AKHLAQUL KARIMAH
MAKALAH
Di susun guna memenuhi tugas ulangan tengah semester
Dosen pengampu: Bpk Abdullah Ma’sum Alh. S.pd.I
Di susun oleh:
Muhammad Reza Firman
2015010090
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS SAINS AL QUR’AN JAWA TENGAH DI WONOSOBO
TAHUN AJAR 2016/2017
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG
Tafsir Tarbawi adalah salah satu tafsir yang banyak digunakan untuk mengkaji
Al-Qur'an. Al-Qur’anul karim
adalah kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw, al-Qur’an mengandung hal-hal yang
berhubungan dengan keimanan, ilmu pengetahuan, kisah-kisah, filsafat,
peraturan-peraturan yang mengatur tingkah laku dan tata cara hidup manusia,
baik sebagai makhluq individu ataupun sebagai makhluq sosial, sehingga
berbahagia hidup di dunia dan di akhirat.
Berkaitan dengan akhlaq Setiap manusia yang lahir di dunia ini, pasti membawa naluri yang
mirip dengan hewan, letak perbedaannya karena naluri manusia disertai dengan
akal. Sedangkan naluri hewan tidak demikian halnya. Oleh karena itu naluri
manusia dapat menentukan tujuan yang dikehendakinya. Segala sesuatu itu dinilai
baik atau buruknya, terpuji atau tercela, semata-mata karena syara’ (al-Qur’an
dan Sunnah) hati nurani atau fitrah dalam bahasa al Qur’an memang dapat menjadi
ukuran baik dan buruk karena manusia di ciptakan oleh Allah Swt memiliki fitrah
bertauhid, mengakui keesaannya (QS. Ar-Rum: 30-30). Hati nurani manusia selalu
mendambakan dan merindukan kebenaran, ingin mengikuti ajaran-ajaran Allah Swt.
Namun fitrah manusia tidak selalu terjamin dapat berfungsi dengan baik karena
pengaruh dari luar misalnya pengaruh pendidikan, lingkungan, pakaian dan juga
pergaulan. Masyarakat yang hati nuraninya sudah tertutup dan akal fikiran sudah
di kotori oleh sikap dan perilaku yang tidak terpuji. Namun bukan Cuma perilaku
yang harus diperbaiki asupan dalam tubuhpun harus dijaga agar tetap halal.
Karena itulah diperlukan adanya suatu jaminan dan kepastian akan kehalalan
produk pangan yang dikonsumsi umat Islam.
BAB II
ISI
A. POKOK AYAT
AL-QUR’AN TENTANG AKHLAQ
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَقُولُواْ رَاعِنَا وَقُولُواْ انظُرْنَا
وَاسْمَعُوا ْوَلِلكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيم
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah
kalian katakan (kepada Muhammad): ‘Raa’ina’, tetapi katakanlah : ‘Unzhurna’,
dan ‘dengarlah’. Dan bagi orang-orang kafir azab yang pedih.(QS
Al-Baqarah : 104)
Inilah
panggilan pertama Allah khusus kepada orang-orang beriman, di sepanjang
pembahasan kita selama ini (dari Surat al-Fatihah hingga sejauh Surat al-Baqarah
ini). Yang mencengangkan ialah bahwa panggilan ini Allah serukan justru di
tengah-tengah rangkaian narasi tentang Bani Israil dari zaman Nabi Musa as
sampai zaman Nabi Muhammad saw. Ini pasti bukan tanpa maksud. Dan dengan
menempatkan panggilan ini di sini, orang yang paling awam sekalipun akan dengan
mudah memahami maksudnya; yaitu agar orang beriman, umat Islam, tidak mengikuti
jejak Bani Israil dalam memperlakukan Nabi dan Kitab sucinya, dalam
memperlakukan Khalifah Ilahi dan kebenaran agamanya. Dengan maksud kita sebagai
orang yang beriman di anjurkan bersikap dan berakhlaq baik kepada sesama
B. AYAT AL-QUR’AN YANG BERHUBUNGAN DENGAN
AL-BAQARAH 104
1. QS
An-nissa : 86
وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا
بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ
حَسِيبًا
Apabila
kamu diberi penghormatan dengan suatu (salam) penghormatan, maka balaslah
penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah penghormatan itu (dengan
yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.( QS An-nissa
: 86 )
Ayat ini
menjelaskan bahwa jika ada seseorang memberikan suatu hal kebaikan maka
balaslah seseorang tersebut dengan kebaikan juga walaupun seseorang tersebut
tidak mengharapkan kebaikan darimu, setidaknya kita memberi respon yang baik
kepada seseorang yang telah memberikan suatu perkara yang baik, karena
sesungguhnya allah memperhitungkan segala sesuatu yang kita kerjakan, dengan
memhami ayat tersebut ini akan melatih kita untuk selalu bersikap baik dan
menghargai orang lain, dengan terciptanya sikap tersbut akan timbul aklaq yang
baik dikehidupan keluarga, masyarakat, dan khalayak umum.
2. QS
Al-imran : 134
ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ
وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ
وَٱللَّهُ يُحِبُّ
ٱلْمُحْسِنِينَ
(yaitu)
orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit,
dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah
menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.( QS Al-imran : 134 )
Orang
yang bertakwa, menurut ayat ini, bukan hanya mengerjakan perbuatan yang
diwajibkan atas mereka. Sekalipun mereka dalam keadaan sulit, mereka tidak
berhenti menginfakkan harta mereka. Dalam ayat ini digambarkan, mereka
senantiasa berinfak itu dalam keadaan apa pun, baik dalam keadaan as-sarrâ’
maupun adh-dharrâ atau dalam keadaan senang maupun
susah dengan demikian akan melatih kita untuk mempunyai sifat atau
akhlaq yang mulia yaitu pedulisesamatanpa memandang keadaan senang maupun susah
seperti yang dikisahkan dari sebagian kaum salaf, bahwa mereka kadang
bersedekah dengan sebutir bawang. Aisyah ra. juga pernah bersedekah dengan
sebutir buah anggur.7 Tindakan itu menggambarkan bahwa mereka tetap bersedekah
sekalipun yang disedekahkan hanya sedikit lantaran mereka berada dalam keadaan
yang sulit.
3. QS
Al-Isra : 53
وَقُلْ
لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚإِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ
بَيْنَهُمْ ۚإِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوًّا مُبِينًا
Dan
katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: " Hendaklah mereka mengucapkan perkataan
yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di
antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.(
QS Al-Isra : 53)
Dalam
ayat ini allah memerintahkan kepada hambanya dan rosulnya agar memerintahkan
hamba allah yang beriman hendaklah mereka dalam khotbah dan pembicaraan
mengucapkan kata-kata yang terbaik dan dan kalimat yang menyenangkan. Hal ini
karena semua perbuatan dimulai dari ucapan bisa di simpulkan awal yang baik
akan menghasilkan hal yang baik pula, dengan kata lain kita dilatih untuk
bertutur kata yang baik,sopan, dan benar guna dikemudian hari tidak ada
perselisihan pendapat hanya karena masalah penggunaan kata yang kurang baik,
karena dengan bertutur kata yang baik bisa mencegah permusuhan karena kesalahan
komunikasi. Dengan dikuasainya tutur kata yang baik dapat memudahkan
persoalan-persoalan dikeseharian dan melatih kita untuk berakhlaqul karimah.
C. HADITS TETANG AKHLAQ
1.
Dari Abu Ad-Darda' radiyallahu 'anhu;
Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
«مَا مِنْ شَيْءٍ يُوضَعُ فِي المِيزَانِ أَثْقَلُ مِنْ حُسْنِ
الخُلُقِ، وَإِنَّ صَاحِبَ حُسْنِ الخُلُقِ لَيَبْلُغُ بِهِ دَرَجَةَ صَاحِبِ
الصَّوْمِ وَالصَّلَاةِ» [سنن الترمذي: صحيح
Tidak
ada sesuatu yang diletakkan pada timbangan hari kiamat yang lebih berat
daripada akhlak yang mulia, dan sesungguhnya orang yang berakhlak mulia bisa
mencapai derajat orang yang berpuasa dan shalat. [Sunan Tirmidzi: Sahih]
2. Dari
Sahl bin Sa'ad radiyallahu 'anhu; Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam
bersabda
إن الله يحب معالي الأخلاق ويكره سفسافها [المعجم
الكبير للطبراني: صححه الألباني ]
Sesungguhnya
Allah mencintai akhlak yang mulia dan membenci akhlak yang buruk.
[Al-Mu'jam Al-Kabiir: Sahih]
3. An-Nawwaas
bin Sim'aan Al-Anshary radiyallahu 'anhu berkata: Aku bertanya kepada
Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam tentang kebaikan dan keburukan, dan
Rasulullah menjawab:
«الْبِرُّ حُسْنُ
الْخُلُقِ، وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي صَدْرِكَ، وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ
عَلَيْهِ النَّاسُ» [صحيح مسلم
Kebaikan
adalah akhlak yang baik, dan keburukan adalah sesuatu yang mengganjal di dadamu
(hatimu), dan kamu tidak suka jika orang lain mengetahuinya. [Sahih Muslim]
4. Dari
Jabir bin Samurah radiyallahu 'anhu; Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
" إِنَّ أَحْسَنَ النَّاسِ إِسْلَامًا، أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا
" [مسند أحمد: صحيح
Sesungguhnya
orang yang paling baik keislamannya adalah yang paling baik akhlaknya.
[Musnad Ahmad: Sahih]
5. Dari Abu Hurairah radiyallahu 'anhu;
Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
لن تسعوا الناس بأموالكم ولكن يسعهم منكم بسط الوجه وحسن الخلق [مسند البزار: حسنه الألباني
لن تسعوا الناس بأموالكم ولكن يسعهم منكم بسط الوجه وحسن الخلق [مسند البزار: حسنه الألباني
Kalian
tidak akan mempu memberi kepada semua orang dengan hartamu, akan tetapi kamu
bisa memberi kepada semua orang dengan senyuman dan akhlak mulia.
[Musnad Al-Bazzar: Hasan]
BAB III
KESIMPULAN
Pada
dasarnya QS Al-Baqarah : 104 menjelaskan bahwa orang-orang yang beriman atau
orang islam tidak di anjurkan untuk mengikuti jejak bani israil yang dilakukan
kepada Nabi Muhammad dan kitabnya yaitu Al-Qur’an, dengan kata lain kita tidak boleh membuat
kesalahan orang lain yang pada dasarnya itu kebenaran hal ini menjadi pokok
awal pembahasan tentang akhlaq, melatih agar kita bisa menjaga perasaan orang
lain dan tidak membuat kesalahan diatas kebenaran, hal ini dapat melatih diri
kita terbiasa melakukan perkara yg baik untuk orang lain dan selalu berbicara
tentang kebaikan khusunya kebaikan orang lain dan agar tidak mendustakan orang
lain dengan kata lain kita menyalahkan orang lain padahal orang lain itu lebih
benar dari kita jika kita simpulkan ayat ini dapat melatih dan membawa kita
untuk berperilaku atau berakhlaqul karimah yang di awali dengan memperlakukan
orang lain dengan baik untuk memperkuat ayat di atas ada tiga ayat yang akan
memperjelaskan persoalan tentang akhlaq sebagai berkut :
1. QS
An-nissa : 86
Jika
kita kaitkan dengan QS Al-Baqarah :104 tentang aklaq ini bisa dikatakan sebagai
tingkatan-tingkatan demi terciptanya insan yang berakhlaqul karimah dengan
melihat terjemah qs An-nissa : 86 yaitu “Apabila kamu diberi penghormatan
dengan suatu (salam) penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang
lebih baik, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya
Allah memperhitungankan segala sesuatu” bisa disimpulkan setelah kita dapat
bisa memperlakukan orang lain dengan kebaikan selnjutnya kita dilatih untuk
menghargai orang lain sesuai ayat di atas apabila kamu diberi kebaikan maka
kita di anjurkan membalas kebaikan itu dengan yg lebih baik jika belum bisa
membalas dengan lebih baik kita minimal membalas dengan sma kebaikan itu yg
diberikan kepada kita , pembahasan ini dapat melatih kita menciptakan sikap
balas budi dengan terciptanya sikap ini dapat menjadikan orang lain menjadi
senang terhadap kita dengan demikian jalinan silaturakhim dapat derjalan dengan
lancar.
2. QS
Al-imran : 134
Dengan
arti “(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang
maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan
(kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” ayat ini
menjelaskan tingkatan berikutnya untuk menjadikan kita manusia yang berakhlaqul
karimah yaitu dengan mlatih kita untuk belajar merelakan harta yang dimiliki
untuk kemaslahatan orang lain baik pada waktu lapang maupun sempit dengan kata
lain kita menginfakan sebgian harta kita saat keadaan kita sedang kaya maupun
miskin, karenan ayat ini mengajarkan tingkatan sodaqoh itu tidak dilihat dari
banyaknya yg kita sodaqohkan tetapi sodaqoh ini dilihat dari tingkat keikhlasan
saat kita menyodaqohkan harta kita dengan penjelasan di atas dapat melatih kita
agar selalu bersykur atas nikmat yag diberikan kepada kita dan melatih
kepedulian kita kepada orang lain dan sikap ini lah yang akan mengantarkan kita
untuk menjadi insan yang berakhlaqul karimah.
3. QS
Al-Isra : 53
Dengan
arti ” Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: " Hendaklah mereka
mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu
menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah
musuh yang nyata bagi manusia” ayat ini mengajarkan agar kita selalu bertutur
kata yang baik karenan dengan sikap ini akan menjadikan orang yang di ajak
bicara bisa menangkap dengan baik dan tidak adanya sakit hati karena kesalahan
dalam bertutur kata dan Dengan
dikuasainya tutur kata yang baik dapat memudahkan persoalan-persoalan
dikeseharian dan melatih kita untuk berakhlaqul karimah.
Untuk
menguatkan ayat Al-Qur’an diatas dapat disajikan beberapa hadits yang
menganjurkan kita agar selalu berakhlaqul karimah kepada semua makhluk karena
pada dasarnya semua makhluq hidup di dunia ini adalah ciptaan allah dan kita
sebagai makhluk ciptaanya yang paling sempurna di anjurkan untuk memberikan
sikap terbaik pula bagi makhluk hidup ciptaanya yang lain, berikan adalah
hadits-hadits yang mnganjurkan kita besikap baik
1. Dari Abu Ad-Darda' radiyallahu 'anhu;
Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam
Tidak
ada sesuatu yang diletakkan pada timbangan hari kiamat yang lebih berat
daripada akhlak yang mulia, dan sesungguhnya orang yang berakhlak mulia bisa
mencapai derajat orang yang berpuasa dan shalat. [Sunan Tirmidzi: Sahih]
2. Dari Sahl bin Sa'ad radiyallahu 'anhu;
Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam
Sesungguhnya Allah mencintai akhlak yang mulia
dan membenci akhlak yang buruk. [Al-Mu'jam Al-Kabiir: Sahih]
3. An-Nawwaas bin Sim'aan Al-Anshary radiyallahu
'anhu berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam
tentang kebaikan dan keburukan, dan Rasulullah menjawab:
Kebaikan
adalah akhlak yang baik, dan keburukan adalah sesuatu yang mengganjal di dadamu
(hatimu), dan kamu tidak suka jika orang lain mengetahuinya. [Sahih Muslim]
4. Dari Jabir bin Samurah radiyallahu 'anhu;
Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam
Sesungguhnya
orang yang paling baik keislamannya adalah yang paling baik akhlaknya.
[Musnad Ahmad: Sahih]
5. Dari
Abu Hurairah radiyallahu 'anhu; Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam
Kalian
tidak akan mempu memberi kepada semua orang dengan hartamu, akan tetapi kamu
bisa memberi kepada semua orang dengan senyuman dan akhlak mulia.
[Musnad Al-Bazzar: Hasan]
Dari
lima hadits diatas dapat dsimpulkan menjelaskan tentang beberapa poin tentang
aklaq yang pertama adalah menjelaskan tentang pentingya akhlaqul karimah dalam
kehidupan, kedua memberi tahu kita bahwa allah sangat menyukai insan yang
berakhlaqul karimah, ketiga aklaq adalah sebuah kebaikan dan mengajarkan kita
agar kita tidak boleh menyombongan kebaikan kita yang diberikan kepada orang
lain, ke empat mengajarkan tingkat
keislaman kita dapat dilihat dari kita berperilaku dalam sehari-hari, ke lima
menjelaskan sodaqoh tidak harus dengan harta karena dengan akhlaq yang baik itu
juga dihitung sebagai sodaqoh, dengan demikian lima hadits diatas kita dapat
ambil faedah-faedahnya untuk dijadikan acuan kita melaksanakn pola hidup yang
lebih baik khususnya dalam ruang lingkup akhlaqul karimah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar