TASAMUH (TOLERANSI)
Makalah ini disusun guna memenuhi
tugas mata kuliah Studi Tafsir Tarbawi yang diampu oleh Dosen Abdullah Maksum,
Alh. M.Pd. I.
Disusun oleh :
MASRUR KHOLID
2015010198
FAKULTAS ILMU
TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS SAINS AL QUR’AN
JAWA TENGAH DI
WONOSOBO
TAHUN 2017
TASAMUH (TOLERANSI)
Norma agama mengajarkan kepada manusia untuk
berbuat kebajikan kepada sesama karena manusia adalah makhluk ciptaan Allah SWT
yang memiliki harkat dan martabat yang sama, serta memiliki akaldan budi mulia.
Dengan akal dan budinya,manusia wajib menjalin hubungan yang baik dengan
lingkungan sekitarnya dan bersikap saling menghorati dan saling mengasihi
sesamanya. Setiap manusia dikaruniai hak-hak asasi yang harus dihormati oleh orang
lain sehinga toleransi berfungsi sebagai pengikat persatuan dan kerukunan.
Tasamuh adalah sikap tenggang rasa terhadap
sesama dalam masyarakat dimana kita berada.Tasamuh yang juga seriang disebut
toleransi dalam ajaran Islam adalah toleransi sosial kemasyarakatan, bukan
toleransi di bidang aqidah keimanan. Dalam bidang aqidah keimanan, seorang
muslim meyakini bahwa Islam satu-satunya agama yang benar yang diridhoi Allah
SWT.
A.
DASAR – DASAR SIKAP TASAMUH
1.
Qs. Al-Kafirun
Ayat 1-6
قُلۡ
يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡكَٰفِرُونَ ١ لَآ
أَعۡبُدُ مَا تَعۡبُدُونَ ٢ وَلَآ
أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ ٣
وَلَآ أَنَا۠ عَابِدٞ مَّا عَبَدتُّمۡ ٤ وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ
أَعۡبُدُ ٥ لَكُمۡ دِينُكُمۡ وَلِيَ دِينِ
٦
1. Katakanlah: "Hai orang-orang kafir
2. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah
3. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah
4. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah
5. dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku
sembah
6. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku"
Ayat ini turun saat orang-orang kafir Quraisy
mencari-cari cara untuk menghentikan dakwah Rasulullah saw.. Setelah mereka
gagal membujuk Rasulullah saw. dengan tahta, wanita, dan harta, maka mereka pun
sekarang hendak membujuknya dengan berkompromi (bertoleransi) untuk saling
menyembah Tuhan satu dengan Tuhan yang lain. Artinya, kaum kafir Quraisy hendak
meminta Rasulullah untuk menyembah Tuhan mereka pada tahun tertentu dan mereka
akan menyembah Allah pada tahun lainnya (bergantian). Maka ayat ini menjawab
ajakan itu dengan menolaknya dengan tegas, bahwa toleransi yang seperti ini
tidaklah tepat.
Kesimpulan:
Islam tegas untuk hanya menyembah dan patuh
pada perintah Allah, tidak akan menyekutukannya dengan lainNya.
Islam tidak memaksa kaum lain untuk menyembah
Allah karena kewajiban umat Islam hanya menyampaikan dakwah, tidak untuk
memaksa masuk Islam.
2.
Qs. Yunus Ayat
40-41
وَمِنۡهُم
مَّن يُؤۡمِنُ بِهِۦ وَمِنۡهُم مَّن لَّا يُؤۡمِنُ بِهِۦۚ وَرَبُّكَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُفۡسِدِينَ
٤٠ وَإِن كَذَّبُوكَ فَقُل لِّي عَمَلِي وَلَكُمۡ عَمَلُكُمۡۖ أَنتُم بَرِيُٓٔونَ
مِمَّآ أَعۡمَلُ وَأَنَا۠ بَرِيٓءٞ مِّمَّا تَعۡمَلُونَ ٤١
40. Di antara mereka ada orang-orang yang beriman kepada Al Quran, dan
di antaranya ada (pula) orang-orang yang tidak beriman kepadanya. Tuhanmu lebih
mengetahui tentang orang-orang yang berbuat kerusakan
41. Jika mereka mendustakan kamu, maka katakanlah: "Bagiku
pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku
kerjakan dan akupun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan"
Ketika Nabi Muhammad SAW diutus dengan membawa
Al-Qur’an, orang-orang Quraisy ada yang beriman dan ada juga yang tidak
Allah SWT mengetahui orang-orang yang berbuat
kerusakan di bumi, yaitu mereka yang musyrik dan berbuat zalim serta aniaya.
Bentuk toleransi yang ada pada ayat ini adalah
jika mendapati orang-orang yang mendustakan agama Islam, maka umat Islam tidak
perlu marah, namun katakan kepadanya “Atamu amalmu dan atasku amalku karena
setiap amal akan dipertanggungjawabkan.”
3.
Qs. Al-Baqarah Ayat 256
لَآ
إِكۡرَاهَ فِي ٱلدِّينِۖ قَد تَّبَيَّنَ ٱلرُّشۡدُ مِنَ ٱلۡغَيِّۚ فَمَن يَكۡفُرۡ
بِٱلطَّٰغُوتِ وَيُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱسۡتَمۡسَكَ بِٱلۡعُرۡوَةِ ٱلۡوُثۡقَىٰ
لَا ٱنفِصَامَ لَهَاۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ٢٥٦
256. Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya
telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa
yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah
berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah
Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui
Ayat ini berkenaan dengan Hushain dari golongan
Anshar, suku Bani Salim bin ‘Auf yang mempunyai dua orang anak yang beragama
Nasrani, sedang ia sendiri seorang Muslim. Ia bertanya kepada Nabi Saw:
“Bolehkah saya paksa kedua anak itu, karena mereka tidak taat kepadaku, dan
tetap ingin beragama Nasrani?.” Allah menjelaskan jawabannya dengan ayat
tersebut bahwa tidak ada paksaan dalam Islam.
Kesimpulan
Tidak dibenarkan adanya paksaan. Kewajiban kita
hanyalah menyampaikan agama Allah kepada manusia dengan cara yang baik dan
penuh kebijaksanaan serta dengan nasihat-nasihat yang wajar sehingga mereka
masuk agama Islam dengan kesadaran dan kemauan mereka sendiri.
Apabila kita sudah menyampaikan kepada mereka
dengan cara yang demikian tetapi mereka tidak juga mau beriman itu bukanlah
urusan kita melainkan urusan Allah swt..
Telah jelas perbedaan antara kebenaran dan
kebatilan. Maka barangsiapa yang mengikuti kebenaran, atasnya kebaikan. Namun
jika mengikuti hawa nafsunya, maka atasnya penyesalan di kemudian hari.
4.
Qs. Yunus Ayat 99
وَلَوۡ
شَآءَ رَبُّكَ لَأٓمَنَ مَن فِي ٱلۡأَرۡضِ كُلُّهُمۡ جَمِيعًاۚ أَفَأَنتَ
تُكۡرِهُ ٱلنَّاسَ حَتَّىٰ يَكُونُواْ مُؤۡمِنِينَ ٩٩
99. Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang
di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya
mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya
Ayat ini menerangkan bahwa jika Allah
berkehendak agar seluruh manusia beriman kepada-Nya, maka hal ini akan
terlaksana, karena untuk yang melakukan yang demikian adalah mudah bagi-Nya.
Sesungguhnya, andaikan Tuhanmu menghendaki untuk tidak menciptakan manusia
dalam keadaan siap menurut fitrahnya untuk melakukan kebaikan dan keburukan,
dan untuk beriman atau kafir dan dengan pilihannya sendiri dia lebih suka
kepada salah satu diantara perkara-perkara yang mungkin dilakukan, dengan
meninggalkan kebalikannya melalui kehendak dan kemauannya sendiri, tentu semua
itu Allah lakukan. Namun, kebijaksanaan Allah tetap untuk menciptakan manusia
sedemikian rupa, sehingga manusia mempertimbangkan sendiri dengan pilihannya,
apakah akan beriman atau kafir, sehingga ada sebagian manusia yang beriman dan
adapula yang kafir.
B.
HADITS TENTANG TASAMUH
1.
Hadits riwayat
Al-Bukhari
اَحَبُّ الدِّ
يْنِ إِلَى اللّهِ العَنِيْفِيَةُ لسَّمْعَةُ
“Agama yang paling
dicintai disisi Allah adalah agama yang lurus dan toleran”
2.
Hadits riwayat
Muslim
هَلَكَ المُتَنَطِّعُوْنَ قَالَهَا ثَلَثَ
“Kehancuran bagi
mereka yang melampaui batas-batas diulangi sebanyak tiga kali”
3.
Hadits riwayat
Al-Bukhari
رَحِمَ اللّهُ رَجُلَّ سَمْعًا إِذَابَاعَ
وَإِذَااشْتَرَى وَإِذَا اقْتَضَى
“Allah merahmati orang yang memudahkan ketika
menjual dan ketika membeli, dan ketika memutuskan perkara”.
4.
Hadits riwayat Al-Bukhari
“Hentikan, kerjakan apa yang sanggup kalian kerjakan, dan demi Allah
sesungguhnya Allah tidak bosan hingga kalian bosan, dan Agama yang paling
dicintai disisi-Nya adalah yang dilaksanakan oleh pemeluknya secara konsisten”
5.
Hadits riwayat
Muslim
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْ مِنٍ
كُرْبَةًمِنْ كُرَبِ الدُّنْيَانَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ
الْقِيَامَةِ.وَمَنْ يَسَّرَعَلَى مُعْسِرٍيَسَّرَاللهُ عَلَيْهِ فِى
الدُّنْيَاوَالْاَخِرَةِ.وَمَنْ سَتَرَمُسْلِمًاسَتَرَاللهُ فِى
الدُّنْيَاوَالْاَخِرَةِوَاللهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِمَامَاكَانَ الْعَبْدُعَوْنِ
اَخِيْهِ
“Barangsiapa yang berusaha
melapangkan suatu kesusahan kepada seorang mukmin dari kesusahan-kesusahan
dunia, maka Allah akan melapangkannya dari suatu kesusahan di hari kiamat dan
barang siapa yang berusaha memberi kemudahan bagi orang yang kesusahan, maka
Allah akan memberi kemudahan baginya di dunia dan akhirat. Barang siapa yang
berusaha menutupi kejelekan orang Islam, Allah akan menutupi kejelekannya di
dunia dan akhirat. Allah selalu membantu hamba-Nya selama hamba itu menolong
sesame saudaranya.”
KESIMPULAN
Tasamuh adalah sikap tenggang rasa terhadap
sesama dalam masyarakat dimana kita berada.Tasamuh yang juga seriang disebut
toleransi dalam ajaran Islam adalah toleransi sosial kemasyarakatan, bukan
toleransi di bidang aqidah keimanan. Dalam bidang aqidah keimanan, seorang
muslim meyakini bahwa Islam satu-satunya agama yang benar yang diridhoi Allah
SWT.
Sikap yang menganggap bahwa semua agama adalah
benar tidak sesuai dengan keimanan seorang muslim dan tidak relevan dengan
pemikiran yang logis, meskipun dalam pergaulan kemasyarakatan Islam sangat
menekankan prinsip tasamuh. Setiap muslim diperintahkan untuk bersikap tasamuh
terhadap orang lain yang berbeda agama atau berbeda pendirian.Perbedaan
pendapat antara individu yang satu dengan individu yang lainnya dalam
masyarakat sudah menjadi ketentuan Allah yang diberikan kepada setiap individu
manusia.
Dalam sejarah kehidupan Rasulullah s.a.w,
tasamuh telah ditampakan pada masyarakat Madinah. Pada saat itu Nabi dan kaum
muslimin hidup berdampingan dengan masyarakat Madinah yang beragama
lain.Tasamuh atau sikap tenggan rasa dapat memelihara kerukunan hidup dan
memelihara kerja sama yang baik dalam kehidupan bermasyarakat. Tasamuh
berfungsi sebagai penertib, pengaman dan pendamai dalam komunikasi dan
interaksi sosial.
Contoh perilaku
Tasamuh
1.
Mengakui
persamaan derajat, persamaan hak dan persamaan kewajiban antara sesama manusia
2.
Mengembangkan
sikap tenggang rasa
Sebagai makhluk
sosial kita harus mengembangan sikap tenggang rasa dengan sesama manusia. Tidak
diperbolehkan saling berburuk sangka, saling menjelekan dan lain sebagainya.
3.
Tidak
semena-mena terhadap orang lain
Sebagai makhluk
sosial yang hidup ditengah tengah masyarakat, kita juga tidak dibenarkan
berbuat semena-mena terhadap orang lain sekalipun kita dapat melakukannya.
4.
Gemar
Melakukan kegiatan kemanusiaan
Barang siapa
yang melapangkan kehidupan dunia orang mukim, maka Allah akan melapangkan
kehidupan orang itu di hari kiamat. Dan barang siapa yang meringankan kesusahan
orang yang dalam kesusahan, Allah akan menghilangkan kesusahan orang itu di
dunia dan akhirat. (HR Muslim)
Islam mengajarkan agar para pemeluknya selalu
bersatu dan tidak bercerai berai, selalu hidup dalam damai dan penuh kasih
sayang, bila terjadi perselisihan dan perbedaan pendapat segeralah selesaikan
dengan sebaik-biknya. Bahkan terhadap pemeluk agama lainpun. Islam
memerintahkan umatnya untuk saling menghormati dan menghargai satu sama lain.
Ada beberapa prilaku yang mencerminkan sikap tasamuh yaitu :
Ø
Menghormati
pelaksanaan ibadah pemeluk agama lain.
Ø
Tidak
mencela atau memaki sesembahan pemeluk agama lain.
Ø
Saling
membantu dalam bidang kemasyarakatan.
Ø
·
Lapang dada dalam menerima setiap perbedaan, dan tidak memaksaan kehendaknya
sendiri.
Ø
Selalu
menjaga ketenangan dan ketentraman di masyarakat, dan selalu menciptakan
hubungan yang baik dengan sesama warga masyarakat.
Ø
Mengakui
persamaan derajat, persamaan hak dan persamaan kewajiban antara sesama manusia.
Ø
Mengembangkan
sikap tenggang rasa. Sebagai makhluk sosial kita harus mengembangan sikap tenggang rasa dengan
sesama manusia. Tidak diperbolehkan saling berburuk sangka, saling menjelekan
dan lain sebagainya.
Ø
Tidak
semena-mena terhadap orang lain Sebagai makhluk sosial yang hidup ditengah
tengah masyarakat, kita juga tidak dibenarkan berbuat semena-mena terhadap
orang lain sekalipun kita dapat melakukannya.
Ø Gemar Melakukan kegiatan kemanusiaan. Barang
siapa yang melapangkan kehidupan dunia orang mukim, maka Allah akan melapangkan
kehidupan orang itu di hari kiamat. Dan barang siapa yang meringankan kesusahan
orang yang dalam kesusahan, Allah akan menghilangkan kesusahan orang itu di
dunia dan akhirat. (HR Muslim)
Fungsi tasamuh dalam kehidupan bermasyarakat:
Ø
Mendorong
manusia agar saling tolong-menolong karena pada hakikatnya manusia tidak dapat
hidup sendiri
Ø Menumbuhkan sifat jujur dalam masyarakat
Ø Menumbuhkan sifat hormat-menghormati
Ø Menjauhkan sifat sombong karena sombong adalah
awal kerusakan
Ø Mempererat persatuan dan kesatuan sesama umat
manusia
Ø Menjaga norma-norma agama,social dan adat
istiadat yang berlaku
Norma agama mengajarkan kepada manusia untuk
berbuat kebajikan kepada sesama karena manusia adalah makhluk ciptaan Allah SWT
yang memiliki harkat dan martabat yang sama, serta memiliki akaldan budi mulia.
Dengan akal dan budinya,manusia wajib menjalin hubungan yang baik dengan
lingkungan sekitarnya dan bersikap saling menghorati dan saling mengasihi
sesamanya. Setiap manusia dikaruniai hak-hak asasi yang harus dihormati oleh
orang lain sehinga toleransi berfungsi sebagai pengikat persatuan dan
kerukunan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar