SABAR SEBAGAI SEORANG
MUSLIM
Tugas ini disusun guna memenuhi Tugas Ujian Akhir
Semester mata kuliah
Study Tafsir Tarbawi diampu oleh bapak
Abdullah Ma’sum Alh, S.Pd.I
Disusun Oleh :
Ahmad Syafii Mufid
2015010086
PENDIDIKAN
AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN (FITK)
UNIVERSITAS SAINS AL-QURAN (UNSIQ)
JAWA TENGAH DI WONOSOBO
2017
Sabar
Sebagai Seorang Muslim
Dalam
diri manusia terdapat sifat mendasar yang dimiliki, salah satunya adalah sabar.
Sabar menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah tahan menghadapi
setiap cobaan dalam kehidupan. Sabar sendiri berasal dari akar kata صبر يصبر yang artinya menahan, Dan menurut istilah,
sabara adalah menahan diri dari kesusahan dan menyikapinya sesuai dengan
syariah dan akal, menjaga lisan dari celaan, dan menahan anggota badan dari
berbuat dosa.
Al
Quran adalah kitab suci yang menjadi pedoman dan pelega bagi setiap umat. Dalam
Al Quran banyak ayat yang menjelaskan tentang sabar. Berikut ini adalah ayat
dan hadist nabi yang berkaitan dengan sabar.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ
ءَامَنُواْ ٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ
١٥٣
“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan
shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”.
Pada tafsir Al Maraghi, dalam menegakkan dan
menegakkan agama, hendaknya kalian meminta pertolongan kepada Allah SWT dengan
cara sabar dan mendirikan sholat. Demikian juga di dalam menghadapi
permasalahan yang dirasa berat tentang musibah duniawi. Dan senjatailah kalian
kesabaran dan membiasakan diri dalam menahan penderitaan. Dengan sholat,
kepercayaan kalian kepada Allah akan semakin bertambah kuat. Dan dengan munajat
kepada Allah, maka segala permasalahan yang kalian hadapi akan sangat kecil.
Di dalam ayat ini, dikhsuskan pembahasan ayat
tentang sabar dan salat, sebab sabar adalah perbuatan batin terberat, dan salat
merupakan perbuatan zahir yang terberat pula. Karena, di dalam shalat ini
seseorang harus menundukkan diri dihadapan Allah, sekaligus harus
mengkonsentrasikan diri untuk berhadapan kepada-Nya secara khusu’ dihadapan
keagungan Allah. Dalam suatu riwayat, Nabi Muhammad saat ditimpa musibah yang
begitu besar beliau mengambil air wudlu dan membaca ayat ini:
.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ
ءَامَنُواْ ٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ
١٥٣
Sesungguhnya Allah yang
akan menolong orang-orang yang berlaku sabar, dan Allah lah yang akan
mengabulkan permohonan yang diharapkannya. Barang siapa yang sudah mendapat
pertolongan Allah, maka tak akan ada yang mengalahkannya.
Akan halnya orang-orang
yang merasa gundah ketika tertimpa musibah, maka hatinya itu telah lupa untuk
berdzikir kepada Allah. Hati orang yang lupa akan dzikir kepada Allah ini
dipenuhi dengan berbagai kebutuhan duniawi yang sangat kotor, sekalipun seluruh
dunia ini mampu diraih dalam genggamannya.
Sunnatullah telah
menggariskan bahwa pekerjaan-pekerjaan yang agung ini takkan mungkin bisa
diraih oleh seorang melainkan harus dengan keteguhan hati dan ketekunan usaha.
Sederhananya, seluruh permasalahan itu akan sangat tergantung sampai sejauh
mana tingkat kesabarannya. Barang siapa yang berlaku sabar, berarti telah
berada pada garis Sunnatullah yang pasti mampu menanggulangi semua hambatan
jiwanya. Allah akan memudahkan jalannya dan menghilangkan kesempitan yang
menekan jiwanya. Siapapun yang tidak berlaku sabar, berarti Allah tidak
menyertainya. Sebab ia telah menyimpang dari Sunnatullah. Karenanya ia tidak
akan berhasil dalam meraih cita-citanya.
Allah Ta’ala juga menerangkan bahwa
sebaik-baik sarana yang dapat membantu dalam menjalani berbagai musibah adalah
kesabaran dan shalat. Sebagaimana telah diuraikan dalam finnan Allah Ta’ala sebelumnya
yang berbunyi
وَٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ
وَٱلصَّلَوٰةِۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلۡخَٰشِعِينَ ٤٥
Jadikanlah
sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh
berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu´
Kesabaran
itu ada dua macam. Pertama, sabar dalam meninggalkan berbagai hal yang
diharamkan dan perbuatan dosa. Dan kedua, sabar dalam berbuat ketaatan dan
mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Jenis yang kedua ini lebih besar
pahalanya, karena inilah yang dimaksudkan.
Ada
juga kesabaran jenis ketiga, yaitu kesabaran dalam menerima dan menghadapi
berbagai macam musibah dan cobaan. Yang demikian itupun wajib, seperti
istighfar dari berbagai aib. Sebagaimana dikemukakan oleh Abdur Rahman bin Zaid
bin Aslam mengenai dua pintu kesabaran, yaitu sabar menjalankan hal-hal yang
disukai Allah swt. meskipun terasa berat bagi jiwa dan raga. Dan kedua sabar
dalam menghindari hal-hal yang dibenci Allah Ta’ala meskipun sangat diinginkan
oleh hawa nafsu. Jika seseorang telah melakukan hal itu, maka ia benar-benar termasuk
orang-orang sabar yang insya Allah akan memperoleh keselamatan.
Berkenaan
dengan hal tersebut di atas, penulis (lbnu Katsir) mengatakan, hal ini
diperkuat oleh firman Allah Ta’ala yang berbunyi:
قُلۡ يَٰعِبَادِ ٱلَّذِينَ
ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمۡۚ لِلَّذِينَ أَحۡسَنُواْ فِي هَٰذِهِ ٱلدُّنۡيَا
حَسَنَةٞۗ وَأَرۡضُ ٱللَّهِ وَٰسِعَةٌۗ إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجۡرَهُم
بِغَيۡرِ حِسَابٖ ١٠
Katakanlah:
"Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu".
Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah
itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang
dicukupkan pahala mereka tanpa batas
Sa’id
bin Jubair mengatakan: “Sabar berarti pengaduan seorang hamba kepada Allah atas
musibah yang menimpanya dan ketabahannya di sisi Allah dengan mengharapkan
pahala dari-Nya. Terkadang, seseorang digoncangkan (dengan berbagai masalah),
namun ia tetap tegar, dan tidak melihat pilihan yang lain kecuali bersabar.”
Hadist
Tentang Kesabaran
وعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
قَالَ مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِامْرَأَةٍ تَبْكِي
عِنْدَ قَبْرٍ فَقَالَ اتَّقِي اللَّهَ وَاصْبِرِي قَالَتْ إِلَيْكَ عَنِّي
فَإِنَّكَ لَمْ تُصَبْ بِمُصِيبَتِي وَلَمْ تَعْرِفْهُ فَقِيلَ لَهَا إِنَّهُ
النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَتْ بَابَ النَّبِيِّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ تَجِدْ عِنْدَهُ بَوَّابِينَ فَقَالَتْ لَمْ
أَعْرِفْكَ فَقَالَ إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَى وفي رواية
لمسلم تبكي على صبي لها
Dari Anas RA berkata bahwa Nabi SAW pernah menemui seorang wanita yang
sedang menangis di pemakaman. Nabi berkata kepadanya, “Bertaqwalah kepada Allah
dan bersabarlah.”
Wanita itu menjawab, “Pergilah, kamu tidak pernah ditimpa musibah seperti
yang menimpaku.”
Wanita itu belum mengenal Nabi SAW ketika diberi tahu bahwa beliau adalah
Nabi SAW, wanita itu mendatangi beliau. Ia tidak menjumpai seorang pengawal pun
di sekeliling beliau. Wanita itu berkata, “Aku belum mengenal engkau.”
Nabi SAW bersabda, “Sabar itu pada benturan pertama.” (HR. Bukhari)
Riwayat Muslim menyebutkan, “Wanita itu menangisi
anaknya yang meninggal.”
وعَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى مَا لِعَبْدِي الْمُؤْمِنِ عِنْدِي جَزَاءٌ إِذَا
قَبَضْتُ صَفِيَّهُ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا ثُمَّ احْتَسَبَهُ إِلَّا الْجَنَّةُ رواه البخاري
Abu Hurairah RA berkata bahwa Rasulullah SAW
bersabda, “Allah berfirman, ‘Jika seorang hamba ditinggal mati orang yang
paling dicintainya, lalu ia bersabar dan mengharapkan pahala dari Allah, maka
tidak ada pahala baginya, kecuali surga.’” (HR. Bukhari)
3.
عن أبي سعيد وأبي هريرة رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه
وسلم قال ما يصيب المسلم من نصب ولا وصب ولا هم ولا حزن ولا أذى ولا غم حتى الشوكة
يشاكها إلا كفر الله بها من خطاياه متفق عليه و الوصب المرض
Abu Sa’id RA dan Abu Hurairah RA berkata bahwa
Rasulullah SAW bersabda, “Segala sesuatu yang menimpa seorang muslim, baik
berupa rasa letih, sakit, gelisah, sedih, gangguan, gundah-gulana, maupun duri
yang mengenainya (adalah ujian baginya). Dengan ujian itu, Allah mengampuni
dosa-dosanya.”(Muttafaq ‘alaih)
Kesimpulan
Manusia adalah makhluk yang istimewa, diberkahi dengan akal dan
juga jiwa untuk terhubung dengan sang pencipta. Dengan akal, manusia mampu
memahami setiap kejadian yang ada, dan dengan jiwa manusia menginstrospeksi
kejadian yang ada. Sabar dalam tingkatannya mampu mendekatkan diri kepada-Nya, Kesabaran
itu ada dua macam. Pertama, sabar dalam meninggalkan berbagai hal yang
diharamkan dan perbuatan dosa. Dan kedua, sabar dalam berbuat ketaatan dan
mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Jenis yang kedua ini lebih besar
pahalanya, karena inilah yang dimaksudkan.
Ada juga kesabaran jenis ketiga, yaitu kesabaran dalam menerima dan
menghadapi berbagai macam musibah dan cobaan. Yang demikian itupun wajib,
seperti istighfar dari berbagai aib.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar