Sabtu, 10 Juni 2017

Tawadhu'

TUGAS STUDI TAFSIR TARBAWI
TAWADHU’
Tugas ini disusun guna melengkapi tugas individu Mata Kuliah Studi Tafsir Tarbawi
Dosen Pengampu Abdullah Maksum, Alh. S. Pd.I


 
  




Disusun Oleh :
AHMAD KHAFIFI
(2015010072)


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS SAINS AL-QURAN JAWA TENGAH DI WONOSOBO
2017




KATA PENGANTAR
Alhamdulilah kami panjatkan puji syukur dengan berkat rahmat Allah SWT, yang telah memudahkan kami dalam menyelesaikan tugas ini yang berjudul Tawadhu’ dengan baik. Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Agung Muhammad SAW, yang selalu kita nanti-nantikan syafaatnya dari dunia hingga akhirat.
Tugas berjudul Tawadhu’ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Studi Tafsir Tarbawi. Kami telah berusaha semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan yang ada agar tugas ini dapat tersusun sesuai dengan kemampuan yang ada agar tugas ini dapat tersusun sesuai harapan. Sesuai dengan fitrahnya, manusia diciptakan Allah sebagai makhluk yang tak luput dari kesalahan dan kekhilafan, maka tugas yang kami susun ini belum mencapai tahap kesempurnaan.
Kami mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak yang turut membantu dalam proses menyelesaikan tugas ini. Semoga tugas ini dapat memberikan manfaat dan menambah wawasan serta pengetahuan untuk kita semua dalam kehidupan sehari-hari.
           





Wonosobo,  08 Mei 2017


Penyusun






TAWADHU’ (RENDAH HATI)
Perbincangan tentang tawadhu banyak diungkap dalam disiplin ilmu tasawuf dan dunia ajaran spiritualitas dan akhlak yang sudah ada sejak awal sejarah para Nabi dan Rasul. Mulai dari Nabi Adam a.s hingga mencapai klimaksnya pada Nabi Muhammad SAW. Bahkan misi utama tugas kerasulan Muhammad SAW adalah untuk menyempurnakan akhlak yangmulia. Diskursus disekitar tawadhu’ dalam dunia tasawuf merupakan bahasan yang penting, sebab ia merupakan akhlak terpuji yang akan membawa pelakunya kepada masa kebahagiaan tiada tara karena tawadhu’ adalah bagian dari aspek batiniyah yang melibatkan ranah terdalam hati manusia, ia juga merupakan salah satu maqomat yang harus dilalui seorang sufi yang ingin mencapai kedekatan dengan tuhannya. Tawadhu dalam pandangan tashawuf adalah tawadhu yang erat kaitannya dalam hubungan yang terkerucut pada aspek hubungan hamba dengan tuhan maupun dengan sesamanya. Dengan tawadhu ini seorang hamba menghantarkan dirinya secara tidak langsung untuk berjalan dengan ketundukan dan kepatuhan menjalankan segala yang diperintahkan oleh Allah SWT dengan memasrahkan diri kepadanya, adapun tawadhu dalam aspek sosial terarah pada kerendahan hati antar sesama, hubungan antar mereka, dan lain-lain.
1.    Ayat Tentang Tawadhu’

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِين
Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, Yaitu orang-orang yang beriman. (Q.S As-Syu’ara’ 215).

2.    Ayat-ayat Penguat Tentang Tawadhu’

وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا
37. Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung. (Q.S Al-Isra 37).

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
63. Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. (Q.S Al-Furqaan 63).

تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۚ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ
83. Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa. (Q.S Al Qashshash 83).
3.    Hadist-Hadist Tentang Tawadhu’

إِنَّ اللهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوْا حَتَّى لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ , وَ لاَ يَبْغِيَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ
“Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar kalian merendahkan hati sehingga seseorang tidak menyombongkan diri atas yang lain dan tidak berlaku zhalim atas yang lain.” (H.R. Muslim no. 2588)
.

أن النبي صلى الله عليه و سلم كان يزور الأنصار ويسلم على صبيانهم ويمسح رؤوسهم

“Sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berkunjung ke orang-orang Anshor. Lantas beliau memberi salam kepada anak kecil mereka dan mengusap kepala mereka.” (HR. Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya no. 459. Sanad hadits ini shahih kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth).
كَانَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ تَعْنِي خِدْمَةَ أَهْلِهِ فَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ

“Beliau selalu membantu pekerjaan keluarganya, dan jika datang waktu shalat maka beliau keluar untuk melaksanakan shalat.” (HR. Bukhari no. 676).

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ[أخرجه مسلم
"Tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah melainkan (pasti) Allah akan mengangkat derajatnya". HR Muslim.

كاَنَ رَسُوْلُ اللهِ يَزُوْرُ الأَنْصَارَ فَيُسَلِّمُ عَلَىصِبْيَانِهِمْ وَيَمْسَحُ بِرُؤُسِهِمْ وَيَدْعُو لَهُمْ
“Rasulullah biasa mengunjungi orang-orang Anshar lalu megucapkan salam pada anak-anak mereka, mengusap kepala mereka dan mendo’akan kebaikan untuk mereka.” (HR. An Nasa’i)

4.    Kesimpulan
Kata Tawadhu’ merupakan kata serapan dari bahasa arab, yaitu تَوَاضُعْyang berarti التَذَلُّل. sedangkan menurut bahasa dalam kamus besar bahasa Indonesia, Tawadhu adalah rendah hati, patuh; taat. Tawadhu’ menurut istilah adalah memperlihatkan kerendahan kepada orang yang hendak diagungkan. Sedangkan menurut Hasan al-Bashri, Tawadhu’ yaitu ketika kamu keluar rumah dan melihat orang lain selalu memiliki kelebihan dibandingkan dengan dirimu. Pengertian Tawadhu’ adalah rendah hati,  tidak sombong. Pengertian yang lebih dalam adalah kalau kita tidak melihat diri kita memiliki nilai lebih dibandingkan hamba Allah yang lainnya.  Orang yang tawadhu’  adalah orang  menyadari bahwa semua kenikmatan yang didapatnya bersumber dari Allah SWT.  Yang dengan pemahamannya tersebut maka tidak pernah terbersit sedikitpun dalam hatinya kesombongan dan merasa lebih baik dari orang lain, tidak merasa bangga dengan potrensi dan prestasi yang sudah dicapainya. Ia tetap rendah diri dan selalu menjaga hati dan niat segala amal shalehnya dari segala sesuatu selain Allah. Tetap menjaga keikhlasan amal ibadahnya hanya karena Allah.
Tawadhu ialah bersikap tenang, sederhana dan sungguh-sungguh menjauhi perbuatan takabbur (sombong), ataupun sum’ah ingin diketahui orang lain amal kebaikan kita.Tanda orang yang tawadhu’ adalah disaat seseorang semakin bertambah ilmunya maka semakin bertambah pula sikap tawadhu’ dan kasih sayangnya. Dan semakin bertambah amalnya maka semakin meningkat pula rasa takut dan waspadanya. Setiap kali bertambah usianya maka semakin berkuranglah ketamakan nafsunya. Setiap kali bertambah hartanya maka bertambahlah kedermawanan dan kemauannya untuk membantu sesama. Dan setiap kali bertambah tinggi kedudukan dan posisinya maka semakin dekat pula dia dengan manusia dan berusaha untuk menunaikan berbagai kebutuhan mereka serta bersikap rendah hati kepada mereka.. Ini karena orang yang tawadhu menyadari akan  segala nikmat yang didapatnya adalah dari Allah SWT, untuk mengujinya apakah ia bersykur atau kufur.
Berbicara lebih jauh tentang tawadhu’, sebenarnya tawadhu’ sangat diperlukan bagi siapa saja yang ingin menjaga amal shaleh atau amal kebaikannya, agar tetap tulus ikhlas, murni dari tujuan selain Allah.  Karena  memang tidak mudah menjaga keikhlasan amal shaleh atau amal kebaikan kita agar tetap murni, bersih dari tujuan selain Allah.  Sungguh sulit menjaga agar segala amal shaleh dan amal kebaikan yang kita lakukan tetap bersih dari tujuan selain mengharapkan ridha-Nya. Karena sangat banyak godaan yang datang, yang selalu berusaha mengotori amal kebaikan kita. Apalagi disaat pujian dan ketenaran mulai datang menghampiri kita, maka terasa semakin sulit bagi kita untuk tetap bisa menjaga kemurnian amal shaleh kita, tanpa terbesit adanya rasa bangga dihati kita. Disinilah sangat diperlukan tawadhu’ dengan menyadari sepenuhnya, bahwa sesungguhnya segala amal shaleh, amal kebaikan yang mampu kita lakukan, semua itu adalah karena pertolongan dan atas ijin Allah SWT.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar