Senin, 12 Juni 2017

POLA HIDUP SEDERHANA
DAN PERINTAH MENYANTUNI PARA DHUAFA
Tugas ini di susun guna memenuhi tugas mata kuliah Studi Tafsir Tarbawi yang diampu oleh
 K. Abdullah Ma’sum, Alh, S.Pd.I









                                                              Disusun oleh :
   Alfian Rasyid
  ( 2015010050 )

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN (FITK)
UNIVERSITAS SAINS AL-QURAN (UNSIQ)
JAWA TENGAH DI WONOSOBO
 2017


POLA HIDUP SEDERHANA
DAN PERINTAH MENYANTUNI PARA DHUAFA
A.    Ayat yang dikaji:
Surat Al- Furqon:67
وَالَّذِيْنَ إِذَا أَنْفَقُوْا لَمْ يُسْرِفُوْا وَلَمْ يَقْتُرُوْا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا
Artinya: Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.

B.     Ayat pendukung
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلاَتُسْرِفُوا إِنَّهُ لاَيُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
Dan makanmlah dan minumlah dan janagan berlebih-lebihan,. Sesungguhnya Dia tidak mencintai orang yang berlebihan. QS.  Al-A’raf/7  : 30
مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ
dari kesedrhanaan apa yang engkau berikan makanan kepada keluargamu. QS. Al-Maidah/6 : 89 
QS. Al-Isra/17  : 29
وَلاَتَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَى عُنُقِكَ وَلاَتَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَّحْسُورً
Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenngu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal. QS. Al-Isra/17  : 29
C.    Hadist yang bersangkutan
عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُوا وَاشْرَبُوا وَتَصَدَّقُوا وَالْبَسُوا غَيْرَ مَخِيلَةٍ وَلَا سَرَفٍ (أخرجه أحمد)

Artinya: Dari Amr bin Syu’aub dari ayahnya dari kakeknya bahwa Rasulullah saw bersabda : “Makanlah, minumlah dan berpakaianlah tanpa ada kesombongan dan berlebihan”. (HR. Ahmad)
آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ  (رواه الترمذي وابن ماجة وابن حبان)
Anak Adam tidak memenuhi suatu bejana yang lebih buruk dari pada perutnya. Cukuplah  anak Adam makan  beberapa suap yang dapat menegakkan lambungnya. Jika dia harus makan, maka sepertiga untuk makanan, seperti untuk minuman dan sepertiga untuk bernafas. (HR. Al-Turmudzi, Ibn Majah dan Ibn Hibban).
عَنْ سَهْلٍ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى وَفَرَّجَ بَيْنَهُمَا شَيْئًا (أخرجه البخاري)        
Dari  Sahal berkata : Rasulullah saw bersabda : “Saya dan penanggung jawab yatim di dalam surga seperti ini, beliau berisyarat dengan  jari telunjuk dan ari tengah dan mengkosongkan antar keduanya”. (HR al-Bukhari)
وَأَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا
Saya dan penanggung jawab yatim di dalam surga seperti ini.
عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ رَأَى سَعْدٌ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ لَهُ فَضْلًا عَلَى مَنْ دُونَهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَلْ تُنْصَرُونَ وَتُرْزَقُونَ إِلَّا بِضُعَفَائِكُمْ  (أخرجه البخاري)
Dari Mush’ab bin Sa’ad  berkata : Sa’ad (bapaknya Mush’ab) melihat bahwa  dirinya mempunyai kelebihan terhadap yang lain, maka Nabi bersabda : “Kamu tidak ditolong dan tidak diberi rizki melainkan dengan pertolongan orang-orang lemah di antara kamu”. (HR. Al-Bukhari)
























KESIMPULAN
Pola hidup  sederhana adalah pola hidup  pertengahan antara berlebih-lebihan dan terlalu hemat atau antara boros dan pelit. Pola hidup sederhana adalah termasuk sifat terpuji yang dicintai dalam agama, karena ia berada di tengah-tengah antara dua sifat yang ekstim. Pola hidup sederhana berarti menggunakan harta benda yang dimiliki secara seimbang antara kebutuhan individu dan kebutuhan keluarga, antara kebutuhan individu dan kebutuhan  sosial.  Seseorang yang  bersyukur kepada Allah swt merasa bahagia ketika dapat menggunakan harta bendanya secara seimbang dan sederhana tersebut. Harta yang diterima semata bukan hasil jerih payah keringat sendiri, akan tetapi berkat bantuan dan pertolongan orang-orang lemah. Menyantuni dhu’afa berarti membalas budi mereka yang telah mambantu kusuksesan usahanya, minimal do’anya yang mustajab.
Maksud sederhana dalam makan minum tidak terlalu kenyang atau berlebih-lebihan ketika makan dan minum. Maksud berlebihan dalam makan minum adakalanya terlalu kenyang dan adakalanya  terlalu enak-enak makanan dan minumannya. Keduanya akan menimbulkan berbagai macam penyakit yang menganggu kesehatan seseorang.  Banyak penyakit bersumber dari perut yang diisi segala macam makanan yang tidak diperlukan. Sederhana dalam memberi makan terhadap keluarga, tidak boleh terlalu kikir atau terlalu hemat. Memberi makan atau nafkah  terhadap keluarga memang suatu kewajiban tetapi juga harus dilihat dari kemampuan. Kesederhanaan dalam nafkah dan memberi makan dilihat dari kemampuan dan kebutuhan. Kesederhanannya tidak melebihi dari kemampuan dan tidak melebihi dari kebutuhan.  Hadis yang diriwayatkan Ibnu Majah bahwa Ibnu Abbas meriwayatkan ada seorang laki-laki yang memberi makan keluarganya  berlebihan dan ada juga seorang  laki-laki yang memberi makan keluarganya terlalu sempit,
perintah makan, minum dan sedekah. Perintah makan minum berarti membelanjakan harta untuk kepentingan sendiri sedang bersedekah untuk kepentingan orang lain atau sosial. Posisinya berada di tengah antara kepentingan peribadi dan kepentingan orang lain. Baik untuk kepentingan peribadi  maupun orang lain pembelanjaan harta secara sederhana tidak terlalu murah  dan tidak terlalu pelit. Terlalu murah tidak mendidik terhadap keluarga dan berpengaruh buruk dalam pendidikan  keluarga seperti hidup berpoya-poya, kenakalan, penyelewengan  dan lain-lain. Sedangkan  terlalu pelit menyebabkan permusuhan, putus asa, tamak dan minta-minta.
Kesederhanaan dalam berpakaian berarti tidak berlebihan dalam berpakaian seperti terlalu  mahal, terlalu halus, terlalu menyolok, terlalu jelek, terlalu kasar dan seterusnya. Berpakaian yang terlalu bagus tidak pada tempatnya akan menimbulkan kesombongan  diri dan merendahkan orang  lain kecuali jika yang bersangkutan ingin menunjukkan syukur nikmat Allah. Sedangkan berpakaian terlalu kasar, terlalu kurang dan terlalu jelek tidak menampakkan nikmat yang diberikan Allah, dikhawatirkan kurang bersyukur. Demikian juga berpakaian yang terlalu longgar atau terlalu ketat. Terlalu longgar jika tidak pada tempatnya pemborosan dan yang terlalu ketat dan sempit,  di samping mengganggu kesehatan juga  mengundang nafsu biologis bagi lawan jenis.    
perintah menyantuni dan memperhatikan kehidupan anak yatim. Anak yatim adalah anak yang ditinggal meninggal dunia oleh bapaknya pada saat dia masih kecil sebelum baligh. Betapa menderitanya seorang anak yatim  yang sejak kecil ditinggal maninggal bapaknya, padahal bapaknyalah yang menjadi tiang andalan kehidupan dalam suatu rumah tangga. Bapaknyalah yang bekerja mencari sesuap nasi, bapaknyalah yang  berjuang mencari nafkah untuk menghidupi anak dan keluarganya. Jika bapaknya meninggal dunia terlebih dahulu, sementara anaknya masih kecil dan ibunya tidak bisa  bekerja seperti bapaknya. Siapakah yang  bertanggung jawab terhadap kehidupan anak yatim ? Tidak lain adalah kaum muslimin semua.
Penanggung anak yatim bisa jadi ibunya sendiri yang merawat, mendidik dan mencukupi kehidupannya. Atau saudaranya, seperti kakek, paman, bibik dan lain-lain. Atau pengurus panti asuhan yatim, pengurus yayasan yatim dan lain-lain. Mereka itu nanti akan masuk surga bersama Rasulillah saw.  Ungkapan  di atas beliau sampaikan sambil berisyarat  dua jari yakni  jari telunjuk dan jari tengah. Artinya Penanggung atau pengurus yatim bersama Nabi dalam surga seperti  antara kedua jari tersebut.
Hidup manusia saling terkait antara satu dengan lainnya, tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Manusia sejak lahir di bumi sudah memerlukan bantuan orang lain sampai dia mati dikubur orang lain. Seorang yang sukses baik dalam usaha dunia dan akhirat juga tidak terlepas dari bantun orang lain baik secara langsung maupun tidak secara langsung, baik secara pisik maupun non pisik seperti berdo’a. Tidak ada manusia yang sukses di dunia ini tanpa bantuan orang lain.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar