Senin, 12 Juni 2017

IMAN
Tugas  ini disusun guna memenuhi Tugas Ujian Akhir Semester mata kuliah
Study Tafsir Tarbawi diampu oleh bapak Abdullah Ma’sum Alh, S.Pd.I

  


Disusun Oleh :
M. Zubaidi
2015010230

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN (FITK)
UNIVERSITAS SAINS AL-QURAN (UNSIQ)
JAWA TENGAH DI WONOSOBO

2017


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia dalam menjalani kehidupan selalu berinteraksi dengan manusia lain atau dengan kata lain melakukan interaksi sosial. Dalam melakukan interaksi sosial manusia harus memiliki akhlak yang baik agar dalam proses interaksi tersebut tidak mengalami hambatan atau masalah dengan manusia lain. Proses pembentuk akhlak sangat berperan dengan masalah keimanan dan ketakwaan seseorang. Keimanan dan Ketakwaan seseorang berbanding lurus dengan akhlak seseorang atau dengan kata lain semakin baik keimanan dan ketakwaan seseorang maka semakin baik pula akhlak seseorang hal ini karena keimanan dan ketakwaan adalah modal utama untuk membentuk pribadi seseorang. Keimanan dan ketakwaan sebenarnya potensi yang ada pada manusia sejak ia lahir dan melekat pada dirinya hanya saja sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan seseorang yang telah terjamah oleh lingkungan sekitarnya maka potensi tersebut akan semakin muncul atau sebaliknya potensi itu akan hilang secara perlahan.
Saat ini keimanan dan ketakwaan telah dianggap sebagai hal yang biasa, oleh masyarakat umum, bahkan ada yang tidak mengetahui sama sekali arti yang sebenarnya dari keimanan dan ketakwaan itu, hal ini dikarenakan manusia selalu menganggap remeh tentang hal itu dan mengartikan keimanan itu hanya sebagai arti bahasa, tidak mencari makna yang sebenarnya dari arti bahasa itu dan membiarkan hal tersebut berjalan begitu saja. Oleh karena itu dari persoalan dan masalah-masalah yang terpapar diataslah yang melatar belakangi kelompok kami untuk membahas dan mendiskusikan tentang keimanan dan ketakwaan yang kami bukukan menjadi sebuah makalah kelompok.

BAB II
PEMBAHASAN
  1. AYAT POKOK PEMBAHASAN

- Surat Al Baqarah ayat 177 (Ajakan untuk beriman)
لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّواْ وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَـكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَالْمَلآئِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّآئِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُواْ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاء والضَّرَّاء وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَـئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَـئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

”Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.”

  2. ayat pendukung pembahasan
A.  Surat Ali Imran ayat 193
رَّبَّنَآ إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِى لِلْإِيمَٰنِ أَنْ ءَامِنُوا۟ بِرَبِّكُمْ فَـَٔامَنَّا رَبَّنَا فَٱغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّـَٔاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ ٱلْأَبْرَارِ
Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu”, maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti.

B.  Surat Al Baqarah ayat 257
اَللّٰهُ وَلِيُّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا يُخْرِجُهُمْ مِّنَ الظُّلُمٰتِ إِلَى النُّوْرِۗ وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوْتُ يُخْرِجُوْنَهُمْ مِّنَ النُّوْرِ إِلَى الظُّلُمٰتِۗ أُولٰئِكَ أَصْحٰبُ النَّارِۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ ؑ٢٥٧
257. Allah pelindung orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya adalah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka adalah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.

C.  Surat Ali Imran ayat 162
أَفَمَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَ اللَّهِ كَمَنْ بَاءَ بِسَخَطٍ مِنَ اللَّهِ وَمَأْوَاهُ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ
Apakah orang yang mengikuti keridaan Allah sama dengan orang yang kembali membawa kemurkaan (yang besar) dari Allah dan tempatnya adalah Jahanam? Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.

3. hadits yang berkaitan dengan iman
 حَدِيثُ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا : عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بُنِيَ الْأِسْلَامُ عَلَى خَمْسَةٍ عَلَى اَنْ يُّوَحِّدَ اللهُ وَاِقَامِ الصَّلَاةِ وَاِيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَصِيَامِ رَمَضَانَ وَالْحَجِّ
Hadits ibnu umar Ra : Nabi Muhammad Saw telah bersada : “Islam ditegakan diatas lima perkara yaitu mengesakan Allah, Mendirikan solat, mengeluarkan zakat, Brpuasa pada bulan Ramadhan, dan mengerjakan haji.

حَدِيْثُ اَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : أَنَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ اُمِرْتُ اَنْ اُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُوْلُوْا لَآ اِلَهَ اِلَّا اللهُ فَمَنْ قَالَ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ عَصَمَ مِنِّيْ مَا لَهُ وَنَفْسَهُ اَلَّا بِحَقّهِ وَحِسَابُهُ عَلَى اللهِ
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Ra. Katanya : “Aku diarahkan supaya memerangi manusia sehingga mereka mengucapkan dua kalimah syahadat. Siapa yang mengucapkannya berarti dia dan hartanya bebas dari aku kecuali dibenarkan oleh syariat dan segala-galanya terserahlah kepada Allah Swt untuk menentukannya.

حَدِيْثُ اَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : عَنِ النّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْأِيْمَانُ بِدْعٌ وَسَبْعُوْنَ شُعْبَةً وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْأِيْمَانِ
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Ra katanay: Rasulullah Saw bersabda : “Iman terdiri lebih dari tujuh puluh bagian, dan malu dalah salah satu dari bagian-bagian Iman.”

حَدِيْثُ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا : سَمِعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا يَعِظُ اَخَاهُ فِيْ الحَيَاءِ فَقَالَ الحَيَاءُ مِنَ الْلأِيْمَانِ
Diriwayatkan dari Abu Umar Ra katanya : Nabi Saw mendengar seorang menasehati saudaranya dalam hal malu dan menganggap perbuatan itu buruk, lalu Nabi Saw bersabda. ‘malu itu sebagian dari iman”

حَدِيْثُ اَنَسِ بن مالك رَضِيَ اللهُ عَنْهُ :  عَنِ النّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يُؤْمِنُ اَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبُّ لِأَحِيْهِ اَوْ قَالَ لِجَارِهِ مَا يَحِبُّ لِنَفْسِهِ
Diriwayatkan dari Anas bin Malik  Ra katnya : Nabi Saw telah bersabda : “tidak sempurna iman seseorang itu, sebelum ia mengasihi saudaranya sebagaimana ia mengasihi dirinya sendiri.”
  
BAB III
KESIMPULAN
Asbabun Nuzul Q.S. Al-Baqarah ayat 177 Dari qatadah , Abdurrozaq meriwayatkan bahwa ayat ini berkaitan dengan orang-orang Yahudi yang beribadah dengan menghadap kearah barat dan orang-orang Nasrani menghadap kearah timur.lalu, turunlah ayat ini yang menjelaskan kiblat yang sesungguhnya, ada juga riwayat yang menjelaskan bahwa ada seorang laki-laki yang bertanya pada Rosulullah SAW.tentang hakikat kebaikan, lalu turunlah ayat ini sebagai penjelasan nya.rosulullah memanggil orang itu dan membacakannya
. PENJELASAN PENAFSIRAN
1.  لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan,
Ketika perpindahan qiblat dari al-Masjid al-Aqsha ke al-Masjid al-Haram, orang yahudi dan nashrani beranggapan bahwa kaum muslimin mempunyai kiblat yang kurang baik. Sementara kaum muslimin pun beranggapan bahwa kiblat yahudi ke barat, dan kiblat nashara ke timur, juga tidak akan mendapat kebajikan. Ayat ini sebagai penegasan bahwa kebaikan bukan ditentukan oleh arah kiblat. Arah kiblat hanya berfungsi sebagai kesatuan arah, bukan prinsip ibadah. Adapun pengertian al-Birr secara tafsirnya pernah dipertanyakan oleh النَّوَّاسِ بْنِ سِمْعَانَ الْأَنْصَارِيِّ  dia mengatakan:سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْبِرِّ وَالْإِثْمِ فَقَالَ الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي صَدْرِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ saya bertanya pada Rasul tentang arti al-Bir dan al-Itsm. Rasul SAW bersabda: bahwa al-Birr adalah budi pekerti yang baik. Sedangkan al-Itsm ialah apa yang terbetik di hatimu, dan kamu sendiri tidak senanag tatkala manusia mengetahuinya. Hr. Muslim.
Dengan demikian hakikat kebaikan bukan terletak pada arah ke mana menghadap, bukan ditentukan oleh kemana berkiblat.

2. وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آَمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَakan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab2, nabi-nabi
Iman merupakan asas yang mendasar dalam kebaikan. Tidak termasuk kebaikan yang sempurna tanpa didasari iman. Rukun iman pada ayat ini disebut iman pada Allah, hari akhir, mala`ikat dan kitab serta para nabi. Dalam hadits diterangkan lebih rinci bahwa rukun iman itu adalah enam. Rasul SAW bersabda: أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَبِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ iman adalah beriman pada Allah, mala`ikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, pada hari akhir dan pada taqdir baik dan buruknya. Hr. Ahmad. Dengan demikian kepercayaan seratus prosen hanyalah kepada yang enam yang disebutkan dalam hadits ini. Tidak ada yang mesti dipercayai sepenuhnya selain pada apa yang tersirat dan tersurat pada rukun iman tersebut. Inilah perinsip pertama dan utama untuk mencapai derajat kebaikan. Itulah sebabnya ulama aqidah memberikan definsi iman dengan التَّصْدِيْق بِمَا جَاء بهِ النَّبِي صلى الله عليه وسلم membenarkan apa yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW, yang diucapkan oleh lisan, diyakini dalam hati serta diwujudkan dalam amal perbuatan.

3. وَآَتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya,
Dasar kebaikan yang kedua adalah menjalin hubungan baik dengan sesama manusia dengan cara menysihkan harta untuk kepentingan kerabat, anak yatim, orng miskin, anak terlantar, yang meminta dan memerdekakan hamba sahaya. Infaq harta merupakan dasar kebajikan yang kedua setelah beriman. Jika iman sangat erat kaitannya dengan kesehatan spiritual dan ritual, maka membantu sesama sebagai manifestasi kebaikan yang bersifat sosial. Dalam ayat lain ditandaskan: لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.Qs.3:92
Berdasar ayat ini, sarat meraih kebajikan yang sempurna adalah menafqahkan harta yang sangat dicintai. Namun bukan berarti infaq dengan harta yang kurang dicintai itu tidak bernilai. Apa pun yang dinafqahkan asalkan dilakukan secara ikhlash akan tetap mendapat pahala dari Allah SWT sebagaimana ditandaskan pada pengunci ayatnya وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ.
Disamping itu, nilai infaq juga dipengaruhi oleh sasarannya kepada siapa dan untuik apa disalurkan. Semakin banyak manfaat yang diinfaqkan akan semakin besar pahalanya. Rasul SAW bersabda: مَنْ أَنْفَقَ نَفَقَةً فَاضِلَةً فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبِسَبْعِ مِائَةٍ وَمَنْ أَنْفَقَ عَلَى نَفْسِهِ أَوْ عَلَى أَهْلِهِ أَوْ عَادَ مَرِيضًا أَوْ مَازَ أَذًى عَنْ طَرِيقٍ فَهِيَ حَسَنَةٌ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا Barangsiapa yang menginfakan harta di jalan Allah, nilainya tujuh rastus kali lipat. Barang siapa yang mengeluarkan nafaqah untuk dirinya, atau keluarganya, atau menengok orang sakit, atau untuk menyingkirkan kendala dari jalan, maka termasuk kebaikan yang nilainya sepuluh kali lipat. Hr. Ahmad, al-Bayhaqi.[7] Derajat infaq ditinjau dari sasarannya dapat digambarkan berikut:

4. وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآَتَى الزَّكَاةَ mendirikan shalat, dan menunaikan zakat;
Dasar kebajikan ketiga adalah menegakkan shalat dan menunaikan zakat. Shalat dan zakat tidak terpisahkan. Dalam berbagai ayat bila ada perintah shalat selalu dirangkaikan dengan perintah zakat. Dalam kalimat sebelumnya dikemukakan bahwa dasar kebajikan adalah memberikan sebagian harta untuk kepentingan social seperti anak yatim, kerabat, ibn sabil, memerdekakan hamba dan miskin. Kemudian pada ayat ini ditegaskan kewajiban berzakat. Tegasnya orang yang hanya memenuhi kewajiban berzakat yang difardlukan belum termasuk dermawan bila belum berinfaq melebihi zakat. Seorang mu`min, baru mencapai kebajikan yang sempurna bila telah mengeluarkan zakat yang wajib, disertai infaq tambahan yang bersifat tathawwu’.

5. وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji,
Dasar kebajikan keempat adalah memenuhi janji. Bila pada ayat seblumnya dikemukakan perinsip aqidah yaitu keimanan, kemudian prinsip syari’ah yaitu shalat dan zakat, serta ptinsip mu’amalah yang menjalin hubungan baik sesama manusia, maka ayat ini berkaitan dengan prinsip akhlaq yaitu memenuhi janji. Memenuhi janji juga merupakan prinsip utama yang tidak terpisahkan dengan keimanan. Anas bin Malik menerangkan bahwa dalam salah satu khuthbah Rasul AW bersabda: لَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ وَلَا دِينَ لِمَنْ لَا عَهْدَ لَهُ tidak ada iman tanpa ada kejujuran, tidak ada islam tanpa menepati janjinya. Hr. Ahmad, al-Baihaqi. Janji merupakan hutang yang mesti dipenuhi, dan akan dimintai pertangungan jawab di akhirat kelak. Allah SWT berfirman: وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا  penuhilah jani. Sesungguhnya janji itu akan dimintai tanggung jawabnya di akhirat kelak.
6. وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan.
Dasar kebajikan kelima adalah shabar menghadapi berbagai bencana sepertio pada penderitaan, kesempitan, kesusahan dan peperangan. Jika prinsip kebajikan keempat akhlaq yang hubungannya dengan sesama manusia, maka pada prinsip ini akhlaq yang ada hubungannya dengan diri sendiri yaitu shabar. Shabar pada dasarnya adalah pengendalian diri tatkala menghadapi sesuatu yang kurang menyenangkan.


7. أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ  Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa
Pengunci ayat ini sebagai penegas bahwa orang yang meemunhi dasar kebaikan; baik dalam kaitan keimanan seperti iman kepada yang enam, dalam kaitan dengan social seperti menjalin hubungan baik pada sesama manusia dan membantu yang butuh, berkaitan dengan ibadah seperti shalat dan zakat, kaitan dengan akhlak sesama seperti memenuhi janji, dan akhlaq pada diri sndiri seperti shabar dalam mengatasi berbagai kesusahan, adalah termasuk keriteria mu`min yang benar dan bertaqwa.

Yang dimaksud dengan kebaikan pada surah Al-baqarah Ayat 177 ini adalah beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan senantiasa mewujudkan keimanannya di dalam kehidupan sehari-hari. Para ulama’ mengatakan bahwa ayat ini tergolong ayat yang paling agung dari pokok ajaran-ajaran Islam, karena ayat ini berisi enam belas kaidah mendasar.
Contoh-contoh dari berbuat kebajikan
 tersebut antara lain sebagai berikut:
1.      Mendirikan shalat dan menjalin silaturrahim kepada kerabat dan tidak memutuskannya.
2.      Memberi harta yang dicintainya kepada karib kerabat yang membutuhkannya.
3.      Memberikan bantuan kepada anak yatim.
4.      Memberikan harta kepada musafir yang membutuhkan.
5.      Memberi harta kepada orang-orang yang terpaksa meminta-minta.
6.      Memberikan harta untuk memerdekakan hamba sahaya.
Menepati janji bagi mereka yang mengadakan perjanjian.


Sifat ulul albab berikutnya adalah sur’atul istijabah, yaitu dia selalu bersegera bila diajak kepada kebenaran. Cepat merespon kebenaran. Mengikuti dan mengamalkannya. Dia senang kepada nasehat dan tidak mengabaikannya. Oleh karena itu, kita harusnya mempunyai sifat sur’atul istijabah untuk kebaikan. Semampu kita, semaksimal mungkin. Lagipula, pada hakikatnya, kita lah yang membutuhkan untuk berbuat baik kepada diri sendiri ataupun orang lain. Kita beriman, itu untuk diri kita sendiri supaya selamat dari adzab Allah. Kita berbuat baik kepada orang lain sebenarnya itu juga berarti berbuat baik untuk diri kita sendiri.

2-      Selain itu, ulul albab berharap agar Allah mengumpulkannya dengan orang-orang yang diridhai oleh-Nya sampai saat mereka menuju pada kematian sekalipun. Orang-orang yang baik, yang diridhai oleh Allah akan meninggal dalam keadaan baik pula: husnul khotimah. Maka, ulul albab sangat mengharapkan meninggal dengan cara yang sama seperti mereka.

3-      Ada yang berpendapat bahwa munadi lil iiman atau orang yang mengajak kepada keimanan itu adalah Rasulullah saw. . Tetapi bila dilihat dari keumuman lafal, maka ulama atau orang yang mengajak kepada kebenaran sesuai perintah Allah dan Rasulullah juga termasuk dalam kata munadi ini.

4-      Kalimat وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ  (dan matikanlah kami bersama orang-orang yang baik) diambil kesimpulan bahwa sebenarnya Allah menghasung orang-orang beriman agar selalu mencari komunitas yang baik. Yang mendukung iman mereka. Dimulai dari kita membentuk komunitas paling kecil yaitu keluarga. Bila ingin membentuk keluarga yang baik, maka kita harus berusaha mencari anggota yang baik pula. Lalu mencari lingkungan hidup yang mendukung din kita.

5-      Orang yang bertakwa itu bukannya orang yang suci dari dosa atau tak pernah melakukan kesalahan apapun. Yang membuat berbeda adalah orang yang bertakwa bila melakukan dosa dan kesalahan, dia akan segera kembali kepada Allah. Dia akan segera meminta ampun dengan mengatakan: Rabbana faghfir lana dzunubana wa kaffir ‘anna sayyi`atina. Wahai Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami, hapuslah kejelekan-kejelekan kami.

6-      Mengapa di sebutkan 2 hal yang sama maknanya: ampunilah dosa-dosa kami dan hapuslah kejelekan-kejelekan kami? Apa bedanya? Perbedaannya adalah: ampunilah dosa-dosa kami berarti memohon agar tidak diberi hukuman. Sedangkan hapuslah kejelekan-kejelekan kami berarti meminta agar bekas dosa-dosa itu dihilangkan.

7-      Doa adalah silahul mu`min (senjatanya orang beriman) dan mukhkhul ibadah (intinya ibadah). Oleh karena itu, jangan sekali-kali kita meremehkan atau menyepelekan doa. Sangat lebih baik bila kita menghafalkan doa-doa yang ma`tsur (ada riwayatnya, dari Al-Qur`an atau hadits).



Dalam ayat ini Allah swt mengabarkan bahwa Dia akan senantiasa memberi petunjuk kepada orang yang mengikuti jalan-Nya menuju jalan keselamatan. Untuk itu, Allah mengeluarkan hamba-hamba-Nya yang mukmin dari kegelapan, kekufuran dan keraguan kepada cahaya haq yang jelas, gamblang, mudah dan bercahaya. Penolong orang kafir adalah syetan, syetanlah yang menghiasi mereka dengan kebodohan dan kesesatan. Syetan mengeluarkan mereka dan menyimpangkan mereka dari perkara yang hak kepada kekufuran dan kebohongan.
Allah membagi manusia menjadi dua golongan; golongan yang beriman kepada-Nya dan tidak mensekutukan-Nya sedikitpun, aqidah mereka bersih dari noda-noda kesyirikan dan mengkufuri thaghut, golongan kedua adalah adalah orang yang beriman kepada thaghut, mereka menjadikan Thaghut sebagai wali dan pelindung, sehingga Allah menyesatkan mereka dan mengharamkan kebahagiaan.
Maka orang yang beriman akan ditambahkan petunjuk dan dimudahkan oleh Allah swt untuk menerima ajaran-ajaran Islam, keyakinan islam yang ada dalam hati memudahkan dia menerima setiap kebenaran dan imannya bertambah setiap harinya, sementara orang yang lebih memilih kekafiran, maka hatinya akan tertutup untuk menerima kebenaran dan sebagai balasannya ia akan terus dalam keragu-raguan dan kesesatan setiap harinya.
Ayat ini juga menunjukkan bahwa jalan kesesatan itu bermacam-macam dan jalan kebenaran hanya ada satu, yang bisa diketahui dari kata ad-dhulumaat yang berbentuk jamak/plural dan kata an-nur yang berbentuk sendiri, hal ini juga disebutkan oleh Allah swt dalam surat Al-An’am: 153: “Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertaqwa”.(Dur Mantsur fit Tafsir bil Ma’tsur oleh Jalaluddin As Suyuthi: 3: 202, Taisiru Karimi Ar-Rahman Fi Tafsiri Kallamil mannan, Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di: 188)
Hadits
Dari Abu Hurairah menuturkan, Rasulullah saw. bersabda: “Allah berfirman; Siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan perang kepadanya, dan hamba-Ku tidak bisa mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada yang telah Aku wajibkan, jika hamba-Ku terus menerus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan sunnah, maka Aku mencintai dia, jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya yang ia jadikan untuk mendengar, dan pandangannya yang ia jadikan untuk memandang, dan tangannya yang ia jadikan untuk memukul, dan kakinya yang dijadikannya untuk berjalan, jikalau ia meminta-Ku, pasti Kuberi, dan jika meminta perlindungan kepada-Ku, pasti Ku-lindungi.” (HR Bukhari no 6021)


Ayat 162:
1.      Mengapa Allah bertanya apakah sama antara orang yang mengikuti syari’at Allah dan yang tidak? Padahal jawabannya adalah jelas sekali bahwa tidak sama. Apa hikmahnya? Salah satu hikmahnya –wallahu `alam- adalah supaya kita semakin sadar dan semakin bisa membuat kita berpikir. Bila sudah tahu jawabannya adalah tidak sama, maka tak ada yang harus dilakukan selain menjadi seorang hamba yang selalu tunduk pada Allah supaya tak kembali kepada-Nya dalam keadaan dimurkai oleh-Nya.

2.    Hidup adalah pilihan. Di dalam hidup, Allah sudah memberi akal dan petunjuk syariat kepada kita. Mana jalan yang membuat-Nya ridha dan mana yang membuat-Nya murka. Maka sekarang tinggal kita yang menjalani hidup ini. Apakah kita memilih untuk mendapatkan ridha Allah dengan menjalankan segala yang meridhakan-Nya atau mendapatkan kemarahan-Nya dengan tidak mau mentaati-Nya.

3.    Salah satu cara agar kita istiqomah dalam keridhoaan Allah adalah dengan memilih teman yang shalih, yang bisa membantu kita untuk semakin dekat dengan Allah, sering mendatangi majlis ta’lim dan berusaha mencari lingkungan yang baik (dilihat dari kacamata syari’at). Oleh karena itu perlu disyiarkan konsep amar ma’ruf nahi mungkar. Supaya kebaikan itu tidak hanya terbatas pada pribadi, melainkanmenyebar menjadi kebaikan dan kesholehan masyarakat umum. Sebab bila yang baik hanya diri kita saja dan lingkungan kita tidak kita jaga dengan amar ma’ruf nahi mungkar, maka tidak akan ada gunanya. Lambat laun pasti akan terseret juga. Maka dari itu, jangan pernah merasa takut atau bosan untuk menegakkan amar ma`ruf nahi munkar. Apapun resikonya, pasti Allah akan menolong kita. Tentu saja dengan cara-cara yang sesuai dengan syari’at. Tidak dengan kekerasan.

Ayat 163:
1.      Penggunan kata “دَرَجَاتٌ” dalam ayat ini, walaupun dimaksudkan untuk menunjukkan tingkakan posisi baik bagi orang mukmin maupun kafir, namun kata tersebut seakan menunjukkan bahwa hanya orang mukminlah mereka yang berhak mendapatkan tingkatan-tingkatan derajat disisi Allah. Karena dalam istilah al-Qur`an kata darajat adalah untuk menunjukkan tingkatan orang baik. Sedangkan untuk orang jahat, disebut dengan kata darakat (QS. 4;145).

2.    Adanya tingkatan derajat kelak di akherat, menunjukkan keadilan Allah subhanahuwata`ala terhadap hambanya. Karena Allah Maha Melihat segala yang dilakukan oleh hamba-Nya. Tak ada yang luput dari pengawasan Allah. Karena itulah sebabnya mengapa surga dan neraka itu bertingkat-tingkat.

3.    Dengan menyakini bahwa Allah maha melihat terhadap apa yang dikerjakan seorang hamba, maka sudah seharusnya manusia selalu hati-hati terhadapa apa hendak ia lakukan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar