث رفعه إلى حكيم بن
حزام رضي الله عنه قالقال رسول الله صلى الله عليه وسلم البيعان بالخيار ما لم
يتفرقا أو قال حتى يتفرقا فإن صدقا وبينا بورك لهما في بيعهما وإن كتما وكذبا محقت
بركة بيعهما
Telah
menceritakan kepada kami [Sulaiman bin Harb] telah menceritakan kepada kami
[Syu'bah] dari [Qatadah] dari [Shalih Abu AL Khalil] dari ['Abdullah bin Al
Harits] yang dinisbatkannya kepada [Hakim bin Hizam radliallahu 'anhu] berkata;
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Dua orang yang
melakukan jual beli boleh melakukan khiyar (pilihan untuk melangsungkan atau
membatalkan jual beli) selama keduanya belum berpisah", Atau sabda Beliau:
"hingga keduanya berpisah. Jika keduanya jujur dan menampakkan dagangannya maka keduanya diberkahi dalam jual
belinya dan bila menyembunyikan dan berdusta maka akan dimusnahkan keberkahan
jual belinya".
1938
عَنْ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْد
رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ : عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِيْ إِلَى الْبِرِّ
، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِيْ إِلَى الْجَنَّةِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ
وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيْقًا ، وَإِيَّاكُمْ
وَالْكَذِبَ ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِيْ إِلَى الْفُجُوْرِ ، وَإِنَّ
الْفُجُوْرَ يَهْدِيْ إِلَى النَّارِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ
وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا
Dari ‘Abdullâh bin Mas’ûd
Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, ‘Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran membawa
kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan seseorang ke Surga. Dan apabila
seorang selalu berlaku jujur dan tetap memilih jujur, maka akan dicatat di sisi
Allâh sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian berbuat dusta, karena
dusta membawa seseorang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan seseorang
ke Neraka. Dan jika seseorang senantiasa berdusta dan memilih kedustaan maka
akan dicatat di sisi Allâh sebagai pendusta (pembohong).”
حدثنا يزيد بن
خالد الرملي حدثنا ابن وهب حدثنا عبد الرحمن بن شريح عن أبي أمامة بن سهل بن حنيف عن
أبيه قالقال رسول الله صلى الله عليه وسلم من سأل الله الشهادة صادقا بلغه الله منازل
الشهداء وإن مات على فراشه
Telah menceritakan kepada Kami
[Yazid bin Khalid Ar Ramli], telah menceritakan kepada Kami [Ibnu Wahb], telah
menceritakan kepada Kami [Abdurrahman bin Syuraih] dari [Abu Umamah bin Sahl
bin Hunaif] dari [ayahnya], ia berkata; Rasulullah shallAllahu wa'alaihi wa
sallam bersabda: "Barang siapa yang memohon kepada Allah agar meninggal
dalam keadaan syahid dengan jujur, maka Allah akan menyampaikannya kepada
derajat para syuhada walaupun dia mati diatas tempat tidurnya." 1301
حدثنا يزيد بن
محمد الدمشقي حدثنا عبد الرزاق بن مسلم الدمشقي وكان من ثقات المسلمين من المتعبدين
قال حدثنا مدرك بن سعد قال يزيد شيخ ثقة عن يونس بن ميسرة بن حلبس عن أم الدرداء عن
أبي الدرداء رضي الله عنه قالمن قال إذا أصبح وإذا أمسى حسبي الله لا إله إلا هو عليه
توكلت وهو رب العرش العظيم سبع مرات كفاه الله ما أهمه صادقا كان بها أو كاذبا
Telah menceritakan kepada kami
[Yazid bin Muhammad Ad Dimasyqi] berkata telah menceritakan kepada kami [Abdur
Razzaq bin Muslim Ad Dimasyqi] dia merupakan seorang muslim yang tsiqah
(terpercaya) dan ahli ibadah, ia berkata, telah menceritakan kepada kami
[Mudrik bin Sa'ad] -yazid berkata dia adalah seorang Syaikh yang tsiqah
(terpercaya) - dari [Yunus bin Maisarah bin Halbas] dari [Ummu Darda`] dari
[Abu Darda`] radliallahu 'anhu berkata; "Barang siapa yang ketika pagi dan
sore mengucapkan; HASBIYALLAAH LAA ILAAHA ILLA HUWA 'ALAIHI TAWAKKALTU WAHUWA
RABBUL 'ARSYIL 'AZHIIM (cukuplah Allah bagiku tidak ada Tuhan yang berhak
diibadahi selain Dia, hanya kepadanya aku bertawakkal karena Dialah Rabb pemilik
'Arsy yang agung) tujuh kali, maka Allah akan mencukupkan (menyelamatkannya)
dari kesusahan-kesusahan yang membelitnya, baik dia mengucapkannya secara
jujur, atau pura-pura (tanpa ada niat, spontan)." 4419
حدثنا محمد بن
العلاء حدثنا أبو أسامة عن بريد بن عبد الله عن أبي بردة عن أبي موسىعن النبي صلى الله
عليه وسلم قال الخازن المسلم الأمين الذي ينفذ وربما قال يعطي ما أمر به كاملا موفرا
طيبا به نفسه فيدفعه إلى الذي أمر له به أحد المتصدقين
Telah menceritakan kepada kami
[Muhammad bin Al 'Alaa'] telah menceritakan kepada kami [Abu Usamah] dari
[Buraid bin 'Abdullah] dari [Abu Burdah] dari [Abu Musa] dari Nabi
Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Seorang bendahara muslim yang amanah
adalah orang yang melaksanakan tugasnya (dengan baik) ". Dan seolah Beliau
bersabda: "Dia melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya dengan
sempurna dan jujur serta memiliki jiwa yang baik, dia mengeluarkannya
(shadaqah) kepada orang yang berhak sebagaimana diperintahkan adalah termasuk
salah satu dari Al Mutashaddiqin". 1350
D.
KESIMPULAN
Kejujuran merupakan modal untuk menjadi manusia baik.
Kata jujur sendiri memiliki pengertian terjadinya keselarasan dan kesesuaian
antara apa yang ada di dalam hati dan yang terungkap melalui lisan maupun
perbuatan. Atau dengan kata lain satunya kata hati, kata lisan, dan perbuatan.
Pada kandungan QS. At-Taubah/9:119 dijelaskan bahwa ayat ini memerintahkan kepada orang mukmin agara
melaksanakan dan pekerjaan mereka dengan cermat,jujur, dan ikhlas karena Alloh
Swt, baik pekerjaan yang bertalian dedgan urusan agama maupun pekerjaan yang
yang bertalian dengan urusan kehidupan duniawi. Karena hanya dengan demikianlah mereka bisa sukses dan
memperoleh hasil balasan ynag mereka harapkan. Dilanjutkan QS. Muhammad/47: 21
yang memiliki kandungan Allah Azza wa Jalla memberitahukan nilai kejujuran,
bahwa kejujuran itu merupakan kebaikan sekaligus penyelamat. Sifat itulah yang
menentukan nilai amal perbuatan, karena kejujuran merupakan ruhnya. Seandainya
orang-orang itu benar-benar ikhlas dalam beriman dan berbuat taat, niscaya
kejujuran adalah yang terbaik bagi mereka.
Dalam persaksian, mereka harus adil
menerangkan apa yang sebenarnya, tanpa memandang siapa orangnya, sekalipun akan
menggantungkan lawan dan merugikan sahabat dan kerabatnya sendiri. Ayat ini
seirama dengan Q.S an-Nisa (4):153 yaitu sama-sama menerangkan tentang sesorang
yang berlaku addil dan jujur dalam persaksian. Perbedaanya dalam ayat tersebut
diterangkan kewajiban berlaku adil dalam persaksian demikianlah ayat ini
diterangkan bahwa kebenciaan terhadap suatu kaum tidak boleh mendorong sesorang
untuk memberikan persaksian yang tidak adil dan tidak jujur, walaupun terhadap
lawan. Imam
Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah (wafat th. 751 H) menerangkan sifat
as-shidq (kejujuran), dengan perkataanya, “Yaitu maqam (kedudukan) kaum yang
paling agung, yang darinya bersumber kedudukan-kedudukan para sâlikîn
(orang-orang yang berjalan menuju kepada Allâh), sekaligus sebagai jalan
terlurus, yang barang siapa tidak berjalan di atasnya, maka mereka itulah
orang-orang yang akan binasa. Dengannya pula dapat dibedakan antara orang-orang
munafik dengan orang-orang yang beriman, para penghuni Surga dan para penghuni
Neraka.
Kejujuran ibarat pedang Allâh di muka bumi,
tidak ada sesuatu pun yang diletakkan di atasnya melainkan akan terpotong
olehnya. Dan tidaklah kejujuran menghadapi kebathilan melainkan ia akan melawan
dan mengalahkannya serta tidaklah ia menyerang lawannya melainkan ia akan
menang. Barangsiapa menyuarakannya, niscaya kalimatnya akan terdengar keras
mengalahkan suara musuh-musuhnya. Kejujuran merupakan ruh amal, penjernih
keadaan, penghilang rasa takut dan pintu masuk bagi orang-orang yang akan
menghadap Rabb Yang Mahamulia. Kejujuran merupakan pondasi bangunan agama
(Islam) dan tiang penyangga keyakinan. Tingkatannya berada tepat di bawah
derajat kenabian yang merupakan derajat paling tinggi di alam semesta, dari
tempat tinggal para Nabi di Surga mengalir mata air dan sungai-sungai menuju ke
tempat tinggal orang-orang yang benar dan jujur. Sebagaimana dari hati para
Nabi ke hati-hati mereka di dunia ini terdapat penghubung dan penolong.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar