TUGAS STUDI TAFSIR TARBAWI
TAWADHU’
Tugas ini disusun guna
melengkapi tugas individu Mata Kuliah Studi Tafsir Tarbawi
Dosen Pengampu Abdullah Maksum,
Alh. S. Pd.I
Disusun
Oleh :
AHMAD KHAFIFI
(2015010072)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS SAINS AL-QUR’AN JAWA TENGAH DI
WONOSOBO
2017
KATA
PENGANTAR
Alhamdulilah
kami panjatkan puji syukur dengan berkat rahmat Allah SWT, yang telah
memudahkan kami dalam menyelesaikan tugas ini yang berjudul Tawadhu’ dengan baik. Sholawat
serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Agung Muhammad SAW, yang
selalu kita nanti-nantikan syafaatnya dari dunia hingga akhirat.
Tugas berjudul Tawadhu’ini disusun untuk
memenuhi tugas mata kuliah Studi
Tafsir Tarbawi. Kami telah berusaha semaksimal mungkin
sesuai dengan kemampuan yang ada agar tugas ini dapat tersusun sesuai dengan
kemampuan yang ada agar tugas
ini dapat tersusun sesuai harapan. Sesuai dengan fitrahnya, manusia diciptakan
Allah sebagai makhluk yang tak luput dari kesalahan dan kekhilafan, maka tugas yang kami susun ini
belum mencapai tahap kesempurnaan.
Kami
mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak yang turut membantu dalam proses
menyelesaikan tugas
ini. Semoga tugas
ini dapat memberikan manfaat dan menambah wawasan serta pengetahuan untuk kita
semua dalam kehidupan sehari-hari.
Wonosobo, 08 Mei
2017
Penyusun
TAWADHU’ (RENDAH HATI)
Perbincangan tentang tawadhu’
banyak diungkap dalam disiplin ilmu tasawuf dan dunia ajaran spiritualitas dan
akhlak yang sudah ada sejak awal sejarah para Nabi dan Rasul. Mulai dari Nabi
Adam a.s hingga mencapai klimaksnya pada Nabi Muhammad SAW. Bahkan misi utama
tugas kerasulan Muhammad SAW adalah untuk menyempurnakan akhlak yangmulia. Diskursus disekitar tawadhu’ dalam dunia tasawuf
merupakan bahasan yang penting, sebab ia merupakan akhlak terpuji yang akan
membawa pelakunya kepada masa kebahagiaan tiada tara karena tawadhu’ adalah
bagian dari aspek batiniyah yang melibatkan ranah terdalam hati manusia, ia
juga merupakan salah satu maqomat yang harus dilalui seorang sufi yang ingin
mencapai kedekatan dengan tuhannya. Tawadhu’
dalam pandangan tashawuf adalah tawadhu’
yang erat kaitannya dalam hubungan yang terkerucut pada aspek hubungan hamba
dengan tuhan maupun dengan sesamanya. Dengan tawadhu ini seorang hamba
menghantarkan dirinya secara tidak langsung untuk berjalan dengan ketundukan
dan kepatuhan menjalankan segala yang diperintahkan oleh Allah SWT dengan memasrahkan diri kepadanya, adapun tawadhu’
dalam aspek sosial terarah pada kerendahan hati antar sesama, hubungan antar
mereka, dan lain-lain.
1. Ayat Tentang Tawadhu’
وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِين
Dan
rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, Yaitu orang-orang
yang beriman. (Q.S As-Syu’ara’ 215).
2. Ayat-ayat Penguat Tentang Tawadhu’
وَلَا تَمْشِ
فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ
الْجِبَالَ طُولًا
37. Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi
ini dengan sombong, karena Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus
bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung. (Q.S Al-Isra 37).
وَعِبَادُ
الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ
الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
63. Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang
itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan
apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang
mengandung) keselamatan. (Q.S Al-Furqaan 63).
تِلْكَ الدَّارُ
الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا
فَسَادًا ۚ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ
83. Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk
orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka)
bumi. dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa. (Q.S
Al Qashshash 83).
3.
Hadist-Hadist Tentang Tawadhu’
إِنَّ اللهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوْا حَتَّى لاَ يَفْخَرَ
أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ , وَ لاَ يَبْغِيَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ
“Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar kalian merendahkan hati sehingga seseorang tidak menyombongkan diri atas yang lain dan tidak berlaku zhalim atas yang lain.” (H.R. Muslim no. 2588).
“Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar kalian merendahkan hati sehingga seseorang tidak menyombongkan diri atas yang lain dan tidak berlaku zhalim atas yang lain.” (H.R. Muslim no. 2588).
أن النبي صلى الله عليه و سلم كان
يزور الأنصار ويسلم على صبيانهم ويمسح رؤوسهم
“Sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berkunjung ke orang-orang
Anshor. Lantas beliau memberi salam kepada anak kecil mereka dan mengusap
kepala mereka.” (HR. Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya no. 459. Sanad hadits
ini shahih kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth).
كَانَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ تَعْنِي خِدْمَةَ أَهْلِهِ فَإِذَا
حَضَرَتْ الصَّلَاةُ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ
“Beliau selalu membantu pekerjaan keluarganya, dan jika datang waktu shalat
maka beliau keluar untuk melaksanakan shalat.” (HR. Bukhari no. 676).
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ[أخرجه مسلم
"Tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah melainkan
(pasti) Allah akan mengangkat derajatnya". HR Muslim.
كاَنَ رَسُوْلُ اللهِ يَزُوْرُ الأَنْصَارَ فَيُسَلِّمُ
عَلَىصِبْيَانِهِمْ وَيَمْسَحُ بِرُؤُسِهِمْ وَيَدْعُو لَهُمْ
“Rasulullah biasa mengunjungi orang-orang Anshar lalu megucapkan salam pada anak-anak mereka, mengusap kepala mereka dan mendo’akan kebaikan untuk mereka.” (HR. An Nasa’i)
“Rasulullah biasa mengunjungi orang-orang Anshar lalu megucapkan salam pada anak-anak mereka, mengusap kepala mereka dan mendo’akan kebaikan untuk mereka.” (HR. An Nasa’i)
4. Kesimpulan
Kata Tawadhu’ merupakan kata serapan
dari bahasa arab, yaitu تَوَاضُعْyang
berarti التَذَلُّل. sedangkan menurut
bahasa dalam kamus besar bahasa Indonesia, Tawadhu adalah rendah
hati, patuh; taat. Tawadhu’ menurut istilah adalah memperlihatkan
kerendahan kepada orang yang hendak diagungkan. Sedangkan menurut Hasan
al-Bashri, Tawadhu’ yaitu ketika kamu keluar rumah dan melihat orang
lain selalu memiliki kelebihan dibandingkan dengan dirimu. Pengertian Tawadhu’ adalah rendah
hati, tidak sombong. Pengertian yang lebih dalam adalah kalau kita tidak
melihat diri kita memiliki nilai lebih dibandingkan hamba Allah yang
lainnya. Orang yang tawadhu’ adalah orang menyadari bahwa
semua kenikmatan yang didapatnya bersumber dari Allah SWT. Yang dengan
pemahamannya tersebut maka tidak pernah terbersit sedikitpun dalam hatinya
kesombongan dan merasa lebih baik dari orang lain, tidak merasa bangga dengan
potrensi dan prestasi yang sudah dicapainya. Ia tetap rendah diri dan selalu
menjaga hati dan niat segala amal shalehnya dari segala sesuatu selain Allah.
Tetap menjaga keikhlasan amal ibadahnya hanya karena Allah.
Tawadhu
ialah bersikap tenang, sederhana dan sungguh-sungguh menjauhi perbuatan
takabbur (sombong), ataupun sum’ah ingin diketahui orang lain amal kebaikan
kita.Tanda orang yang tawadhu’ adalah disaat seseorang semakin bertambah ilmunya
maka semakin bertambah pula sikap tawadhu’ dan kasih sayangnya. Dan semakin
bertambah amalnya maka semakin meningkat pula rasa takut dan waspadanya. Setiap
kali bertambah usianya maka semakin berkuranglah ketamakan nafsunya. Setiap
kali bertambah hartanya maka bertambahlah kedermawanan dan kemauannya untuk
membantu sesama. Dan setiap kali bertambah tinggi kedudukan dan posisinya maka
semakin dekat pula dia dengan manusia dan berusaha untuk menunaikan berbagai
kebutuhan mereka serta bersikap rendah hati kepada mereka.. Ini karena orang
yang tawadhu menyadari akan segala nikmat yang didapatnya adalah dari
Allah SWT, untuk mengujinya apakah ia bersykur atau kufur.
Berbicara lebih jauh tentang tawadhu’, sebenarnya tawadhu’ sangat
diperlukan bagi siapa saja yang ingin menjaga amal shaleh atau amal
kebaikannya, agar tetap tulus ikhlas, murni dari tujuan selain Allah. Karena memang tidak mudah menjaga keikhlasan amal
shaleh atau amal kebaikan kita agar tetap murni, bersih dari tujuan selain
Allah. Sungguh sulit menjaga agar segala
amal shaleh dan amal kebaikan yang kita lakukan tetap bersih dari tujuan selain
mengharapkan ridha-Nya. Karena sangat banyak godaan yang datang, yang selalu
berusaha mengotori amal kebaikan kita. Apalagi disaat pujian dan ketenaran
mulai datang menghampiri kita, maka terasa semakin sulit bagi kita untuk tetap
bisa menjaga kemurnian amal shaleh kita, tanpa terbesit adanya rasa bangga
dihati kita. Disinilah sangat diperlukan tawadhu’ dengan menyadari sepenuhnya,
bahwa sesungguhnya segala amal shaleh, amal kebaikan yang mampu kita lakukan,
semua itu adalah karena pertolongan dan atas ijin Allah SWT.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar