Senin, 12 Juni 2017

SABAR SEBAGAI SEORANG MUSLIM

SABAR SEBAGAI SEORANG MUSLIM

Tugas  ini disusun guna memenuhi Tugas Ujian Akhir Semester mata kuliah
Study Tafsir Tarbawi diampu oleh bapak Abdullah Ma’sum Alh, S.Pd.I



 


Disusun Oleh :
Ahmad Syafii Mufid
2015010086

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN (FITK)
UNIVERSITAS SAINS AL-QURAN (UNSIQ)
JAWA TENGAH DI WONOSOBO
2017

Sabar Sebagai Seorang Muslim
Dalam diri manusia terdapat sifat mendasar yang dimiliki, salah satunya adalah sabar. Sabar menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah tahan menghadapi setiap cobaan dalam kehidupan. Sabar sendiri berasal dari akar kata صبر يصبر yang artinya menahan, Dan menurut istilah, sabara adalah menahan diri dari kesusahan dan menyikapinya sesuai dengan syariah dan akal, menjaga lisan dari celaan, dan menahan anggota badan dari berbuat dosa.
Al Quran adalah kitab suci yang menjadi pedoman dan pelega bagi setiap umat. Dalam Al Quran banyak ayat yang menjelaskan tentang sabar. Berikut ini adalah ayat dan hadist nabi yang berkaitan dengan sabar.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٥٣
“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”.
Pada tafsir Al Maraghi, dalam menegakkan dan menegakkan agama, hendaknya kalian meminta pertolongan kepada Allah SWT dengan cara sabar dan mendirikan sholat. Demikian juga di dalam menghadapi permasalahan yang dirasa berat tentang musibah duniawi. Dan senjatailah kalian kesabaran dan membiasakan diri dalam menahan penderitaan. Dengan sholat, kepercayaan kalian kepada Allah akan semakin bertambah kuat. Dan dengan munajat kepada Allah, maka segala permasalahan yang kalian hadapi akan sangat kecil.
Di dalam ayat ini, dikhsuskan pembahasan ayat tentang sabar dan salat, sebab sabar adalah perbuatan batin terberat, dan salat merupakan perbuatan zahir yang terberat pula. Karena, di dalam shalat ini seseorang harus menundukkan diri dihadapan Allah, sekaligus harus mengkonsentrasikan diri untuk berhadapan kepada-Nya secara khusu’ dihadapan keagungan Allah. Dalam suatu riwayat, Nabi Muhammad saat ditimpa musibah yang begitu besar beliau mengambil air wudlu dan membaca ayat ini:
. يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٥٣
Sesungguhnya Allah yang akan menolong orang-orang yang berlaku sabar, dan Allah lah yang akan mengabulkan permohonan yang diharapkannya. Barang siapa yang sudah mendapat pertolongan Allah, maka tak akan ada yang mengalahkannya.
Akan halnya orang-orang yang merasa gundah ketika tertimpa musibah, maka hatinya itu telah lupa untuk berdzikir kepada Allah. Hati orang yang lupa akan dzikir kepada Allah ini dipenuhi dengan berbagai kebutuhan duniawi yang sangat kotor, sekalipun seluruh dunia ini mampu diraih dalam genggamannya.
Sunnatullah telah menggariskan bahwa pekerjaan-pekerjaan yang agung ini takkan mungkin bisa diraih oleh seorang melainkan harus dengan keteguhan hati dan ketekunan usaha. Sederhananya, seluruh permasalahan itu akan sangat tergantung sampai sejauh mana tingkat kesabarannya. Barang siapa yang berlaku sabar, berarti telah berada pada garis Sunnatullah yang pasti mampu menanggulangi semua hambatan jiwanya. Allah akan memudahkan jalannya dan menghilangkan kesempitan yang menekan jiwanya. Siapapun yang tidak berlaku sabar, berarti Allah tidak menyertainya. Sebab ia telah menyimpang dari Sunnatullah. Karenanya ia tidak akan berhasil dalam meraih cita-citanya.
Allah Ta’ala juga menerangkan bahwa sebaik-baik sarana yang dapat membantu dalam menjalani berbagai musibah adalah kesabaran dan shalat. Sebagaimana telah diuraikan dalam finnan Allah Ta’ala sebelumnya yang berbunyi
وَٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلۡخَٰشِعِينَ ٤٥
Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu´
Kesabaran itu ada dua macam. Pertama, sabar dalam meninggalkan berbagai hal yang diharamkan dan perbuatan dosa. Dan kedua, sabar dalam berbuat ketaatan dan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Jenis yang kedua ini lebih besar pahalanya, karena inilah yang dimaksudkan.
Ada juga kesabaran jenis ketiga, yaitu kesabaran dalam menerima dan menghadapi berbagai macam musibah dan cobaan. Yang demikian itupun wajib, seperti istighfar dari berbagai aib. Sebagaimana dikemukakan oleh Abdur Rahman bin Zaid bin Aslam mengenai dua pintu kesabaran, yaitu sabar menjalankan hal-hal yang disukai Allah swt. meskipun terasa berat bagi jiwa dan raga. Dan kedua sabar dalam menghindari hal-hal yang dibenci Allah Ta’ala meskipun sangat diinginkan oleh hawa nafsu. Jika seseorang telah melakukan hal itu, maka ia benar-benar termasuk orang-orang sabar yang insya Allah akan memperoleh keselamatan.
Berkenaan dengan hal tersebut di atas, penulis (lbnu Katsir) mengatakan, hal ini diperkuat oleh firman Allah Ta’ala yang berbunyi:
قُلۡ يَٰعِبَادِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمۡۚ لِلَّذِينَ أَحۡسَنُواْ فِي هَٰذِهِ ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةٞۗ وَأَرۡضُ ٱللَّهِ وَٰسِعَةٌۗ إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجۡرَهُم بِغَيۡرِ حِسَابٖ ١٠
Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas

Sa’id bin Jubair mengatakan: “Sabar berarti pengaduan seorang hamba kepada Allah atas musibah yang menimpanya dan ketabahannya di sisi Allah dengan mengharapkan pahala dari-Nya. Terkadang, seseorang digoncangkan (dengan berbagai masalah), namun ia tetap tegar, dan tidak melihat pilihan yang lain kecuali bersabar.”



Hadist Tentang Kesabaran

  1.  
وعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِامْرَأَةٍ تَبْكِي عِنْدَ قَبْرٍ فَقَالَ اتَّقِي اللَّهَ وَاصْبِرِي قَالَتْ إِلَيْكَ عَنِّي فَإِنَّكَ لَمْ تُصَبْ بِمُصِيبَتِي وَلَمْ تَعْرِفْهُ فَقِيلَ لَهَا إِنَّهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَتْ بَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ تَجِدْ عِنْدَهُ بَوَّابِينَ فَقَالَتْ لَمْ أَعْرِفْكَ فَقَالَ إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَى وفي رواية لمسلم تبكي على صبي لها
Dari Anas RA berkata bahwa Nabi SAW pernah menemui seorang wanita yang sedang menangis di pemakaman. Nabi berkata kepadanya, “Bertaqwalah kepada Allah dan bersabarlah.”
Wanita itu menjawab, “Pergilah, kamu tidak pernah ditimpa musibah seperti yang menimpaku.”
Wanita itu belum mengenal Nabi SAW ketika diberi tahu bahwa beliau adalah Nabi SAW, wanita itu mendatangi beliau. Ia tidak menjumpai seorang pengawal pun di sekeliling beliau. Wanita itu berkata, “Aku belum mengenal engkau.”
Nabi SAW bersabda, “Sabar itu pada benturan pertama.” (HR. Bukhari)
Riwayat Muslim menyebutkan, “Wanita itu menangisi anaknya yang meninggal.”
  1.  
وعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى مَا لِعَبْدِي الْمُؤْمِنِ عِنْدِي جَزَاءٌ إِذَا قَبَضْتُ صَفِيَّهُ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا ثُمَّ احْتَسَبَهُ إِلَّا الْجَنَّةُ رواه البخاري


Abu Hurairah RA berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Allah berfirman, ‘Jika seorang hamba ditinggal mati orang yang paling dicintainya, lalu ia bersabar dan mengharapkan pahala dari Allah, maka tidak ada pahala baginya, kecuali surga.’” (HR. Bukhari)
3.     
عن أبي سعيد وأبي هريرة رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم قال ما يصيب المسلم من نصب ولا وصب ولا هم ولا حزن ولا أذى ولا غم حتى الشوكة يشاكها إلا كفر الله بها من خطاياه متفق عليه و الوصب المرض

Abu Sa’id RA dan Abu Hurairah RA berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Segala sesuatu yang menimpa seorang muslim, baik berupa rasa letih, sakit, gelisah, sedih, gangguan, gundah-gulana, maupun duri yang mengenainya (adalah ujian baginya). Dengan ujian itu, Allah mengampuni dosa-dosanya.”(Muttafaq ‘alaih)

Kesimpulan
      Manusia adalah makhluk yang istimewa, diberkahi dengan akal dan juga jiwa untuk terhubung dengan sang pencipta. Dengan akal, manusia mampu memahami setiap kejadian yang ada, dan dengan jiwa manusia menginstrospeksi kejadian yang ada. Sabar dalam tingkatannya mampu mendekatkan diri kepada-Nya, Kesabaran itu ada dua macam. Pertama, sabar dalam meninggalkan berbagai hal yang diharamkan dan perbuatan dosa. Dan kedua, sabar dalam berbuat ketaatan dan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Jenis yang kedua ini lebih besar pahalanya, karena inilah yang dimaksudkan.
Ada juga kesabaran jenis ketiga, yaitu kesabaran dalam menerima dan menghadapi berbagai macam musibah dan cobaan. Yang demikian itupun wajib, seperti istighfar dari berbagai aib.









 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar