Minggu, 14 Mei 2017
TAQWA
TAQWA
Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Tafsir Tarbawi
Dosen Pengampu: Abdullah Ma’sum, Alh, S.Pd.I
Disusun Oleh:
Nurkharifah (2015010167)
PAI 4E
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN (FITK)
UNIVERSITAS SAINS AL-QUR’AN (UNSIQ)
JAWA TENGAH DI WONOSOBO
2017
TAQWA
A. Definisi Taqwa
Taqwa adalah satu pola dengan kata “Da’wa” yang artinya waspada atau hati-hati. Asal kata “Taqwa” adalah “Taqiyan” huruf و diganti huruf ي untuk membedakan dari kalimat-kalimat lain yang menunjukan sebgai sifat misal: Shada dan Khaza. Karena Taqwa itu adalah isim (kata benda) bukan kata sifat.
Sedangkan menurut Syariat adalah seseorang menjaga dirinya secara sempurna dari semua yang dapat membahayakannya pada hari kiamat, yaitu dengan mengerjakan semua yang diperintahkan dan menjauhi semua yang dilarang.
أَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُقَدِّمُواْ بَيۡنَ يَدَيِ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمِ ١
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (Al-Hujurat ayat 1)”
Ayat ini merupakan larangan umum terhadap segala macam kecenderungan buruk yang ekstrim. Sepanjang sejarah, selalu ada saja manusia yang bertindak berlebihan. Ia merasa telah menjadi orang yang baik dan saleh. Akan tetapi, ketika yang dijadikan parameter adalah apa yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasulnya, perbuatannya tersebut ternyata berbeda dari parameter tersebut. Sebagai contoh, dulu ada sahabat Rasulullah yang mengira bahwa ‘tidak menikah’ adalah bentuk kesalehan dan ketaatan. Rasulullah pun melontarkan kecamannya, dengan mengatakan bahwa prinsip hidup orang itu berlebih-lebihan.
B. Ayat-ayat yang Berhubungan Dengan Taqwa
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ ١٠٢
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam" (AliImran ayat 102)
فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ مَا ٱسۡتَطَعۡتُمۡ وَٱسۡمَعُواْ وَأَطِيعُواْ وَأَنفِقُواْ خَيۡرٗا لِّأَنفُسِكُمۡۗ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ١٦
“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (At-taghabun ayat 16)
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا رِجَالٗا كَثِيرٗا وَنِسَآءٗۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيبٗا ١
“wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu" (An-Nisa ayat 1)
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدٗا ٧٠
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar” (Al-Ahzab ayat 70)
إِلَّا ٱلَّذِينَ عَٰهَدتُّم مِّنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ثُمَّ لَمۡ يَنقُصُوكُمۡ شَيۡٔٗا وَلَمۡ يُظَٰهِرُواْ عَلَيۡكُمۡ أَحَدٗا فَأَتِمُّوٓاْ إِلَيۡهِمۡ عَهۡدَهُمۡ إِلَىٰ مُدَّتِهِمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَّقِينَ ٤
kecuali orang-orang musyrikin yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) dan mereka tidak mengurangi sesuatu pun (dari isi perjanjian)mu dan tidak (pula) mereka membantu seseorang yang memusuhi kamu, maka terhadap mereka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa
C. Hadits-hadits tentang TAQWA
1. Rasulallah SAW bersabda:
اَتَّقِ ا للَّهِ حَيْثُماَ كُنْتَ وَأَ تْبِعْ السَّيَّئة الْحَسَنَةَ تَمْحُهاَ وَخاَ لِقِ النَّا سَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ.
رواه الترمذئ وأحمد والدارمي
“Bertaqwalah kamu kepada Allah dimana saja kamu berada, dan ikutilah keburukan itu dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan dapat menghapuskan keburukan tersebut. Serta pergauilah manusia itu dengan akhalak baik”
Al-‘Irbadh bin Sariyah meriwayatkan dari nabi Muhammad SAW beliau bersabda:
“saya wasiyatkan supaya bertaqwa kepada Allah Azza Wajalla, dan supaya mendengar dan taat meskupun yang memimpinmu adalah seorang hamba sahaya.
2. Rasulallah SAW bersabda”
لَاتَحَا سَدُواوَلَاتَنَا جَشُوا وَلَاتَبَا غَضُوا وَلَاتَدَابَرُواولَايَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُونُواعِبَاداللَّهِ إِخْوَانًا الْمُسْلِمُ أَخُوالْمُسْلِمِ لَايَظْلِمُهُ وَلَايَخْذُلٌهُ وَلَايَحْقِرُهُ التَّقْوى هَا هُنَا وَيُشِيْرإلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّأَنْ يَحْقِرَأَخَاهُ الْمُسْلِمِ عَلى المُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَا لُهُ وَعِرْضُهُ. رواه المسلم
“janganlah saling mendengki, saling memfitnah, saling membenci, saling membelakangi (saling membiarkan), janganlah sebagian kamu menjual atas jualan saudaranya, jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim itu saudara muslim yang lain, dia tidak akan menganiayanya, tidak akan membiarkannya, tidak pula mendustainya, serta tidak pula menghinanya. Taqwa itu disini, beliau menunjuk ke dadanya tiga kali. Cukuplah seseorang dianggap berbuat kejahatan apabila ia menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim atas muslim yang lainnya diharamkan darah, harta benda serta kehormatannya.”
3. Rasulallah SAW Bersabda:
لَا تُصَا حِبْ إِلَّا مؤْمِنًا وَلَا يَأْكُلُ تَعَا مَكَ إِلَّا تَقِيٌ. رواه التر مذى
“janganlah kamu berteman kecuali dengan orang mukmin, dan janganlah memakan makananmu kecuali dengan orang taqwa.”
4. Rasulallah SAW bersabda:
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّا لِحِ وَالسَّوْءِ كَحَا مِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ. رواه البخارى
“perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk itu adalah laksana penjual minyak wangi dan tukang pandi besi”.
5. Rasulallah SAW bersabda:
مَنْ قَالَ لَاإِلهَ إِلَااللَّهُ مُخْلِصًا دَخَلَ الْجَنَّةَ قِيْلَ وَمَا اِخْلأ صُهَا قَلَ : اَنْتَحْجُزَهُ عَنْ مَحَا رِمِ اللَّهِ. الطبرانى
"barang siapa mengucapkan "laa ilaaha illallah" dengan ikhlas, masuk surga. para sahabat bertanaya, apa keikhlasannya, ya Rasulallah? Nabi Muhamaad SAW menjawab, memagarinya, melindunginya dari segala apa yang diharamkan Allah. (HR. Athabrani) ”
6. Rasulallah SAW bersabda:
آلُ مُحَمَّدٍ كُلُّ تَقِيٍ. الطبرانى والبيهقى
“Tiap orang yang bertaqwa termasuk keluarga Muhammad (umat Muhammad). (HR. Athabrani dan Al Baihaki)”
KESIMPULAN
A. PENJELASAN AYAT
1. Surat Al-Imran Ayat 102
Mengenai firman Allah: ittaqullaaHa haqqa tuqaatiHi (“Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya.”) Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Abdullah Ibnu Mas’ud, ia berkata: “Agar Dia ditaati dan tidak ditentang, diingat dan tidak dilupakan, disyukuri dan tidak diingkari.” Isnad ini shahih mauquf.
Mengenai firman Allah: ittaqullaaHa haqqa tuqaatiHi (“Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya.”) ‘Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Ayat tersebut tidak dinasakh, tetapi yang dimaksud ‘takwa yang sebenar-benarnya’ adalah berjihad di jalan Allah sebenar-benar jihad dengan tidak merasa takut terhadap celaan orang-orang yang suka mencela, berlaku adil meskipun terhadap diri mereka sendiri, orang tua dan anak-anak mereka.”
Sedangkan firman-Nya, wa laa tamuutunna illaa wa antum muslimuun (“Dan janganlah sekali-kali kamu meninggal dunia melainkan dalam keadaan beragama Islam,”) maksudnya, tetaplah berada dalam Islam semasa kalian masih dalam keadaan sehat dan selamat agar kalian meninggal dunia dalam keadaan Islam. Sebab dengan kemurahan-Nya, Allah yang Mahapemurah telah menjadikan sunnah-Nya bahwa barangsiapa yang hidup di atas suatu keadaan, maka ia pun akan meninggal dunia dalam keadaan tersebut. Dan barangsiapa meninggal dunia di atas sesuatu keadaan, maka ia pun akan dibangkitkan dalam keadaan itu pula. Semoga Allah melindungi kita agar tetap dalam keadaan Islam.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Mujahid, bahwa: “Ketika orang-orang sedang mengerjakan thawaf di Baitullah, Ibnu ‘Abbas sedang duduk dengan memegang tongkat, kemudian ia berkata, Rasululullah saw. bersabda: “Wahai sekalian orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kamu meninggal dunia melainkan kamu dalam keadaan Islam. Seandainya setetes zagqum jatuh ke dunia, maka ia akan merusak kehidupan penghuninya. Lalu bagaimana bagi orang yang tidak mempunyai makanan kecuali zaqqum?”
2. Surat At-Taghabun Ayat 16
“Said bin Jubir r.a menjelaskan bahawa ayat ini diturunkan berkenaan dengan kecemasan kaum muslimin tatkala surah Al-Imran ayat 102 diturunkan yang bermaksud: Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam’. Mereka meningkatkan frekuensi ibadah mereka, sehingga dahi dan kaki mereka bengkak dan luka-luka.
(Hadis Riwayat Ibnu Abi Hatim. Lihat Ibnu Katsir 6/112 dan Qurthubi : 10/6869) Dalam ayat ini Allah SWT memerintahkan supaya manusia yang mempunyai harta, anak dan isteri itu bertakwa kepada-Nya sekuat tenaga dan kemampuannya.
3. Surat An-Nisa Ayat 1
Ayat ini mengingatkan kepada kita agar senantiasa bertakwa kepada Allah dan mengingatkan akan kekuasaan-Nya yang telah menciptakan manusia dari satu iradah itu berhubungan dalam satu rahim, bertemu dalam satu koneksi, yang telah menciptakan manusia dari satu iradah ini niscaya akan sirnalah dalam perasaan mereka semua perbedaan-perbedaan golongan, ras, kasta,warna kulit, kebangsaan yag muncul dalam kehipan kita.
Menjaga kekeliruan-keliruan pandangan yang menyakitkan dan merendahkan wanita. Yaitu, pandangan yang menggambarkan wanita dengan aneka gambaran yang hina, dan menganggap mereka sebagai sumber kekotoran dan kenajisan, kebrukan dan bencana padahal dia juga berasal dari “diri” yang pertama itu dengan fitrah dan tabiatnya, yang diciptakan oleh Allah untuk menjadi “istri” baginya, dan untuk mengembangbiakkan laki-laki dan wanita yang banyak dari keduanya. Karena itu tidak ada perbedaan mengenai asal usul dan fitrahnya.
Menjaga keluarga dengan dipelihara kekeluargaan ini, dikokohkan tali-temalinya, dimantapkan bangunannya, dan dilindungi dari segala hal yang melemahkan bangunan tersebut, serta saling mengisi dan melengkapi sebagian terhadap sebagian yang lain didalam membangun keluarga yang terdiri dari laki-laki dan wanita .dan menjalin dan menjaga silaturahmi.
4. Surat Al-Ahzab Ayat 70
Ayat ini sudah sangat jelas di tujukan kepada orang-orang beriman (kamu muslimin). Menganjurkan dan memerintahkan kepada seluruh kaum muslimin untuk bertakwa kepada Tuhannya dengan sebenar-benarnya yaitu menjauhi segala larangan dn menjalankan segala perintah Agama dengan sungguh-sungguh baik dalam keadaan lapang maupun susah.
Anjuran dan perintah dari Allah bahwa hendaknya kaum muslimin senantiasa mengatakan sesuatu secara jujur. Kewajiban mengatakan kebenaran walau terasa pahit dan hanya berkata tentang suatu kebenaran. Tidak plinplan dan tidak mengatakan sesuatu yang tidak berdasar apalagi berbohong, itu merupakan perbuatan yang mungkar
Jika 2 hal yang di sebut di atas benar-benar di laksanakan dengan hanya mengharap ridho Allah, niscaya (pasti) Allah akan melimpahkan kebaikan terhadap apa yang sudah kita amalkan dan insyaAllah menyempurnakan amalan kebaikan kita. Jika amalan-amalan baik kita diterima Allah tentunya amalan-amalan baik itu akan menghapus dosa-dosa kita dan juga insyaAllah akan menambah berat timbangan kebaikan kita di akhirat kelak. Kita serahkan urusan itu sepenuhnya ke pada Allah Azza Wa Jalla
Allah menginformasikan kepada kita bahwa siapa saja dari ummatNya yang mentaatiNya dan mentaati RasulNya (Nabi Muhammad) maka sesungguhnya ia (ummat) telah memperoleh kemenangan yang besar. Wujud dari kemenangan ini sangatlah bermacam-macam. Ada yang menang dari medan pertempuran, ada yang mendapatkan solusi dari segala persoalan, ada yang mendapat rejeki, kebahagiaan dan rahmat bisa juga kemenangan secara hakiki yaitu mendapatkan Surganya. Amin Hanya Dia yg mengetahui segala rahasia dan segala sesuatunya.
5. Surat At-Taubah Ayat 4
Selanjutnya dalam surat at-Taubah ayat ke-4 ini Allah menyatakan, "Orang-orang Musyrik yang telah menjalin perjanjian dengan kalian, meski mereka tidak konsekuen dengan perjanjian tersebut, namun selama mereka tidak membantu musuh-musuh kalian, mereka ini mendapat perkecualian. Mereka diberi kesempatan untuk tetap tinggal di Mekah sampai berakhirnya waktu perjanjian yang telah mereka jalin dengan kaum Muslimin. Setelah itu, barulah hukum pengusiran dari kota Mekah, itu akan diperlakukan kepada mereka."
Setia dan komitmen pada janji menunjukkan ciri-ciri ketakwaan, sehingga ukuran orang bertakwa bukan saja rajin melaksanakan shalat dan puasa, namun juga sikap menjunjung tinggi berbagai perjanjian yang dijalinnya dengan orang lain.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar